Sejarah Desa Lamreh: Bukti keberadaan Kerajaan Lamuri

Latar belakang sejarah Lamreh sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan para ahli sejarah dan purbakala. Beberapa ahli berpendapat bahwa Lamreh merupakan nama sebuah kerajaan yaitu Lamuri dengan melihat toponim Lamreh yang disamakan dengan Lamuri. Sejarah Lamuri masih bisa ditelusuri melalui beberapa catatan penjelajah yang pernah datang atau singgah di Lamuri.

Tome Pires dalam karangannya mengenai pulau Sumatera “The Suma Oriental of Tome Pires” (1520), memberi gambaran letak Lamuri ialah di antara Kesultanan Aceh Darusalam dan wilayah Biheue. Lebih lanut T. Iskandar dalam disertasinya “De Hikayat Atjeh” (1958), menyatakan bahwa Lamuri berada di tepi laut (pantai), tepatnya berada di dekat Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar (Zakaria Ahmad, 2009: 55).

Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh H. M. Zainuddin, M. Junus   Jamil dan Ali Hasyimi, mereka berpendapat bahwa Lamuri terletak  di Aceh Besar yaitu Lam Uriek dekat Sibreh sekarang. Dari kedua lokasi yang berbeda tersebut, diyakini bahwa Gampong Lamreh yang berada di Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar adalah bekas pemukiman Lamuri dengan bukti ditemukannya batu nisan kuno serta bukti-bukti pendukung lainnya berupa bekas peralatan yang digunakan untuk keperluan ekonomis yang erat hubungannya dengan aktifitas hunian masyarakat masa lampau.

Benda Peninggalan Kerajaan lamuri

Benda Peninggalan Kerajaan Lamuri

Namun demikian tidak banyak masyarakat Lamreh yang mengetahui sejarah Lamuri, hanya beberapa orang dari tokoh masyarakat Lamreh yang mengetahuinya. Dari sumber sejarah lisan (folklor) pada masyarakat Gampong Lamreh, nama Lamuri berasal dari dua suku kata bahasa Arab, yaitu lā (tidak) dan rīh (angin). Lamuri adalah daerah yang terletak di antara  pengunungan atau bukit dan lautnya sangat tenang. Makna lā rīh juga berarti bahwa negeri ini jauh dari kejahatan-kejahatan, para raja juga pembesar kerajaan serta rakyatnya hidup damai dan tentram di wilayah ini.

[clickToTweet tweet=”Kerajaan Lamuri telah dikenal oleh penjelajah asing sejak abad ke-9 M. ” quote=”Kerajaan Lamuri telah dikenal oleh penjelajah asing sejak abad ke-9 M. Sejak berdirinya Kerajaan Aceh namanya dikenal dengan Lubok (antara Aceh dan Pedir) dan menjadi daerah yang sangat penting bagi pertahanan wilayah Kerajaan Aceh.”]

Di antara  data mengenai keberadaan Kerajaan Lamuri dapat dilacak berdasarkan berita dan catatan-catatan para  pedagang dan pelaut asing. Nama Lamuri telah dicatat oleh pendatang dari Arab, Cina, dan Eropa. T. Iskandar sebagaimana dikutip Zakaria Ahmad dalam “Menelusuri Aceh pada Zaman Prasejarah dan Zaman Kuno (Menjelang Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh)”, di antara  para penjelajah yang pernah mencatat keberadaan Lamuri ialah Ibnu Kordadhbeh (844-848 M), Sulaiman (955 M), Mas’udi (943 M) dan Buzurg bin Syahriar (955 M), semuanya adalah penulis Arab. Mereka menyebutkan negeri ini dengan nama Ramni dan Lamuri, sebuah negeri yang menghasilkan kapur barus dan hasil bumi penting lainnya.

A. K. Dasgupta dalam tesisnya “Aceh in Indonesia Trade and Politic: 1600-1641” sebagaimana dikutip Zakaria Ahmad menyebutkan pula bahwa pada tahun 960 M Lamuri telah tercatat dalam berita Cina. Lamuri disebut dengan nama Lanli, sebuah tempat yang dapat disinggahi oleh utusan-utusan Parsi yang kembali dari Cina sesudah berlayar empat puluh hari lamanya. Dari berita tersebut sangat jelas bahwa sejak abad ke-8 M bangsa asing telah singgah di wilayah Lamuri. Dalam “A History of Malaya” disebutkan penulis Cina Chau-Yu-Kwa dalam bukunya “Chen Fan-Shi” (terbit dalam tahun 1225 M), tercatat bahwa di antara  jajahan San-fo-ts’i (Sriwijaya) termasuk juga  Lan-wu-li (Lamuri).

T. Iskandar menambahkan bahwa pada tahun 1286, Lan-wu-li bersama-sam Su-wen-ta-la mengirim utusan ke negeri Cina dan berdiam di sana sambil menunggu kembalinya ekspedisi Kubilai Khan dari Jawa. Tahun 1292 M, seorang penjelajah barat yang cukup terkenal, yaitu Marco Polo mencatat setidaknya ada 8 kerajaan di wilayah Jawa Minor (Sumatera), di antara nya adalah Lamri (Lamuri). Ia menyebutkan bahwa Lamuri tunduk kepada kaisar Cina. Raja Lamuri diwajibkan membayar upeti kepada kaisar Cina setiap tahunnya.

