Abstrak

Salah satu kunci untuk memajukan suatu bangsa adalah pendidikan. Masa depan suatu  bangsa  sangat  memerlukan  kontribusi  anak  bangsa  yang  berkarakter kompetitif,  unggul, cerdas,  dan beriman,  mengingat  bahwa  semakin  tingginya persaingan  di  era  global.  Indonesia  memiliki  beberapa  masalah  dalam  dunia pendidikan, dimulai dari rendahnya gaji  guru hingga  angka putus sekolah yang tinggi, diakhiri dengan tidak masuknya sistem pendidikan Indonesia dalam daftar 20 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Islam sendiri dalam bidang pendidikan  pernah  menikmati  masa-masa  kegemilangannya  ketika  Dinasti Abbasiyah berkuasa. Kebijakan khalifah kelima yaitu Harun Ar-Rasyid yang saat itu  berkonsentrasi  meningkatkan  mutu  pendidikan  membuat  masa  ini  layak dijuluki  sebagai  masa  keemasan  Islam  (the  Islamic  Golden  Age).  Kebijakan pendidikan yang Ar-Rasyid terapkan tersebut tentu  dapat dijadikan solusi  untuk menyelesaikan  berbagai  problematika  yang  tengah  melanda  dunia  pendidikan Indonesia saat ini. Kajian ini berfokus pada kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid pada masa keemasan Islam. Dengan  mempelajari  sejarah,  segala permasalahan  yang  tengah  melanda  dunia  pendidikan  di  negeri  ini  dapat terselesaikan, dan sosok seperti Harun Ar-Rasyid paling tepat untuk Kita jadikan teladan . Hasil dari penelitian ini bahwa terdapat delapan kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid pada masa keemasan Islam, antara lain: memuliakan guru dan ulama, mendirikan perpustakaan, menerjemahkan buku-buku pengetahuan ke dalam bahasa Arab, memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi, menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan, melibatkan peran orangtua dalam pendidikan, kurikulum berpusat pada Qur’an, serta mengutamakan ta’dib dalam pendidikan. Kedelapan kebijakan tersebut tentu dapat diimplementasikan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

PENDAHULUAN

Masa kepemimpinan Harun Ar-Rasyid adalah masa  yang paling  gemilang dalam perjalanan  peradaban Islam. Ketika orang-orang Eropa masih berada dalam zaman kegelapan, Baghdad yang merupakan ibu kota dinasti ini pada  masa  tersebut  jutru  telah  tampil  menjadi  pusat  peradaban,  kebudayaan,  dan  ilmu pengetahuan yang cahayanya menerangi seluruh dunia.

Di zaman Harun Ar-Rasyid dan putranya, Al-Ma’mun inilah banyak terjadi gerakan penerjemahan buku-buku dari Yunani, seperti filsafat, kesusastraan, kedokteran, dan lain-lain secara besar-besaran yang disponsori langsung oleh khalifah. Di  era itu juga berdirinya suatu lembaga penerjemahan yang termasyhur bernama Bait Al-Hikmah, fungsinya tidak hanya sebagai perpustakaan, tetapi juga sebagai universitas. Semua ini kelak sangat berpengaruh positif dalam berkembangnya ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Harun Ar-Rasyid yang merupakan pemimpin terkuat di dunia pada masa itu, tidak satupun yang  mampu  menandinginya dalam  urusan luas wilayah  dan kekuatan  pemerintahan  serta tingkat  kebudayaan  dan  peradaban  yang  tinggi  dan  berkembang  di  negaranya.  Tingkat peradaban dan kekuasaan Khalifah Ar-Rasyid lebih tinggi dan lebih besar jika dibandingkan dengan Karel Agung di Eropa yang menjalin persahabatan dengannya. Baghdad sebagai ibu kota  Dinasti  Abbasiyah  ketika  itu  tidak ada  yang  mampu  menandingi,  bahkan  sekalipun dengan Konstantinopel yang merupakan ibu kota Bizantium. Sejak awal berdirinya, Baghdad sudah menjadi pusat kebangkitan ilmu pengetahuan dan peradaban dalam Islam.Atas dasar itulah  Philip  K.  Hitti  menyebut  Baghdad  sebagai  kota  intelektual,  menurutnya  Baghdad adalah profesor masyarakat Islam.[1]

Ketika  Khalifah  Ar-Rasyid  memerintah,  negara  berada  dalam  keadaan  makmur, keamanan terjamin, kekayaan melimpah, dan luas wilayah membentang dari India hingga ke Utara Afrika. Fungsi masjid-masjid ketika itu tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga tempat untuk belajar.[2] Ilmu pengetahuan agama  berkembang pada masanya, seperti ilmu Al-Qur’an,  hadis, qiraat,  bahasa  dan  sastra,  ilmu  kalam,  dan  fikih.  Empat  mazhab  fikih  juga  tumbuh  dan mengalamai  perkembangan  pada  masa  Ar-Rasyid.  Selain  ilmu  di  atas  berkembang  pula berbagai  disiplin  ilmu  lain,  seperti  ilmu  filsafat,  logika,  matematika,  aritmatika,  aljabar, mekanika, metafisika, kimia, astronomi, geografi, ilmu alam, dan kedokteran.

