Dooooor…. Doorrr…. Doorrr… Bunyi suara tembakan terdengar di kejauhan, Ibu bergegas meninggalkan jemuran dan mengajak kami mengungsi ke rumah tetangga. Suara tembakan itu memperingatkan kami akan terjadi kontak tembak yang hebat antara kombantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) versus Tentara Negara Indonesia (TNI). Dengan kaki yang gemetar dan perasaan takut aku dan keluarga berlari menuju rumah tetangga yang jauhnya sekitar 20 meter dari rumahku. Saat tiba di sana sudah banyak tetangga-tetangga lainnya yang tiarap menghindari peluru nyasar. Mereka menganggap rumah yang berdinding beton akan menghalangi peluru yang mungkin menyasar. Kontak tembak antara GAM dan TNI hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumahku. Suara kontak tembak semakin terdengar keras di telingaku, semua orang tidak terkecuali aku berdoa agar musibah peperangan ini cepat berakhir.

Sesudah dua jam kontak tembak berlangsung suasana menjadi sunyi senyap. Sesaat kemudian kami mendengar suara mobil panser menyusuri perlahan di jalan, “katrok bantuan” (sudah sampai bantuan) tutur seorang nenek dengan suara pelan. Kami hanya bisa diam dan berharap tidak ada orang kampung kami yang menjadi korban keganasan TNI hari itu. Sesudah beberapa lama seorang kakek keluar dari rumah dan memberitahukan kami bahwa keadaan sudah aman. aku melihat wajah-wajah mereka masih trauma dengan kejadian tersebut. Di sudut rumah aku melihat sekelompok pemuda sedang mengobrol tentang kontak tembak yang baru saja terjadi. Tiba-tiba datang seorang pemuda memberitahukan kami bahwa kepala desa kami telah dibawa oleh tentara karena di tuduh mendukung pemberontak GAM. Semua orang meneteskan air mata ketika mendengar kabar tersebut, karena siapa saja yang sudah di tangkap TNI mereka sudah pasti tidak akan kembali lagi dengan selamat.

Perang Aceh antara GAM dengan TNI
Abdullah Syafi’i merupakan Panglima GAM

Itulah sepenggal kisah perang Aceh yang saya alami sendiri sekitar tahun 2000. Saat itu perang antara GAM dan TNI terjadi begitu hebat di Aceh. Saya dan keluarga tinggal di sebuah perkampungan yang terletak di pedalaman Aceh Utara. Sebagaimana yang diketahui Aceh Utara merupakan wilayah basis anggota Gerakan Aceh Merdeka sehingga sangat sering terjadi perang di sana. Tulisan kali ini, saya hanya ingin menceritakan kembali tentang Gerakan Aceh Merdeka melawan pemerintah Indonesia yang dimulai sejak tahun 1976. Mungkin ini akan bermanfaat untuk sekedar mengingat kembali begitu pahitnya perang dan semoga peristiwa tersebut tidak lagi terulang.

Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah organisasi yang memiliki tujuan supaya Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia

Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah organisasi yang memiliki tujuan supaya Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976.  Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM didirikan oleh Hasan Tiro yang dideklarasikan di Bukit Gunung Halimun, kawasan Pidie. Gerakan Aceh Merdeka berdiri karena beberapa faktor diantaranya ialah faktor ekonomi. Aceh memang dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki hasil alam berupa minyak dan Gas yang melimpah sekitar tahun 1980an. Namun pemerintah pusat hanya memberikan 1 persen dari 100 persen pendapatan nasional, padahal Aceh saat itu memberikan 14 persen sumbangan terhadap pendapatan nasional negara Indonesia. Faktor ini telah menimbulkan kekecewaan di kalangan elit pejabat Aceh sehingga mereka memutuskan untuk mendirikan Negara Aceh dan mengangkat senjata melawan Pemerintah Indonesia. Adapun kabinet pada awal pendirian negara Aceh ialah Hasan Tiro (Presiden), Dr. Muchtar Hasbi (Perdana Menteri), Tengku Ilyas Leubeu (wakil Perdana Menteri), Muhammad Usman (Menteri Keuangan), Ir. Asnawi Ali (Menteri pekerjaan Umum), Amir Ishak BA (Menteri perhubungan) dan Dr. Zubir Mahmud (Menteri Sosial). Mereka sebagian besar menentap di Swedia sangat jarang pulang ke Aceh.

Baca: Gelora Kemerdekaan Di Aceh

Perang Aceh dan pemerintah Indonesia berlangsung selama 30 tahun dengan korban yang diperkirakan mencapai 15.000 jiwa. Aceh beberapa kali juga telah dibuat sebagai wilayah darurat militer oleh pemerintah pusat baik pada masa Soeharto maupun masa reformasi. Selain itu  pemerintah juga telah membuat beberapa kali upaya perdamaian namun selalu gagal. Namun pada Tahun 2004 Aceh diguncang bencana besar Tsunami yang menelan banyak korban jiwa sehingga kedua belah pihak menyepakati untuk berdamai pada tahun 2005. Perdamaian tersebut difasilitasi oleh Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari dan beberapa pejabat Uni Eropa lainnya. Kini 12 tahun sudah Aceh hidup dalam kondisi aman dan damai, semua pihak tentunya tidak mengharapkan lagi perang terjadi di Aceh. Sebagaimana yang diketahui, Aceh merupakan sebuah wilayah yang terkenal dengan peperangan yang berkepanjangan. Telah banyak perang yang terjadi di bumi serambi Mekkah diantaranya perang Belanda (1873-1942), perang Jepang (1942-1945), Perang Cumbok (1946),Perang DI/TII (1953-1962) dan Perang Gerakan Aceh Merdeka (1976-2005). Semoga tidak ada lagi yang namanya perang di Aceh, karena perang hanya akan meninggalkan kebodohan bagi generasi penerus. Wallahualam, Semoga bermanfaat.

[Total: 1    Average: 5/5]