STRATEGI LAKSAMANA KEUMALAHAYATI MENGUSIR PORTUGIS DI SELAT MALAKA

Aceh merupakan wilayah terbarat dan terluar dari kepulauan Indonesia. Secara geografis, Aceh berbatasan langsung dengan lautan penting dunia, yaitu Selat Malaka dan Lautan Hindia. Karenanya, letak geografis Aceh sangatlah strategis dalam kacamata dunia. Aceh terletak di jalur pelayaran international. Keberadaan Aceh di ujung barat pulau Sumatera menjadi perhatian bangsa-bangsa asing yang menggunakan transportasi laut di Selat Malaka. Inilah yang menjadikan Aceh banyak dikunjungi oleh pendatang dari belahan dunia lain (Hasan Basri M. Nur dan Ahmad Zaki Husaini, 2015, 97).

laksamana keumalahayati

Sketsa laksamana keumalahayati

Kedatangan bangsa asing ke Aceh di satu sisi membawa dampak positif bagi kepentingan ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Namun di sisi lain, reaksi dari tindakan pihak asing tersebut membawa kerugian bagi pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam seperti apa yang telah dilakukan oleh kolonialisme Portugis, oleh karenanya berbagai cara dilakukan oleh Kesultanan Aceh untuk mengusir Portugis di Selat Malaka.

Konflik Aceh dengan Portugis berlangsung sepanjang abak ke-16 hingga akhir perempatan abad ke-17. Dalam konflik yang berlangsung lumayan lama ini muncul figur atau tokoh-tokoh dari kedua belah pihak. Salah satu diantaranya ialah Keumalahayati, ia dikenal dikenal pimpinan armada/pasukan wanita janda atau dalam bahasa Aceh dikenal dengan istilah pasukanĀ  inoeng balee.

Pembentukan pasukan Inoeng Balee adalah taktik atau strategi yang paling utama Keumalahayati lakukan guna melawan penjajah. Pasukan ini tidak hanya terdiri dari pasukan wanita janda, akan tetapi para gadis pun juga ikut dalam peperangan melawan penjajah. Para gadis berpartisipasi hanya untuk membela tanah air, sama halnya dengan para wanita janda, namun para wanita janda mempunyai tujuan utama yaitu menuntut balas dendam atas kematian suaminya. Untuk memimpin armada tersebut, secara resmi Sultan Al-Mukammil mengangkat Keumalahayati sebagai seorang Laksamana.

Strategi selanjutnya yang dilakukan oleh Keumalahayati adalah memberi latihan militer kepada pasukan inoeng balee sebelum bertempur di medan perang agar mereka menjadi mahir dalam menggunakan senjata dan mampu mengendalikan kapal-kapal serta memiliki kemampuan fisik yang kuat sehingga menjadi pasukan yang tangguh. Keumalahayati yang merupakan lulusan angkatan laut Akademi Militer Mahad Baitul Makdis memimpin langsung latihan armada tersebut di Kuta Inoeng Balee. Di sisi lain, strategi pertempuran yang dilakukan oleh Keumalahayati adalah dengan cara mengepung gudang-gudang Portugis yang ada di darat, dan menyerbu kapal-kapal penjajah.

[Tweet “Aceh adalah salah satu utama musuh yang sangat di takuti Portugis, Kesultanan Aceh berkali-kali menyerang Portugis di Selat Malaka, tidak jarang pasukan perang Kesultanan Aceh membuat armada Portugis kewalahan menghadapinya.” quote=”Aceh adalah salah satu utama musuh yang sangat di takuti Portugis, Kesultanan Aceh berkali-kali menyerang Portugis di Selat Malaka, tidak jarang pasukan perang Kesultanan Aceh membuat armada Portugis kewalahan menghadapinya.”]

Strategi pertahanan dilakukan laksamana Keumalahayati ialah dengan mendirikan sebuah benteng pertahanan di perairan Selat Malaka, tepatnya di sisi timur Bandar Aceh Darussalam. Benteng tersebut diberi nama Kuta Inoeng Balee (Benteng Wanita Janda). Pembangunan Kuta Inoeng Balee dibangun pada masa Sultan Al-Mukammil memerintah. Dibangunnya Kuta Inoeng Balee guna mengawasi kapal laut asing yang lalu lalang serta melewati lautan Selat Malaka. Hingga saat ini sisa-sisa Kuta Inoeng Balee masih dapat dilihat di teluk Lamreh, Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar.

Benteng Inong Balee

Benteng Inong Balee

Sebagai seorang laksamana, Keumalahayati mengkoordinir sejumlah pasukan laut serta mengawasi pelabuhan-pelabuhan pada pusat Pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam. John Davis, seorang berkebangsaan Inggris adalah orang yang pertama mengunjugi Kerajaan Aceh pada masa Keumalahayati menjadi laksamana. John Davis menjadi nahkoda kapal Belanda, ia menyebutkan bahwa Kerajaan Aceh pada masa itu mempunyai perlengkapan armada laut yang terdiri 100 buah kapal perang (galey), diantaranya ada yang berkapisitas 400-500 penumpang di bawah pimpinan Laksamana Keumalahayati. (lihat Wanita Utama Nusantara dalam Sejarah, dalam Jacob, 1894, 185).

Aceh adalah salah satu utama musuh yang sangat di takuti Portugis, Kesultanan Aceh berkali-kali menyerang Portugis di Selat Malaka, tidak jarang pasukan perang Kesultanan Aceh membuat armada Portugis kewalahan menghadapinya.

About The Author

Related Posts