Segala  kegemilangan  pada  masa  Ar-Rasyid  berbanding  terbalik  dengan  kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Indonesia tidak termasuk dalam daftar 20 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia tahun  2017  sama sekali. Berdasarkan  problematika  tersebut,  kiranya  penting  untuk  mempelajari  kebijakan-kebijakan pendidikan yang Harun Ar-Rasyid aplikasikan pada masa kejayaan Islam dahulu, sebagai  rujukan  untuk  menyelesaikan  berbagai  problematika  yang  melanda  dunia  pendidikan Indonesia  saat ini, wabil khusus Dunia Pendidikan di Aceh.  Metode yang  penulis gunakan  adalah  studi pustaka  (library research).

Metode ini bertujuan untuk menemukan kebijakan-kebijakan pendidikan Khalifah Harun Ar-Rasyid dalam buku-buku sumber yang menjadi rujukan dalam kajian ini. Teknik analisis data yang  digunakan  adalah  analisis  isi  (content  analysis).  Analisis  isi  digunakan  untuk menganalisa kebijakan pendidikan yang tertuang dalam buku-buku yang membahas Khalifah Harun Ar-Rasyid, sehingga dari analisis tersebut dapat ditemukan jawaban dari masalah yang diteliti, yaitu Kebijakan Khalifah Harun Ar-Rasyid dalam Bidang Pendidikan.

HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN

Harun Ar-Rasyid bernama  lengkap  Harun Abu  Ja’far  bin Al-Mahdi Muhammad bin Al-Manshur  Abdillah  bin  Muhammad  bin  ‘Ali  bin  Abdillah  bin  Abbas.  Beliau  menjadi khalifah  dengan  penunjukkan  dari  ayahnya  sepeninggal  saudaranya  Musa  Al-Hadi  pada malam Sabtu, 14 Rabi’ul Awwal 170 H.[3]

Beliau adalah khalifah kelima Dinasti Abbasiyah sekaligus yang paling terkenal. Ar-Rasyid dilahirkan pada tahun 145 H di Ray, Iran. Ibundanya bernama Al-Khizran, seorang Ummu Walad, sedangkan ayahnya merupakan khalifah ketiga Dinasti Abbasiyah, Muhammad Al-Mahdi. Menjelang dewasa, sang ayah mempersiapkan Ar-Rasyid sebagai seorang khalifah. Karena itu, Al-Mahdi melimpahkan tugas  dan tanggung  jawab besar kepadanya. Al-Mahdi dua kali mengangkat Ar-Rasyid sebagai komandan militer di Ash-Sha’ifah, yakni pada tahun 163 dan 165 H. Pada tahun 164 H, Al-Mahdi mengangkatnya sebagai walikota wilayah Barat secara keseluruhan mulai dari Anbar hingga seluruh perbatasan Afrika.

Periode pemerintahan Harun Ar-Rasyid merupakan fase pertengahan masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, di mana kekhilafahan mencapai puncak kejayaannya, baik dari segi kekuatan militer, ekonomi dan kekayaan, ilmu pengetahuan, maupun dalam bidang sastra. Pada masa pemerintahan ini, peradaban ilmiah dan sastra, serta materi mencapai masa keemasannya. Ada yang berkata: “Hari-hari pemerintahan Ar-Rasyid dipenuhi kebaikan. Saking baiknya, hari-hari itu seperti hari-hari pernikahan.

Rakyat mengalami peningkatan kemakmuran baik di pusat ibu kota maupun di daerah, hingga dalam batas tidak mungkin mundur kembali. Pada masa kepemimpinan beliau, para pejabat negara terdiri dari para pakar pemerintahan dan ahli strategi perang sehingga kewibawaan negara, baik di dalam maupun di luar negeri semakin tinggi dan sangat diperhitungkan. Etika dan perilaku Harun Ar- Rasyid sangat membantu kemajuan ini. Tidak diragukan lagi, zaman Khalifah Harun Ar- Rasyid adalah zaman yang paling gemilang. Orang-orang Barat melihat   zaman ini sebagai zaman paling indah dalam sejarah Arab-Islam.[4]

Lembaga Pendidikan Masa Harun Ar-Rasyid

  1. Kuttab/Maktab

Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Jadi kuttab adalah tempat belajar menulis.[5] Namun akhirnya memiliki pengertian sebagai lembaga pendidikan dasar. Kuttab merupakan lembaga pendidikan Islam yang terlama.

