Pada akhir tahun 2016 saya berkesempatan untuk melakukan penelitian arkeologi di bukit Lamreh, Aceh Besar. Kawasan ini menyimpan begitu banyak benda arkeologis seperti batu nisan, Pecahan Keramik, Ciling, dan Benteng. Artefak-artefak ini tentunya sangat bernilai dan menjadi bukti penting untuk mengetahui keberadaan Kerajaan Lamuri. Kerajaan Lamuri adalah salah satu kerajaan Islam yang sudah ada sejak abad ke 7 Masehi. Beberapa sejarawan meyakini letak kerajaan Lamuri ialah di Bukit Lamreh. Saya dan kawan-kawan ditemani sang guru Dr. Husaini Ibrahim dan beberapa student USM Malaysia melakukan observasi selama 20 hari di Bukit Lamreh. Pada hari pertama, kami akan melakukan pengamatan terhadap nisan-nisan yang kami jumpai di Lamreh. Pagi itu saya sudah bergegas dengan memeriksa peralatan penelitian, buku catatan, bolpoin dan kamera sudah dimasukkan ke dalam tas. Saya tidak lupa mengambil skala untuk mengukur setiap nisan yang kami jumpai nantinya. Menyusuri hutan bukit Lamreh yang luasnya mencapai 68 Hektar menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Bagaimana tidak, Bukit Lamreh dikenal terjal dan dipenuhi dengan semak belukar. Kami menapaki jalan setapak yang sering dilalui lembu ditambah hutan yang lebat membuat jalan kami sedikit susah. Namun dengan semangat kami terus berjalan mencari nisan-nisan yang katanya mempunyai bentuk yang sangat indah.

Setelah berjalan sekitar lima ratus meter kami menemukan sebuah nisan yang mempunyai bentuk yang sangat unik. Pemandu mengatakan ini adalah nisan Plak Pleng. Kabarnya Nisan Plak Pleng masih mengadopsi simbol dan hiasan zaman Hindu-Buddha. Masih nampak jelas terlihat nisan ini menyerupai bentuk Stupa dalam agama Buddha. Ornamennya pun banyak menggunakan bunga teratai dan salur-saluran tumbuhan yang sering kita jumpai pada bangunan Candi. Nisan ini mempunyai ketinggian sekitar 1 meter bentuknya begitu indah dengan hiasan ornamen yang dipahatkan ditambah dengan Inskripsi arab yang menerangkan nama pemilik nisan. Selain itu pada badan nisan juga dipahatkan puisi sufi untuk mengingatkan manusia akan mati. Berikut kutipannya “Tiada tuhan yang patut di sembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusannya. Dunia itu sesaat maka jadikanlah ia ketaatan, Dunia itu bangkai pencarinya adalah anjing” (Bacaan: Ustaz Taqiyuddin). Nisan ini mempunyai Tarikh 1419 Masehi atau sekitar 600 tahun yang lalu.

Menelusuri Lamuri
Menelusuri Lamuri

Setelah mengambil gambar secukupnya kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah Barat. Dalam perjalanan kami menemukan puluhan nisan di bukit Lamreh dengan berbagai bentuk dan hiasan. Namun kondisinya sangat miris sebagian nisan sudah tercabut dari tempat asalnya. Dalam hati saya bertanya, Mengapa sebagian nisan tersebut sudah rusak dan tercabut? Apakah disengaja atau rusak sendiri? Setelah bertanya kepada pemandu ia mengatakan nisan ini sengaja dirusak pada tahun 2012. Saat itu wilayah ini ingin dibuat lapangan Golf.  Kabarnya tanah-tanah warga di sana sudah dipanjarkan oleh seorang pengusahaan China untuk pembuatan lapangan Golf. Namun karena desakan dari berbagai pihak rencana tersebut tidak terlaksana. Mungkin beberapa orang kesal karena nisan ini menjadi salah satu penghalang proyek lapangan Golf sehingga mereka merusaknya dengan sengaja.

“Tiada tuhan yang patut di sembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusannya. Dunia itu sesaat maka jadikanlah ia ketaatan, Dunia itu bangkai pencarinya adalah anjing”

Hari-hari berikutnya kami seperti biasa mengayunkan langkah kami menelusuri setiap sudut hutan untuk mencari dan mencatat nisan-nisan peninggalan Kerajaan Lamuri. Suara hentakan kaki layaknya irama musik yang indah dipandu kewaspadaan tingkat tinggi kami terus berjalan mendaki bukit-bukit yang terjal mencari nisan. Kami melangkah dengan sangat hati-hati sambil menikmati pemandangan alam yang indah. Hamparan lautan, dari atas tebing, pantai, dan, kumpulan perahu yang bersandar, dan nelayan yang sedang mencari ikan menjadi bentangan panorama indah di atas Bukit Lamreh. Setiap hari terasa seperti haiking pemandangan Alam yang indah di antara tebing-tebing yang curam yang menampakkan keindahan laut Selat malaka. dalam hati saya berkata keindahan inilah yang membuat para penjelajah seperti Ibnu Batutah, Laksamana Cheng-Ho dan Marcopolo singgah di Lamuri. Lamuri dulunya menjadi pusat perdagangan Maritim yang disinggahi oleh para Penjelajah dari berbagai penjuru dunia.

Suatu hari kami menemukan sebuah pemandangan yang indah yaitu struktur batu bersusun yang menyerupai kolam renang. Sepertinya batu bersusun tersebut dulunya merupakan sebuah kolam pemandian Raja dan permaisuri kerajaan Lamuri. Kolam ini terletak dalam semak belukar yang sulit ditembus. Dibalik pemandangan indah itu kami dikejutkan dengan seekor ular cobra yang jaraknya hanya 10 meter dari kami. Salah seorang dari kawan saya berkata “cepat keluar dari semak-semak itu!!” dalam hati kami bingung kenapa tiba-tiba kami di suruh keluar” setelah kami keluar dari semak itu baru diberitahukan bahwa ada ular yang sedang bertelur di dalam semak-semak tersebut. Dengan perasaan takut kami meninggalkan wilayah tersebut. Sebelumnya pemandu sudah memberitahukan kami bahwa kami sudah masuk ke kawasan sarang Ular Cobra namun karena menemukan pemandangan yang menarik kami tidak lagi menggubrisnya.

Ekspedisi kami dibukit Lamreh hingga hari ke dua puluh Alhamdulillah berjalan sesuai dengan rencana. Kami berhasil mengamati, mencatat dan memfoto semua nisan yang kami jumpai di bukit Lamreh. Cukup banyak catatan di buku catatan penelitian saya tapi saya lebih suka menyebutnya coretan, karena beberapa di antaranya tidak bisa saya baca mungkin karena tulisan tangan saya yang mirip dengan cakar ayam. Semakin kacau ketika harus berlomba menuliskan keterangan dari pemandu kami yang baik hati. Begitu semangatnya mencatat, hampir mencatat semuanya termasuk ayam hutan yang berkokok di Lamreh pun saya catat. Semoga bermanfaat.

[Total: 1    Average: 5/5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here