Dalam sejarah Aceh sosok yang paling terkenal adalah Iskandar Muda. Sultan ini pernah memegang kuasa selama 31 tahun mulai tahun 1606 sampai 1637. Dia adalah sosok paling terkenal dan juga paling termasyhur dalam sejarah Islam di kawasan Asia Tenggara. Di bawah kepemimpinannya Aceh berhasil menjadi negara “penakluk” Nusantara. Sejarah membuktikan hampir seluruh wilayah Sumatera dan sebahagian Semenanjung Malaysia berhasil dikuasai.

Namun dibalik kesuksesannya ada misteri yang tersimpan yang ramai orang tidak mengetahuinya. Mufti kerajaan ketika dia menjabat sebagai sultan adalah Syamsyuddin al-Sumatrani. Ia menjabat sebagai mufti pada tahun 1607 sampai dengan 1630 Masehi. Nah, sedangkan masa akhir dari kepemimpinan Iskandar Muda adalah 1636. Karena ajal menjemput, Syamsyuddin al-Sumatrani meninggal lebih awal 6 tahun sebelum masa akhir Iskandar Muda. Pertanyaan sekarang yang muncul adalah siapakah yang diangkat sebagai mufti pada masa Iskandar Muda setelah Syamsyuddin al-Sumatrani meninggal…?

Perlu diingat bahwa, masa 6 tahun adalah suatu jangka waktu yang lama. Pada waktu yang bersamaan Aceh sedang menggapai masa keemasan. Puncak peradaban sedang ditoreh oleh negeri ini. Posisi seorang mufti sangat krusial. Ianya memegang peran penting dalam menjaga kestabilan politik dalam sebuah negeri.

Aceh pada saat itu adalah negara Islam, maka kedudukan seorang mufti sangat diperhitungkan. Otomatis, sesegera mungkin Iskandar Muda harus mencari sosok pengganti untuk ditempatkan di kursi mufti demi menjaga kestabilan politik Kesultanan Aceh kala itu. Mufti tidak hanya berperan sebagai wakil sultan atau hakim, tetapi dia juga mengontrol kehidupan dalam bidang keagamaan dan juga kebudayaan.

Nah, siapakah orang yang dipilih oleh Iskandar Muda..? Sebahagian besar literatur sejarah menjelaskan bahwa mufti setelah Syamsyuddin as-Sumatrani adalah Nuruddin al-Raniry. Namun, suatu informasi yang sudah jelas adalah al-Raniry menjabat sebagai mufti kerajaan Aceh mulai tahun 1607 ketika Iskandar Tsani menjabat sebagai sultan Kerajaan Aceh. Dengan demikian ar-Raniry tidak menjabat sebagai mufti sebelum tahun tersebut. Kemudian, jika merujuk kepada sumber sejarah tidak mungkin ar-Raniry dipilih oleh Iskandar Muda karena mereka berseberangan pandangan.

Ar-Raniry datang untuk membawa ajaran Islam berlandaskan Fiqh tetapi pada saat yang sama Tasawuf yang dipopulerkan oleh Hamzah Fansuri masih mendapat tempat di hati Iskandar Muda. Ajaran Wahdatul Wujud masih terus berkembang dan mendapat legitimasi oleh Iskandar Muda. Oleh demikian tidak heran mengapa Iskandar Muda memilih Syamsuddin as-Sumatrani karena dia merupakan murid dari Hamzah Fansuri. Oleh itu, sangat tidak mungkin jika Iskandar Muda memilih ar-Raniry karena dia sangat menentang ajran Wahdatul Wujud.

Siapakah ar-Raniry…? Dia lahir di kota Ranir-India pada tahun 1500an. Setelah belajar di Timur Tengah akhirnya dia datang ke Aceh pada masa Iskandar Muda. Karena berseberangan dengan Iskandar Muda akhirnya dia berhijrah ke Pahang, salah satu kerajaan Islam di Semenanjung Malaysia. Namun setelah Iskandar Muda wafat Iskandar Tsani menjabat mufti Kerajaan Aceh mulai tahun 1637 sampai 1641 Masehi.

Iskandar Tsani merupakan putra mahkota dari sultan Pahang yang menikah dengan anak perempuan Iskandar Muda sehingga karena perkawinan silang berhasil mendapatkan kuasa memimpin negeri Aceh. Iskandar Tsani telah berjumpa dengan ar-Raniry ketika di Malaysia dan kedua mereka memiliki hubungan baik. Dengan demikian ar-Raniry dipanggil oleh Iskandar Tsani untuk menjabat sebagai mufti Kerajaan Aceh terhitung tahun 1607. Oleh karena itu Iskandar Muda tidak memilih ar-Raniry sebagai mufti.

Berdasarkan hasil penelitian yang dipresentasikan oleh Hermansyah di International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) tahun 2014 diketahui bahwa pengganti Syamsyuddin as-Sumatrani adalahn Syeikh Faiz al-Baghdadi (Atjehpost 2014). Memang, banyak literatur yang menjelaskan tentang kronologi mufti Kerajaan Aceh namun tidak satupun yang pernah menyebutkan nama Syeikh Faiz al-Baghdadi.

Satu-satunya sumber yang menyebutkan nama Syeikh Faiz al-Baghdadi adalah dalam naskah Tarekat Syattariah yang saat ini tersimpan di Tanoh Abee, Seulimum Aceh Besar. Dia diangkat oleh Iskandar Muda sebagai mufti mulai tahun 1630 sampai 1636 Masehi menggantikan Syamsyuddin as-Sumatrani. Dia juga salah seorang murid Hamzah Fansuri dan memiliki hubungan baik dengan Syamsuddin as-Sumatrani. Dengan demikian, ternyata Iskandar Muda memiliki dua orang mufti. Pertama adalah Syamsyuddin as-Sumatrani dan kedua adalah Syeikh Faiz al-Baghdadi. Sangat masuk akal mengapa Iskandar Muda mengangkat Syeikh Faiz al-Baghdadi karena dia merupakan orang dalam lingkaran Hamzah Fansuri dan Syamsyuddin as-Sumatrani.

[Total: 1    Average: 5/5]
SHARE
Previous articleGampong Pande Pusat perindustrian Kerajaan Aceh
Amir Husni

Amir Husni lahir di Aceh Besar pada 10 Juni 1992. Menyelesaikan study Strata Satu (S1) pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri ar-Raniry Banda Aceh pada Februari 2015. Pada tahun yang sama juga dipilih oleh salah satu NGO Jepang mewakili Provinsi Aceh untuk mengikuti pertukaran pemuda di Jepang. Tahun 2016 mendapat beasiswa dari pemerintah Malaysia untuk melanjutkan study master (S2) Ilmu Arkeologi di University of Science, Malaysia (USM). Pada tahun 2017 mendapat beasiswa dari Pemerintah Singapura untuk mengikuti program Nalanda Sriwijaya Archaeological Field School di Kamboja dan Singapura yang dijalankan oleh Institute of Southeast Asia Studies (ISEAS), Singapura. Saat ini aktif sebagai salah seorang Research Assistance di Centre for Global Archaeological Research-USM. Fokus penelitiannya adalah Perdagangan Maritim Kuno di Lautan Asia Tenggara.