Di awal perkembangan Islam, kuttab tersebut dilaksanakan di rumah-rumah gutu yang bersangkutan dan materi yang diajarkan adalah semata-mata menulis dan membaca syair-syair terkenal. Kemudian di akhir abad 1 H, mulai muncul jenis kuttab yang di samping memberikan pendidikan menulis dan membaca, juga mengajarkan membaca Al-Qur’an dan pokok ajaran agama. Pada mulanya kuttab merupakan pemindahan dari pengajaran Al-Qur’an yang berlangsung di masjid yang sifatnya umum (berlaku untuk anak-anak dan dewasa). Namun karena anak-anak pada umumnya sulit untuk menjaga kebersihan masjid, maka disediakanlah tempat khusus di samping masjid untuk mereka belajar Al-Qur’an dan pokok-pokok agama.

Selanjutnya berkembanglah tempat khusus (baik yang dihubungkan dengan masjid maupun terpisah) untuk pengajaran anak-anak dan berkembanglah kuttab-kuttab yang bukan hanya mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga pengetahuan dasar lainnya. Dengan demikian kuttab berkembang menjadi lembaga pendidikan dasar yang bersifat formal.

Di Indonesia pendidikan yang diadakan di masjid-mesjid atau surau bagi anak-anak biasa sering disebutkan dengan Taman Pendidikan Anak (TPA) atau Taman Pendidikan Qur’an (TPQ). Kegiatan pendidikan seperti ini sudah berjalan dari dulu sampai dengan sekarang. Sedangkan lembaga formalnya yang setingkat dengan ini dinamakan Taman kanak-kanak (TK),  Di lembaga pendidikan ini sangat penting bagi anak-anak dalam masa pembentukan karakter dan akhlak.

  1. Toko Buku

Selama masa kejayaan Dinasti Abbasiyah, toko-toko buku berkembang pesat seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Uniknya, toko- toko ini tidak saja menjadi pusat pengumpulan dan penyebaran (penjualan) buku-buku, tetapi juga menjadi pusat studi dengan lingkaran-lingkaran studi berkembang di dalamnya. Pemilik toko buku biasanya berfungsi sebagai tuan rumah dan kadang-kadang berfungsi sebagai pemimpin lingkaran-lingkaran studi tersebut. Ini semua menunjukkan bahwa betap antusias umat Islam masa itu dalam menuntut ilmu.

Ironisnya bila dilihat pada zaman sekarang sangat minim bagi peserta didik dalam minat membaca, apalagi untuk membeli buku-buku sebagai penunjang dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan.

Berbicara tentang minat baca masyarakat Indonesia sekarang, rasanya membuat nyeri, sedikit sesah dan prihatin. Jika melihat data Survei Most literat Nations in the Word, yang diterbitkan oleh Central Connenticus State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara berdasarka literasi Internasional. Indonesia menempati peringkat ke-2 dari belakang dalam hal minat baca.

  1. Rumah sakit

Pada masa Abbasiyah, rumah sakit bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang sakit, tetapi juga berfungsi sebagai tempat untuk mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan keperawatan dan pengobatan. Rumah sakit juga merupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit.

Dengan demikian, rumah sakit dalam dunia Islam juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Ini pula tampaknya yang diterapkan oleh dunia pendidikan modern. Dalam sejarah Islam, Bimaristan[6] adalah rumah sakit Islam pertama yang dibangun oleh Ar- Rasyid pada awal abad kesembilan, mengikuti model Persia.

  1. Perpustakaan

Bait Al-Hikmah di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid, adalah merupakan salah satu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan bahasa Arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa itu, dan berbagai buku-buku terjemahan dari bahasa Yunani, Persia, India, Qibty, dan Aramy.

Perpustakaan-perpustakaan dalam dunia Islam pada masa jayanya telah menjadi aspek budaya yang penting, sekaligus sebagai tempat belajar dan sumber pengembangan ilmu pengetahuan.

