Sejak tiba di Malaysia saya sering mendengar kampung Aceh Yan kedah. Namun baru kali ini saya berkesempatan berkunjung ke sana. Kampung Yan Aceh merupakan salah satu daerah yang terletak di negeri Kedah Darul Aman, Malaysia. Sebutan negeri di Malaysia sama dengan Provinsi di Indonesia. Secara historis kampung Aceh Yan dibentuk oleh pendatang dari Aceh yang hijrah pada akhir abad ke 19 atau sekitar 1870an. Kampung Aceh Yan dibentuk oleh Tengku Muhammad Arsyad seorang ulama yang berasal dari Ie Leubeu Pidie, Aceh.

Ada beberapa faktor orang-orang Aceh hijrah ke sana namun faktor paling penting ialah peristiwa peperangan Belanda ke atas Kerajaan Aceh pada tahun 1873. Sejak tahun 1873 Belanda mengumumkan perang dengan Aceh dan berhasil merebut istana kerajaan di Kutaraja pada tahun 1974. Sejak saat itu perang gerilya meluas ke seluruh wilayah Aceh yang dipimpin oleh kalangan Ulama. Perang di Aceh berlangsung sangat lama sehingga banyak ulama yang meninggal. Beberapa dari mereka termasuk Tengku Irsyad bermusyawarah dan memutuskan untuk hijrah ke Semenanjung Malaysia meneruskan perjuangan.

Setibanya di sana Tengku Muhammad Irsyad bersama orang-orang Aceh lainnya memugar tanah dan membuka kebun lada, pala, cengkeh dan karet. Sebahagian hasil dari perkebunan ini dibelikan senjata dan dikirimkan ke Aceh membantu perang melawan Belanda. Bahkan, mereka mendirikan sebuah pergerakan yang dinamai Gerakan “Breuh saboh reugam” untuk membantu perang Aceh. Sebahagian hasil perkebunan lainnya digunakan untuk membangun pondok madrasah dan pondok rangkang pengajian anak-anak dikampung dan masyarakat setempat. Tengku Al-Irsyad dikenal dengan gelar tengku di Balee. Karena ketinggian ilmunya maka banyak murid dari seluruh Nusantara yang datang untuk menimba ilmu di sana sehingga berkembang pesat.

Baca: Gampong Pande Pusat perindustrian Kerajaan Aceh

Salah satu murid beliau dari Aceh ialah Tengku Haji Muhammad Krueng Kale, Tengku Hasballah Indrapuri. Selain itu ulama lainnya yang datang ke kampung Aceh Yan ialah Syeikh Omar bin Auf atau dikenal dengan nama Tengku Chik Lam u, Tengku Haji Musa atau Tengku Lam Suro, Tengku Abdul Jalil dari Lamno dan tengku chik  Lam Bhuk. Mereka Bersama-sama membangun kampung Aceh Yan Kedah. Setelah lama menetap di kampung Aceh Yan Tengku Muhammad Arsyad pulang ke Aceh dan meninggal di Ie Leubee Pidie. Beliau mewakafkan semua harta miliknya untuk masyarakat Kampung Aceh Yan.

Sementara itu Syeikh Omar bin Auf yang juga salah seorang ulama yang menetap di sana meninggalkan beberapa orang anak. Mereka ialah Ahmad Hasballah (Abu Indra Puri) Mohd Dahan (Abu di Yan), Abu Lam U dan Abdul Hamid Tengku Aneuk Batee. Kini, Anak cucu mereka yang mengelola serta menjaga kebudayaan Aceh di kampung Aceh Yan, Kedah, Malaysia. 20 Januari. Salam hangat dari Pulau Pinang, Malaysia.

 

[Total: 3    Average: 3.3/5]