Pertunjukan Adu Gajah di Aceh: Sebuah Catatan dari Penjelajah Inggris

Catatan mengenai Kerajaan Aceh sangat banyak ditulis oleh orang Eropa yang pernah singgah maupun berdagang di Aceh. Mereka kebanyakan menceritakan tentang Aceh hanya dari Apa yang mereka lihat sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam penulisan Sejarah. Kebanyakan dari para penjelajah Eropa tidak paham dengan Islam dan kebudayaan Aceh sehingga mereka menghakimi secara sepihak. Misalnya Agustin de Baullieu seorang pedagang dari Prancis yang menulis sisi buruk dari sistem pemerintahan Aceh masa Sultan Iskandar Muda yang di anggapnya sangat kejam. Padahal Sultan hanya menjalankan Syariat Islam di Aceh.

Namun ada juga beberapa catatan penjelajah Eropa yang sedikit lebih paham dengan kebudayaan Aceh yang dikenal masyarakat yang religius. Mereka antara lain Peter Mundy, ia merupakan seorang penjelajah yang berasal dari Inggris. Peter Mundy mengunjungi Aceh pada pada 22 April- 2 Mei 1637 M. Kunjungan penjelajah ini hanya berselang beberapa bulan setelah mangkatnya Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam. Ada banyak hal yang ditulisnya dalam buku catatannya walaupun hanya sebentar menetap di Aceh. Kedatangannya bersamaan dengan hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1046 Hijriah atau bertepatan dengan 26 April 1637 Masihi. Perayaan Idul Adha menurut rekod Mundy sangat penting dalam kalender Aceh walaupun masih ada perayaan Idul Fitri dan Maulid Nabi yang juga di anggap penting di sana.

Perayaan hari raya Idul Adha dihadiri orang-orang penting dalam kerajaan Aceh. Sejak pagi ribuan orang sudah berdatangan ke sebuah padang dekat dengan masjid yang sudah dipersiapkan. Berbagai bendera besar dan panji-panji negeri Aceh telah dipasang dipinggir jalan untuk menyambut kedatangan Sultan. Selanjutnya datanglah satu pasukan gajah dengan bangunan menara kecil dipunggungnya. Setiap menara dijaga oleh satu prajurit dengan sebuah tombak ditangannya.

Baca : Misteri Emas Pada Makam Raja-Raja Aceh (Makam Kandang XII)

Kemudian datang lagi sejumlah gajah dengan menara kecil dipunggungnya dalam empat baris. Setiap gajah telah ditutup dengan kain dari kepala hingga kaki mereka yang disangga dengan Bambu. Gajah tersebut hanya dapat dilihat kaki, mata, dan belalai. Setiap gajah masing-masing memiliki prajurit di atasnya yang dilengkapi dengan busur panah, anak panah, lembing dan perisai kecil.

Setelah itu datang sekelompok prajurit bersenjata tombak yang sangat panjang, masing-masing membawa bendera kecil. Selanjutnya datanglah kasim (Menteri kerajaan) dengan menggunakan kuda  tanpa pelana. Masing-masing memiliki pedang panjang bersarung emas di pundaknya. Di depan raja dibawakan payung-payung emas dan bendera dalam jumlah yang banyak. Kemudian baru datang Raja Sultan Iskandar Tsani yang duduk di atas seekor Gajah besar dan gagah yang dihias dengan hiasan mewah dan tubuhnya ditutupi dengan kain. Ia duduk di atas singgah sana  mewah di atasnya mempunyai kubah yang terbuat dari emas. Beberapa alat musik seperti genderang, trompet, dan gong dimainkan ketika raja keluar.

Parade tersebut sangat ramai dihadiri oleh orang Aceh yang ingin melaksanakan Shalat Idul Adha. Setelah raja lewat terdapat lagi pasukan pengawal yang dilengkapi dengan busur anak panah dan perisai kecil. Setelah melaksanakan Shalat Idul Adha Raja memberikan 500 ekor kerbau untuk dikurbankan. Pelaksanaan kurban langsung dipimpin oleh sultan dengan menyembelih kerbau pertama dan sisanya dilanjutkan oleh para petugasnya. Daging kurban tersebut dibagikan kepada rakyat.

Keesokan harinya 27 April 1637 Peter Mundy menghadiri acara pertunjukan adu gajah di lapangan yang sama. Ketika ia sampai, Sultan sudah duduk di Singgah sana yang tinggi atau panggung utama. Dalam jarak yang agak sedikit jauh, ada sekitar 150 ekor gajah besar berdiri dalam satu baris, kepala mereka menunduk dan membentuk arena lingkaran, sementara gajah yang lainnya bertarung di dalam arena. Gajah yang diadu akan segera berlari dan menyerbu lawannya, mereka saling menyerang dengan gading, menyeruduk, bergelut sehingga terkencing-kencing dalam pertarungan.  Ketika salah satu gajah telah kalah dan menyerah, pawang tidak sanggup memisahkan mereka sehingga diperlukan 200 orang untuk menarik gajah tersebut. Dalam satu hari  itu ada sekitar 10 hingga 11 pasang gajah di adu beberapa diantaranya tampil dengan luar biasa hingga  kedua gadingnya patah dan terluka. Terkadang salah satu dari gajah yang sedang di adu lari sehingga lawannya mengejar dan menyerang dari arah samping ataupun belakang.

Baca: Mengenal Sosok Ratu Aceh Tajul Alam Safiatuddin

Kerajaan Aceh dikenal mempunyai gajah yang sangat banyak, kabarnya Sultan Iskandar Tsani memiliki 1000 ekor Gajah. Ukuran gajah di Aceh sangat besar bahkan Peter Mundy tidak pernah melihat gajah di tempat lain yang sama besarnya dengan yang ada di Aceh. Ukuran Gajah di Aceh sampai 3.9 Meter tingginya. Itu merupakan gajah paling besar yang pernah dilihat Mundy. Selanjutnya Mundy menceritakan gajah merupakan salah satu hewan yang paling kuat dan sangat berguna di Aceh. Selain gajah ada juga kerbau dan biri-biri mundy menceritakan Sultan pernah memberikan hadiah seekor kerbau kepada kapten kapalnya bernama John Weddell semua anak buahnya tidak dapat merubuhkan kerbau tersebut sehingga mereka terpaksa mengikatnya dan menggulingnya hingga terbalik lalu menyembelihnya. Itulah sepenggal kisah perjalanan Peter Mundy yang telah diterbitkan di London pada tahun 1919. Semoga bermanfaat. Pulau Penang, 18 Januari 2018.

Sumber : The travel of Peter mundy in Europe and Asia 1608-1667 Vol III (disunting Richard C Temple 1919, London: Hakluyt Society Hlaman.121-131

[Total: 2    Average: 3/5]