  1. Mesjid

Pada masa Dinasti Abbasiyah dan masa perkembangan kebudayaan Islam, masjid-masjid yang didirikan oleh para penguasa pada umumnya dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas pendidikan. Seperti tempat untuk pendidikan anak-anak, pengajaran orang dewasa (halaqah), juga ruang perpustakaan dengan buku-buku yang lengkap.

Masjid dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan Islam yang khas dan pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, penyelenggaraan pendidikan di masjid sangat didukung oleh pemerintah, seperti Harun Ar-Rasyid dan dilanjutkan oleh khalifah sesudahnya.

Tradisi masjid sebagai pusat peribadatan juga menyertainya. Dengan demikian, wajar apabila Khalifah Abbasiyah melihat pentingnya masjid bukan hanya sebagai tempat peribadatan, melainkan juga sabagai pusat pengajaran bagi kaum muda.

  1. Rumah Para Ulama

Pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, banyak rumah para ulama yang dijadikan tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Di antara rumah para ulama yang dijadikan tempat belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ali ibn Muhammad al- Fasihi, dan lainnya.

  1. Madrasah

Madrasah sangat diperlukan keberadaannya sebagai tempat untuk menerima ilmu pengetahuan agama secara teratur dan sistematis. Sebab didirikannya madrasah adalah karena masjid-masjid telah dipenuhi dengan pengajian- pengajian dari para guru yang semakin banyak, sehingga mengganggu kenyamanan orang salat. Di samping itu juga karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan setalah semakin berkembangnya kegiatan penerjemahan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab.

Kebijakan Pendidikan Harun Ar-Rasyid

  1. Memuliakan Guru dan Ulama

Khalifah Harun Ar-Rasyid adalah seorang pemimpin yang cinta pada para ulama. Ia mengagungkan dan memuliakan agama serta membenci debat dan omong kosong.

Harun Ar-Rasyid dikirim oleh ayahnya ke Madinah untuk belajar kepada Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah. Duduk bersama di majelis ilmunya mempelajari fikih dan hadis. Oleh karena itu, guru besar fikih dan hadis untuk Ar- Rasyid adalah Imam Malik. Ketika Ar-Rasyid menjadi khalifah, ia sangat menghormati Imam Malik dan kepada semua karya-karya gurunya tersebut.

Ar-Rasyid juga sangat mengagumi Imam Syafi‟i rahimahullah. Begitu hormatnya Ar-Rasyid kepada Syafi‟i meski usia mereka setara. Ar-Rasyid pernah berkata: “Aku berharap mudah-mudahan Allah subhnahu wata‟ala memperbanyak orang seperti engkau, wahai Syafi‟i, di dalam keluarga besarku. [7]

Khalifah Ar-Rasyid sangat menjamin kesejahteraan hidup para guru. Ketika sekolah-sekolah didirikan, maka ditentukan para guru yang mengajar serta gaji bulanan yang diatur oleh bendahara umum. Gaji ini juga diperoleh dari badan-badan wakaf yang digunakan untuk memberikan infak untuk urusan tersebut.

Di antara pengajar itu adalah Az- Zajaj yang mendapatkan rizki sebanyak dua ratus dinar setiap bulan sebagai fuqaha dan ulama. Begitu juga dengan Hakim Al-Muqtadir bin Daraid, yang mendapatkan lima puluh dinar pada setiap bulannya, padahal ia datang ke Baghdad dalam keadaan miskin.[8] Satu dinar pada masa itu jika dirupiahkan sekarang nilainya sekitar dua juta rupiah, dua ratus dinar berarti sekitar empat ratus juta rupiah, sebuah angka yang sangat jauh di atas gaji para guru di Indonesia hari ini, dan itu terjadi 10 abad lalu. Ini menunjukkan bahwa Ar-Rasyid sangat mengayomi orang-orang berilmu dan para guru, dan memang seperti itulah ajaran Islam.

Saat ini penulis melihat, banyak masalah merundung negeri ini, tak terkecuali dalam pendidikan, barangkali hal tersebut disebabkan dengan belum termuliakannya para guru dan ulama di negeri ini.

  1. Mendirikan Perpustakaan

Khalifah Ar-Rasyid memerintahkan untuk membangun perpustakaan- perpustakaan agar minat baca rakyatnya dapat difasiltasi di seluruh wilayah Abbasiyah, tidak hanya di Baghdad. Pada masa itu perpustakaan merupakan sarana untuk belajar, hingga umat Islam mampu membangun peradaban besar yang bertahan beberapa abad lamanya.[9] Hal tersebut menunjukan betapa pentingnya perpustakaan dalam pengembangan suatu bangsa. Dalam hal ini perpustakaan memiliki peran yang sangat penting, karena banyak ilmu pengetahuan, informasi dan dokumentasi yang disediakan oleh perpustakaan. Banyak literatur yang mengungkapkan bahwa perpustakaan sebagai tempat aktivitas belajar, yang kegiatannya hampir sama dengan apa yang dilakukan di sekolah-sekolah. Fungsi dan peran perpustakaan ini banyak diadopsi oleh perpustakaan di negara maju seperti Inggris, Australia dan Kanada.

