Aceh dalam beberapa abad yang lalu telah menjadi wilayah penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Posisi Aceh yang strategis yaitu berada di lintasan dunia membuat daerah ini menjadi tempat singgahan pedagang muslim dari seluruh dunia. Ketika para pedagang muslim menginjakkan kaki di wilayah Asia Tenggara mereka mampir pertama kali di Aceh sehingga Aceh menjadi wilayah paling awal yang menerima Islam. Para pakar sejarah telah bersepakat mengenai awal mulanya Islam di Nusantara yaitu di Aceh. Lalu, yang menjadi masalah di kalangan ahli sejarah saat itu ialah wilayah Aceh mana yang menerima Islam paling awal? Apakah Perlak, Pasai, atau Barus?  Tiga wilayah itulah yang diyakini pertama sekali menerima Islam. Untuk menjawab persoalan tersebut para ahli sejarah sejak tahun 1960an hingga tahun1980an telah membuat beberapa kali seminar nasional. Seminar pertama diadakan di Medan pada tahun 1963, kemudian di Banda Aceh tahun 1978, dan yang terakhir di Rantau Kuala simpang tahun 1980. Berdasarkan hasil seminar tersebut maka mereka telah sepakat untuk menetapkan Perlak sebagai pusat awal Islam di Nusantara. Namun seiring berjalannya waktu banyak masyarakat Aceh yang sudah tidak peduli lagi dengan sejarah. Akibatnya baru-baru ini timbul beberapa klaim yang menyimpang tentang sejarah awal Islam di Nusantara. Salah satunya ialah persoalan barus yang ditetapkan sebagai titik nol Islam Nusantara oleh pemerintah pada pertengahan tahun 2017 lalu.

Awal Mula Masuknya Islam di Nusantara

Oleh itu, Untuk mengetahui di mana awal mula Islam di Nusantara maka kita harus mengacu kepada beberapa sumber seperti sumber manuskrip kuno baik dari penjelajah Barat maupun Timur dan Sumber benda peninggalan arkeologis. Nah, Pertama saya akan membahas catatan paling awal dari barat yaitu catatan Marcopolo. Dalam catatan tersebut ia menerangkan di antara kerajaan-kerajaan kecil dalam perjalanannya ke Sumatera adalah Perlec yang sudah di kuasai oleh agama Islam. Berikut kutipannya This Kingdom, you must know, is so much frequented by the Saracen merchants that they have converted the natives to the Law of Mohammad – I mean the town people only (Ed. Yule 3 (1903) II: 284)” seorang sejarawan Belanda Dr B J.O. Schrieke dalam bukunya “Het Boek van Bonang (Diss Leiden, 1916) beliau telah membicarakan kembali mengenai Perlak sebagai salah satu tempat yang dikunjungi Marco Polo dan ia meyakini Islam telah ada di Perlak sejak tahun 1292 Masehi.

Setelah melakukan lawatan ke Perlak Marco Polo melanjutkan perjalanannya ke “Basma” belum ada yang tahu pasti di mana tempat tersebut, namun dari beberapa sumber telah disebutkan Basma berada di Samudera atau dekat dengan kota Lhoksemawe sekarang.  Satu lagi sejarawan barat Groeneveldt dalam pembicaraannya menerangkan bahwa nama Perlak ini juga terdapat dalam kisah Expedia Tionghoa ke Jawa dalam tahun 1292 Masehi, dengan sebutan Pa-la-la atau Pa-rara. Bukan Itu Sahaja, Perlak juga telah disebutkan pula dalam beberapa buku manuskrip kuno seperti Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai dan  Negarakartagama meskipun ditulis dalam beberapa ejaan. Dalam buku-buku tersebut sangat jelas disebutkan bahwa Perlak berada di Sumatera atau Aceh. Satu lagi sumber mengenai Perlak yaitu kitab Idharul Haq fi Mamlakatil Peurelak, karangan Abu Ishak al-Makarani al-Pasy. Namun pendapat dan sumber yang dikemukakan itu juga masih diragukan keaslian dan keabsahannya.

Marco Polo Travels Pelaut dari Eropa
Marco Polo Travels Pelaut dari Eropa

Selanjutnya catatan Ibnu Batuttah dalam kitabnya “Rihlah” Ibn Batutah mengatakan, bahwa ia mendarat di Samudra pada tahun 1345 Masihi, ia berjalan ke Sarha dan diterima oleh Amir Dawlasa, untuk menghadap sultan Malikuz Zahir, yang sedang sibuk “mengislamkan negeri-negeri kuffar” atau negeri-negeri yang belum Islam di sekitarnya.  Negeri lainnya yang pernah ia datangi ialah “Muljawa”, yang juga merupakan negeri besar yang belum menganut Islam (II : 152 – 155). Mungkin sahaja yang dimaksudkan Muljawa ialah Pulau Jawa sekarang, namun ada juga beberapa sejarawan yang mengatakan Jazirah Malaya sekarang ini (H.A.R. Gibb, Ibn Batuttah. Travels in Asia and Africa, London, 1929). Catatan Ibnu Battutah sangat jelas menyebutkan ia disambut baik oleh salah satu Raja Samudera Pasai bernama Malik Az-Zhahir yang taat bahkan sibuk menyebarkan Islam ke wilayah pedalaman. Ini bermakna di sana sudah Islam sudah lama.