Dalam buku tahunan Dinasti Ming, pada tahun 1405 telah dikirim ke Lam-bu-li sebuah cap dan surat, dan  pada tahun 1411 negeri ini mengirim utusan ke Cina untuk membawa upeti. Utusan dari negeri Lamuri tiba bersamaan ekspedisi Cheng-Ho. Tahun 1412, Raja Mahama-Shah (Muhammad Syah) dari Lam-Bu-Li bersama-sama Samudera mengutus sebuah delegasi ke Cina untuk membawa upeti. Sha-Che-Han (Syah Johan) putera Mahma-Syah adalah utusan Lam-Bu-Li yang dikirim setiap tahunnya. Dalam tahun 1430 sewaktu Cheng Ho membawa hadiah-hadiah ke seleruh negeri, Lamuri juga memperoleh bagiannya (Zakaria Ahmad, 2009: 48-51). Dari tujuh kali perjalanan Cheng Ho, ketujuh-tujuhnya ia singgah di Lamuri.

Dalam buku catatan perjalanan Cheng Ho yang ditulis oleh Ma-Huan menyebutkan bahwa Lamuri jaraknya tiga hari tiga malam berlayar dari Samudera Pasai ketika angin baik. Di sebelah barat dan utaranya menghadap laut yang luas, sebelah selatannya gunung, dan timur berbatasan dengan Kerajaan Lide. Cheng Ho mencatat di Lamuri  terdapat lebih seribu kepala keluarga, penduduknya beragama Islam dan hidup sederhana. Istana raja dan rumah penduduk Lamuri adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu/papan, bagian bawahnya dijadikan kandang ternak. Rumah penduduknya lebih kecil daripada istana raja (Kong Yuanzhi, Muslim Tiongkoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, 2005: 115).

Tome Pires sebagaimana dikutip Zakaria Ahmad menyebutkan bahwa di pantai utara daerah Aceh terdapat 6 reinos dan 2 terras, yaitu reino de Achey e Lambry, terra de Biar, reinos de Pedir, terra de Ailabu, reino Lide, reino de Pirada, reino de Pasee. Nama-nama tersebut masih dapat dikenali sampai sekarang, yaitu Aceh, Lamuri (Lamreh), Biheu, Pidie, Ie Leubue, Peudada, dan Pasee.

Pada abad ke-16 nama Lamuri tidak disebutkan lagi oleh para pendatangpenjelajah asing. Dalam hal ini T. Iskandar sebagaimana dikutip Zakaria Ahmad menyebutkan pada akhir abad 15 M pusat kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam yang terletak pada sisi utara krueng Aceh. Ada dua factor yang menyebabkan pindahnya pusat kerajaan Lamuri. Pertama adanya serangan dari kerajaan Pedir yang memaksakan pemerintahan kerajaan dipindah ke wilayah yang lebih aman, kedua karena pendangkalan muara sungai Lubok yang mengalir melalui pusat kerajaan Lamuri sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai sarana pelayaran. Sejak itu, Lamuri lebih dikenal dengan kerajaan Meukuta Alam yang kemudian berkembang menjadi kerajaan Aceh Darussalam (Zakaria Ahmad, 2009: 55-56).

Pada masa pemerintahan kerajaan Aceh Darussalam, bekas wilayah kekuasaan Lamuri menjadi salah satu daerah yang sangat penting bagi pertahanan wilayah, namun tidak disebut dengan nama Lamuri melainkan Lubok (antara Aceh dan Pedir) (Claude Guilot, 2002: 46).

Pada saat Ratu Naqiatuddin Nurul Alam memerintah kerajaan Aceh darussalam (1666-1678) dibentuk tiga sagoe mukim/sagi mukim yang disebut dengan istilah Aceh Lhee Sagoe. Ketiga sagoe mukim itu ialah mukim XXII di Indrapuri, mukim XXVI di Indrapatra, dan mukim XXV di Indrapurwa. Angka-angka mukim melambangkan jumlah gampong di masing-masing wilayah ini. Wilayah  Lamreh termasuk ke dalam wilayah sagoe XXVI mukim yang terletak di kawasan tepi laut Selat Malaka, yaitu Ladong Aceh Besar, kira-kira 33 km dari Kota Banda Aceh. Kota pelabuhannya bernama Krueng Raya dan Lamreh (Husaini Ibrahim, 2014: 78). Dari beberapa catatan diatas jelas bahwa Lamreh adalah suatu daerah yang sejak dahulu sudah dikenal dunia luar. Lamreh juga memegang peran penting terhadap pertahanan wilayah kekuasaan Lamuri dan kerajaan Aceh Darussalam dengan adanya tinggalan bekas bangunan pertahanan yaitu benteng yaitu Benteng Inoeng Balee dan Benteng Kuta Lubok. Kini Lamreh termasuk gampong atau desa yang berada dalam wilayah teritorial pemerintahan Kabupaten Aceh Besar yang berada di Kecamatan Mesjid Raya. Kerajaan Lamuri telah dikenal oleh penjelajah asing sejak abad ke-9 M. Sejak berdirinya Kerajaan Aceh namanya dikenal dengan Lubok (antara Aceh dan Pedir) dan menjadi daerah yang sangat penting bagi pertahanan wilayah Kerajaan Aceh.

Note: Selengkapnya dapat dibaca dalam: Ahmad Zaki, Peninggalan Arkeologi di Situs Lamreh Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar, Skripsi, Banda Aceh: Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, 2016.

 

[Total: 1    Average: 5/5]

About The Author

Related Posts