Banyak perpustakaan diubah menjadi learning center atau resources center. Hal ini untuk mengidentifikasikan bahwa perpustakaan yang diperankan pada masa kejayaan Islam sangat penting dan representatif untuk pengembangan dan memajukan masyarakat.[10]

Dari berbagai perpustakaan keemasan Islam itu, yang paling terkenal adalah Bait Al-Hikmah. Bait Al-Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan (House of Wisdom) adalah perpustakaan sekaligus lembaga pendidikan Islam pertama yang didirikan oleh Ar-Rasyid di ibu kota negara, Baghdad. Bait Al-Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai sebuah perpustakaan ataupun gudang buku, tapi Bait Al-Hikmah juga memiliki biro penerjemahan serta tempat berkumpulnya kaum cendikiawan dan intelektual dari berbagai penjuru kerajaan.[11]

  1. Menerjemahkan Buku-buku Pengetahuan kedalam Bahasa Arab

Salah satu kebijakan Ar-Rasyid yang cukup masyhur sampai hari ini adalah proyek penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan bahasa asing ke dalam bahasa Arab. Proyek penerjemahan ini disebut juga sebagai gerakan intelektual dalam sejarah Islam, sehingga dikenal sebagai kebangkitan terkenal dalam seluruh sejarah pemikiran dan budaya.

Gerakan penerjemahan ini telah membuat bidang pendidikan pada masa Ar- Rasyid menjadi luar biasa gemilang. Indonesia memang telah menerapkan hal ini, namun gerakan penerjemahan seluruh buku-buku pengetahuan ke dalam bahasa Indonesia tetap harus berada di bawah pengawasan langsung para ahli ilmu di bidangnya masing-masing, misal penerjemahan kitab-kitab sejarah berada di bawah pengawasan langsung ahli sejarah, kitab fikih oleh ahli fikih, kitab tafsir oleh ahli tafsir, dan seterusnya.

Pemerintah juga seharusnya mengadakan gerakan pemahaman bahasa Arab kepada umat Muslim, karena karena tentu syarat mutlak untuk menjadi seorang ulama besar yang berijtihad adalah fasih berbahasa Arab. Cukup mengherankan dengan masyarakat negeri ini di mana orang-orang begitu mudah mengeluarkan fatwa, padahal tidak bisa bahasa  Arab.

  1. Memberikan Reward (Penghargaan) Kepada Siswa Berprestasi

Pendidikan Islam menggunakan istilah “penghargaan” sebagai bagian dalam proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan, baik melalui pembelajaran dalam bentuk formal, informal dan non formal.[12] Penghargaan tentu diperlukan sebagai bentuk motivasi bagi peserta didik.

Penghargaan adalah untuk setiap anak yang berhasil melakukan kebaikan/prestasi/keberhasilan di setiap aktifitasnya sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Setiap penghargaan yang diberikan oleh anak tidak harus berwujud materi, namun nilai-nilai moral yang bersifat positif seperti pujian dan apresiasi juga merupakan penghargaan untuk anak sehingga anak mengetahui hakikat kebaikan.[13]

Maka dari itu Allah melalui Al-Qur‟an juga memberikan apresiasi kepada manusia atas kebaikan yang telah mereka lakukan :

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. [Q.S. Al-Zalzalah (99: 7].”

Pada beberapa kesempatan, murid-murid akan mendapatkan hadiah berupa liburan sekolah jika mereka berhasil menghafal salah satu juz Al-Qur’an. Hadiah-hadiah tersebut memang terlihat sederhana, namun sesuai dengan kaidah pemberian hadiah dalam pendidikan Islam.

