Mengenal lebih dekat Sejarah Negeri Meulaboh (Pasir Karam)

Negeri Meulaboh sudah ada Sejak Sultan Saidil Mukammil (1588-1604 M). Negeri dipantai barat Aceh ini sudah dikenal dengan nama Pasir Karam. Selanjutnya pada tahun 1607-1630 Sultan Iskandar Muda kembali menambah pembangunan negeri tersebut dengan membangun perkebunan merica (Lada). Namun saat itu orang-orang di sana belum lah ramai jika dibandingkan dengan negeri Singkil dan Barus yang banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing untuk memuat kapur barus. Pada perkembangan selanjutnya, negeri Pasir Karam kembali dibangun oleh Sultan Jamalul Alam tahun 1733 dengan mendatangkan orang-orang dari Pidie dan Aceh Besar untuk membuka lebih banyak perkebunan lada.

negeri meulaboh
Monument Kupiah Meukeutop Negeri Meulaboh

Menurut Zauddin, (1961: 211) Perkembangan paling pesat negeri pasir karam dimulai sejak tahun 1805 M negeri Pasir Karam kedatangan orang-orang dari tanah Minang Kabau, Sumatera Barat. Saat itu mereka melarikan diri dari perang Paderi yang terjadi sejak tahun 1805-1836 M. Mereka datang membuka perkebunan lada baru di negeri Pasir Karam.

Sebuah riwayat menyebutkan “Datanglah ratusan orang dari Minangkabau ke Pasir Karam karena menghindari Perang Paderi”. Mereka ingin menetap dan membuka perkebunan lada di sana. Mereka tiba di Teluk Pasir Karam dan bersepakat di mana yang baik untuk berlabuh. Salah seorang kepala memilih satu tempat dan berkata “Disikolah kita berlaboh”. Kapal-kapal tersebut di labuhkanlah di Pasir Karam dan sejak saat itulah nama Pasir Karam berubah menjadi Meulaboh. Beberapa pendapat mengatakan riwayat ini harus dikaji kembali karena kata Meulaboh juga ada dalam Bahasa Aceh Misalnya Babah Meulaboh, Tanjong Meulaboh dan sebagainya. Namun untuk pengetahuan sejarah sementara saya kira sudah memadai.

Diantara kepala rombongan yang datang ke Meulaboh dikepalai oleh tiga orang Datuk. Mereka ialah Datuk Mahadum dari Rawa yang menetap di Merbau, Datuk Raja Agam dari Luha Agam, beliau menetap di Ranto Panjang, dan yang ketiga ialah Datok Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu yang menetap di Ujung Kala.

Perdagangan orang-orang Minang Kabau di Meulaboh semakin hari semakin ramai. Mereka pernah beberapa kali menghadap raja Aceh Sultan Mahmud Syah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Buyung yang memerintah tahun 1830-1839 M. Pada pertemuan pertama mereka bertamu dan memperkenalkan diri kepada sultan sekaligus membawa upeti berupa tiga bungkus emas kepada Sultan di Kuta Raja. Pada kesempatan itu, mereka bersepakat meminta kepada raja untuk memberikan batas bagi negeri Meulaboh. Seterusnya Sultan juga mengangkat Mertua Datuk Raja Alam Song Song menjadi ulee balang di sana. Mereka juga diwajibkan memberikan pajak kepada Sultan setiap tahunnya.

Baca: Gunongan Bagunan Peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam

Pada tahun selanjutnya mereka kembali menghadap raja di Kuta Raja untuk memberikan upeti dan meminta kepada Sultan untuk mengirimkan seorang wakil Sultan untuk memerintah dan  menerima upeti. Sultan Aceh saat itu yang ditabalkan Sultan Ali Iskandar Syah (1829-1841) mengabulkan permintaan mereka dan mengirimkan Teuku Chiek Purba Lela ke Aceh Barat.

Seterusnya karena negeri Meulaboh semakin ramai dan maju dengan datangnya para pedagang dari Inggris dan Arab. Mereka kembali meminta agar dikirimkan satu wakil untuk mengurus khusus masalah pelanggaran dan adat istiadat kerajaan. Sehingga sultan mengutus seorang Penghulu Sidik Lila Digahara ke Meulaboh. Selanjutnya Ulee Balang – Ulee Balang di sana meminta kepada Sultan Aceh untuk seorang ulama untuk mengurus masalah nikah, pasah, dan hukum Syariat. Permintaan itu pun dikabul sultan dengan mengirimkan Teuku Tjut Din yang bergelar “Almuktasimu binlah” menjadi Qadhi Sultan Aceh di negeri Meulaboh.

Dalam tahun 1841-1870 negeri Meulaboh dan tapak tuan semakin ramai kedatangan orang-orang dari Minangkabau (Sumatera barat). Mereka memilih berkebun lada di Aceh karena di padang saat itu telah dikuasai oleh pemerintah Belanda yang memonopoli lada dan membuat aturan kultur sel-sel. Kultur sel-sel ialah sebuah sistem di mana semua hasil perkebunan harus dijual kepada Belanda.

Karena majunya perkebunan di Meulaboh maka kapal-kapal Inggris telah ramai masuk untuk mengangkut hasil lada untuk dibawa ke bandar Pulau Penang. Saat itu pula negeri Meulaboh dibuat tata negara berbentuk federasi yang disebut Kaway XVI yang diketuai oleh Ulee Balang Kejruen Chik Ujong Kala. Wilayah melaboh dibagi kedalam beberapa federasi antara lain Meulaboh/Tanjung, Ujung Kala, Seunagan, Teuripa, Woyla, Peurembeu, Gunong Meuh, Kuala Meurebok, Ranto Panjang, Reudeub, Lango, Keunco, Mugo, Meuko, Tadu, Seuneu’am.  Wallahualam. Semoga bermanfaat. Salam hangat dari Pulau Pinang, Malaysia. 8 Januari 2018.

[Total: 3    Average: 3.7/5]