Kronik Melayu mengenai Samudera Pasai menceritakan, bahwa dikala itu datanglah seorang laki-laki dari Mekkah bernama Syeikh Ismail, ialah yang mula-mula menyiarkan agama Islam di Pasai. Ia meng-Islamkan raja Pasai yang bersemayam di ibu negerinya bernama Samodra, dan dengan demikian sedikit demi sedikit dapat meng-Islamkan seluruh penduduknya. Cerita ini juga termuat dalam karangan Prof. Dr. Vet h, yang bernama Atchin, hal 28. Dari Pasai ini berkembanglah agama Islam ke daerah-daerah lain, sehingga dengan demikian habislah pengaruh agama Hindu di Aceh.

Nah, sekarang kita akan membahas mengenai sumber Arkeologis yang dijumpai di Asia Tenggara. Salah satu benda arkeologis yang digunakan para peneliti ialah Batu Nisan. Sampai setakat ini para ahli masih menggunakan Makam Malik Al Shalih sebagai rujukan untuk mengetahui Awal masuknya Islam di Nusantara. Dua Peneliti Belanda, Snouck Hurgronje (1907) dan Moquette (1912) yang meneliti jejak awal Islam di Aceh, berkesimpulan bahwa Samudra Pasai merupakan sebuah kerajaan Islam terawal di Aceh dan Asia Tenggara. Bukti ini didasarkan pada batu nisan Sultan Malik al-Shalih di Samudra Pasai (Aceh Utara) yang meninggal 1297 M.

Sebenarnya bukan itu sahaja nisan yang mempunyai tarikh terawal namun masih banyak nisan lainnya yang mengandung Tarikh terawal di Asia Tenggara, seperti Makam Fatimah binti maimun di Gresik Jawa Timur. Namun Batu nisan tersebut terletak di Pesisir. Menurut Moquette (1914) nisan ini milik pedagang dari Arab yang meninggal disana. Berbeda hal nya dengan Makam Malik Al- Shalih yang sudah diyakini sebagai Sultan di Kerajaan Samudera Pasai.

AL-MALIK-ASH-SHALIH
AL-MALIK-ASH-SHALIH

Sebenarnya masih banyak nisan lainnya yang lebih tua daripada nisan Malik Al Shalih di Samudera Pasai seperti makam Al-Malik Al-Kamil ia meninggalkan dunia pada hari minggu tanggal 7 Jumadil Awal 607 H atau 1210 M. Di samping itu terdapat nisan Ya’kub, saudaranya merupakan seorang panglima yang meng-Islamkan orang-orang Gayo dan Sumatera Barat. Tertulis pada nisan bahwa ia meninggal pada hari Jumat 15 Muharram 630 H atau 1232 M. Masing-masing nisan ini menggunakan batu Granit dan Marmar yang di impor dari Gujarat namun tidak ada penulis barat yang menyebutkan tentang dua makam tersebut. Ini patut dipertanyakan???

Nah, jika pertanyaan di mana pertama sekali masuknya Islam maka jawabannya ialah di Pasai dan Perlak. Karena disandarkan kepada dua bukti tertulis yaitu bukti dari catatan penjelajah dan bukti benda arkeologis yang di dapatkan di Sana.  Samudera Pasai dan perlak merupakan dua wilayah pertama yang menerima Islam dalam waktu yang hampir bersamaan. Hal ini pun tidak perlu lagi diperdebatkan karena kedua wilayah ini berada di pantai utara yang saling berdekatan.

Lalu bagaimana dengan Barus yang dianggap sebagai titik nol Islam di Nusantara? Sejauh ini, belum ada sumber-sumber yang menyebutkan sudah ada Islam di sana lebih awal daripada Pasai dan Perlak. Kita ketahui bahwa ada dua jalan antara Cina dan Arab, pertama jalan darat dan kedua jalan laut. Jalan laut ini, baik menurut cerita maupun menurut peta-peta yang ditinggalkan oleh penulis-penulis sejarah yang lampau dari bangsa Arab atau bangsa Barat, selalu melalui Sumatera Utara dan Sumatera Timur atau melalui selat Malaka, belum pernah diceritakan bahwa ada pelayaran orang Arab melalui sebelah Barat pulau Sumatera. Pelayaran sebelah barat Pulau Sumatera ini baru dimulai oleh orang Arab, sesudah Portugis menduduki Malaka tahun 1511 M dan bermusuhan dengan orang Arab itu, yang terpaksa mengambil jalan dari Cina ke Arab melalui pesisir barat pulau Sumatera. Alasan tersebut saya kira sangat jelas bahwa Barus bukan tempat awal masuknya Islam apalagi pusat perkembangan Islam. Penetapan Barus sebagai Titik nol Islam telah “mencederai” sejarah karena telah menafikan bukti-bukti sejarah lainnya yang lebih lengkap.

Akhirnya, mengutip tulisan Prof. Dr Aboe Bakar Aceh, untuk menyelesaikan persoalan di mana awal masuknya Islam di Indonesia maka harus ditegaskan dulu apakah maksudnya awal mula ada kerajaan Islam di Indonesia? Atau ada pergerakan Islam di Indonesia? Atau ada beberapa pedagang muslim di Indonesia?InsyaAllah kita akan membahas satu persatu dalam tulisan selanjutnya. Wallahualam. Semoga bermanfaat.

Baca Juga : Penulis Tafsir Al-Quran Pertama di Nusantara

[Total: 5    Average: 3.8/5]