Di Indonesia, kebijakan memberikan hadiah kepada siswa berprestasi akrab dengan istilah beasiswa. Saat ini beragam jenis beasiswa dalam dunia pendidikan nasional, antara lain:

  1. Beasiswa Penuh (full scholarship), yang tidak hanya membiayai biaya pendidikan, tetapi juga biaya hidup penerimanya.
  2. Beasiswa Parsial (partial scholarship) yang menanggung sebagian biaya pendidikan.
  3. Beasiswa Penghargaan atau Beasiswa Prestasi Akademik, sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi akademik siswa.
  4. Beasiswa Bantuan, yang diberikan kepada siswa yang kurang mampu secara ekonomi, tetapi memiliki prestasi akademik yang tinggi.
  5. Beasiswa Non Akademik, diberikan kepada siswa yang memiliki prestasi di bidang non akademik.
  6. Beasiswa Ikatan Dinas, beasiswa bersyarat kepada para penerimanya untuk “mengikatkan diri” pada pihak sponsor sebagai hubungan timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak, seperti bekerja di instansi atau lembaga pihak sponsor dalam jangka waktu tertentu.
  7. Menjadikan Mesjid sebagai Sentral Pusat Pendidikan

Hubungan sejarah pendidikan masyarakat Islam dengan masjid merupakan hubungan yang erat sekali. Sebab, masjid merupakan pusat peradaban Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan, tetapi masjid merupakan salah satu tempat yang paling penting dalam pendidikan Islam.

Rasulullah menjadikan Masjid Nabawi sebagai tempat untuk pendidikan, sarana berkumpul bersama para sahabat, dan menyampaikan wahyu Al-Qur‟an. Masjid digunakan sebagai sarana untuk melaksanakan risalah-Nya sampai pada zaman Khulafaur Rasyidin. Begitu pula seterusnya sampai pada masa Bani Umayyah dan Abbasiyah.

Di Masjid Baghdad sendiri terdapat lebih dari empat puluh halaqah. Semua halaqah itu diringkas menjadi satu dalam halaqah Imam Syafi‟i rahimahullah karena ilmunya yang mulia. Kisah ini diriwayatkan oleh seorang ahli bahasa bernama Al- Zajaj.

Di zaman Rasulullah, Masjid selaian tempat ibadah juga merupakan tempat menginformasikan perkara yang dibutuhkan umat, menerima utusan suku-suku dan negara-negara, menyiapkan tentara dan mengutus para da’i ke pelosok-pelosok negeri.[14]

Masyarakat Indonesia pada umumnya seperti masih menganggap masjid sebagai pusat ibadah semata. Hal ini terbukti dengan minimnya kegiatan-kegiatan pendidikan di masjid, bahkan tidak sedikit masjid yang mati, kecuali hanya pada waktu salat. Padahal masjid merupakan pusat segala kegiatan umat Muslim, termasuk pendidikan. Salah satu tugas umat Muslim saat ini adalah menghidupkan masjid dan mengembalikan cahaya Allah subhanahu wata‟ala di tempat mulia itu, karena tanda-tanda  kebangkitan umat Islam adalah ketika umat berbondong-bondong memasuki masjid, melaksanakan shalat dan mengikuti kajian-kajian dakwah.

Dalam hal ini pemerintah tentu harus memberikan dukungan lebih terhadap segala bentuk kegiatan di masjid, salah satunya yaitu dalam bentuk materi, dengan memberikan bantuan-bantuan untuk pelaksanan pembangunan Mesjid yang nyaman,bersih,indah dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas  sebagai rumah ibadah bagi jamaah semuanya. Sehingga jamah yang hadir merasakan kenyamanan dan ketenangan dalam beribadah dan mendengarkan kajian keagamaan.

  1. Melibatkan peran orang tua dalam Pendidikan

Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling subur dan penting. Pada fase inilah seorang pendidik bisa menanamkan prinsip-prinsip yang lurus dan orientasi yang baik dalam jiwa anak didiknya. Kesempatan pada fase ini terbuka luas dan semua potensi tersedia dengan adanya fitrah yang suci, masa kanak-kanak yang masih lugu, kepolosan yang begitu jernih, kelembutan dan kelenturan jasmani, hati yang belum tercemari, dan jiwa yang belum terkotori.[15]

Bila masa anak-anak tersebut dimanfaatkan dengan baik, harapan di masa selanjutnya akan mudah diraih. Oleh karena itu, para ulama berkata, “Anak adalah amanah bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci bagaikan permata yang murni. Bebas dari segala macam ukiran dan lukisan. Ia siap menerima segala bentuk pahatan dan cenderung kepada apa saja yang ditanamkan kepadanya. Bila ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, ia pasti tumbuh menjadi orang yang baik. Kedua orangtua akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, termasuk guru dan pembimbingnya. Namun, bila ia dibiarkan melakukan hal-hal yang buruk dan ditelantarkan tanpa pendidikan dan pengajaran, ia pasti akan menjadi orang yang celaka dan binasa. Dengan begitu, orang yang bertanggung jawab atasnya dan juga walinya akan menanggung dosanya.

Di tengah kesibukannya sebagai khalifah, seorang pemimpin negara yang memiliki wilayah yang sangat luas, Harun Ar-Rasyid tetap tidak melupakan perhatiannya untuk mendidik putra-putranya, yang memang telah dipersiapkan untuk menjadi khalifah berikutnya, yakni Al-Amin dan Al-Ma’mun. Sejak Al-Ma’mun masih kecil, Ar-Rasyid sendiri yang membimbingnya menghafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Jika sedang sibuk bepergian, Ar-Rasyid mempercayakan putra-putranya tersebut kepada para guru yang berkualitas.

Harun Ar-Rasyid dengan tugasnya yang luar biasa berat sebagai seorang khalifah, memimpin negara yang luas wilayahnya mencakup sepertiga bumi, namun masih menyempatkan diri, meluangkan waktu untuk tidak hanya sekedar bercengkrama, tetapi mendidik sekaligus memerhatikan perkembangan buah hatinya. Jika hari ini, para Ayah masih mengabaikan anak-anaknya dengan alasan pekerjaaan, dan menyerahkan semua tanggung jawab pendidikan anak kepada ibu, maka berkacalah pada Khalifah Harun Ar-Rasyid.

  1. Kurikulum Utama Berpusat Kepada Al-Qur’an

Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, sekolah dasar (kuttab) berkurikulum utamanya dipusatkan pada Al-Qur’an sebagai bacaan utama para siswa.

Penggunaan metode hafalan Qur’an ini telah melahirkan seorang pemimpin besar dalam sejarah Islam masa keemasan, salah satunya adalah Abdullah Al- Ma’mun, putra Ar-Rasyid sendiri. Sejak masih kecil, Al-Ma’mun menghafalkan Al- Qur’an di bawah bimbingan Ar-Rasyid, dan kemudian melafalkannya kata demi kata di bawah pengawasan ketat ahli agama di istana.

Dalam bidang sains, Al-Qur‟an  telah menjadi inspirasi bagi kaum  Muslimin untuk  meneliti  ayat  demi  ayat  hingga  melahirkan  suatu  penemuan  baru. Dalam bidang astronomi atau ilmu falak, yang menurut kaum Muslimin berkaitan erat dengan syiar agama, timbulah kebutuhan untuk memperlajarinya guna menentukan waktu-waktu salat sesuai kondisi letak geografis dan perubahan musim. Begitu pula untuk penentuan arah kiblat, gerakan bulan untuk menentukan awal Ramadhan, haji dan sebagainya . Al- Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern, sehingga sangat diharuskan bagi umat Muslim untuk meneliti setiap ayat-ayat kauniah (ayat-ayat yang menerangkan  tentang alam).

Maka sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, ada baiknya pendidikan di Indonesia, khususnya di Provinsi Aceh yang suda punya Qanun khusus untuk menjalankan Syariat Islam untuk memusatkan kurikulumnya kepada Al-Qur’an, tidak hanya dalam pelajaran agama, akan tetapi juga dalam bidang sains.

  1. Mengutamakan Ta’dib (adab) dalam Pendidikan

Ta‟dib  berasal  dari Bahasa Arab dari kata addaba-yuaddibu , dan ta‟dib   yang berarti adab, atau mendidik manusia menjadi beradab.
Pendidikan, menurut Al-Attas adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang, inilah yang disebut dengan ta‟dib. Tujuan dari pendidikan bukanlah untuk menghasilkan warga negara dan pekerja yang baik, tetapi untuk menciptakan manusia yang baik.[16]
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang kebijakan Khalifah Harun Ar-Rasyid dalam bidang pendidikan, maka dapat diambil kesimpulan terdapat delapan kebijakan pendidikan Khalifah Harun Ar-Rasyid dalam kajian ini, antara lain :

  1. Memuliakan guru dan ulama,
  2. Mendirikan perpustakaan-perpustakaan,
  3. Menerjemahkan Buku-buku Pengetahuan kedalam Bahasa Arab
  4. Memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi,
  5. Menjadikan Masjid sebagai pusat pendidikan,
  6. Melibatkan peran orangtua dalam pendidikan,
  7. Kurikulum berpusat pada Qur’an, serta
  8. Mengutamakan tadib (adab) dalam pendidikan.

Kebijakan-kebijakan tersebut sangat relevan untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini. Kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh Ar-Rasyid tersebut telah membuat nama beliau terukir indah dalam sejarah Peradaban Islam, sebagai sosok yang mampu membawa Islam ke masa keemasannya (Islamic Golden Age). Hal itu tidak terlepas dari kecintaan Harun Ar- Rasyid terhadap ilmu pengetahuan, tanpa mengesampingkan ajaran agama yang telah tertanam kokoh dalam dirinya sejak kecil. Tidak berlebihan kiranya jika disampaikan bahwa kita perlu belajar lebih banyak kepada tokoh-tokoh Muslim dalam berbagai dimensi ilmu dan tidak mudah terpesona dengan tokoh-tokoh dari dunia barat, karena bagaimanapun karakter keagamaan yang melekat pada diri tiap tokoh Muslim telah memberikan nilai lebih dalam setiap konsep yang ditawarkannya.

Rujukan

Amin,S.M. 2010.  Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah.
As-Suyuthi, 2015. Tarikh Khulafa, Jakarta: Pustaka As-Sunnah
Ahmad Suyuthi, 2011. “Ta’ dib Sebagai Upaya Rekonstruksi Pendidikan Islam Perspektif Syed Naquib Al-Attas”. Jurnal Al-Hikmah, Vol. 1 No. 2.
Hitti, P.K.2014.“History of The Arabs” terjemahan R. Cecep Lukman Yasin, Dedi Slamet Riyadi, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
Jamal Abdurrahman,2010. Islamic Parenting: Pendidikan Anak Metode Nabi, terjemahan Agus Suwandi, Solo: Aqwam, 2010.
Jonathan Lyons, 2013. The Great Bait Al-Hikmah: Kontribusi Islam dalam Peradaban Barat, Jakarta: Noura Books.

  1. Ngalim Purwanto, 2006. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhammad Amin Al-Jundi, Mi‟ah Qishshah wa Qishshah fi Aniis Ash-Shalihiin wa Samiir Al-Muttaqiin, Juz II, h. 10.
Puji Astari, 2014 “Mengembalikan Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban Masyarakat”. Jurnal Ilmu Dakwah dan Pengembangan Komunitas, Vol. 9 No. 1.
Raghib As-Sirjani, 2011. Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Wahyudi Setiawan, 2018. “Reward and Punishment dalam Perspektif Pendidikan Islam”. Jurnal Al-Murabbi, Vol. 4 No. 2.
Yanto, 2015. “Sejarah Perpustakaan Baitul Hikmah Pada Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah”.Jurnal Tamaddun, Vol. 15 No. 1.
Yusuf Al-Isy,2014. Dinasti Abbasiyah, terjemahan Arif Munandar, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Zulhairi et.al.2011.Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
[1] Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah),2010.
[2] Hitti, “History of The Arabs” terjemahan R. Cecep Lukman Yasin, Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2004)
[3] As-Suyuthi, Tarikh Khulafa, (Jakarta: Pustaka As-Sunnah,2015)
[4] Yusuf Al-Isy, Dinasti Abbasiyah, terjemahan Arif Munandar, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014), h. 51
[5] Zulhairi et.al.,Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm.89.
[6] Bahasa Persia, Bimar:sakit, stan:tempat.
[7]  Muhammad Amin Al-Jundi, Mi‟ah Qishshah wa Qishshah fi Aniis Ash-Shalihiin wa Samiir Al-Muttaqiin, Juz II, hlm. 10
[8] Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011), h. 246
[9] Yanto, “Sejarah Perpustakaan Baitul Hikmah Pada Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah”.Jurnal Tamaddun, Vol. 15 No. 1 (Januari–Juni 2015), h. 240
[10] Ibid… 241
[11] Jonathan Lyons, The Great Bait Al-Hikmah: Kontribusi Islam dalam Peradaban Barat, (Jakarta: Noura Books, 2013), h. 89
[12] Wahyudi Setiawan, “Reward and Punishment dalam Perspektif Pendidikan Islam”. Jurnal Al-Murabbi, Vol. 4 No. 2 (Januari 2018), h. 187
[13] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 182.
[14] Puji Astari, “Mengembalikan Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban Masyarakat”. Jurnal Ilmu Dakwah dan Pengembangan Komunitas, Vol. 9 No. 1 (Januari 2014), hlm. 37-38
[15] Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting: Pendidikan Anak Metode Nabi, terjemahan Agus Suwandi, (Solo: Aqwam, 2010), hlm. 6
[16] Ahmad Suyuthi, “Ta‟dib Sebagai Upaya Rekonstruksi Pendidikan Islam Perspektif Syed Naquib Al-Attas”. Jurnal Al-Hikmah, Vol. 1 No. 2 (September 2011), hlm. 159.

Penulis: Munandar
Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam-Banda Aceh
[email protected]