Dua puluh tahun yang lalu seorang anak negeri bernama Habibie berhasil membuat sebuah pesawat yang diberi nama N250. Pesawat N250 adalah sebuah pesawat penumpang sipil yang mampu menampung 50 sampai 70 orang. Pada tanggal 10 Agustus 1995 pesawat N250 buatan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) berhasil mengudara di langit Indonesia. Bahkan Presiden Soeharto kala itu menyaksikan langsung uji coba pesawat baling-baling bermesin Turbobrop di Bandara Husein Sastra negara, Bandung, Jawa Barat. Saat itu Indonesia berhasil membuktikan pada dunia bahwa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang modern kita mampu membuat pesawat sendiri. Kebanggaan rakyat Indonesia saat itu ternyata hanya berlangsung sesaat. Betapa tidak, Impian Habibie membuat N250 bisa dinikmati rakyat Indonesia kandas di tengah jalan karena krisis moneter yang melanda Indonesia. Ada juga beberapa kalangan meyakini pesawat tersebut sengaja dihentikan karena sebahagian negara tidak menginginkan Indonesia maju dalam bidang Industri. Bagaimana peristiwa kandasnya pesawat N250 buatan Habibie? dan siapa sebenarnya sosok Habibie?

Lahirnya pesawat N250 tidak terlepas dari seorang tokoh yang hebat bernama lengkap Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie. Beliau lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada tanggal 25 Juni 1936. Saat ayahnya meninggal tahun 1950 ibu beserta keluarganya pindah ke Bandung. Setelah menamatkan SMA di Bandung beliau melanjutkan belajar di ITB (Institut Teknologi Bandung). Pada tahun 1955 Soekarno mempunyai impian menjadikan bangsa Indonesia yang cerdas dan mampu bersaing dalam bidang teknologi sehingga beliau menyekolahkan putra putri terbaik bangsa Indonesia ke luar negeri agar kelak mampu bersaing dengan negeri lain. Kesempatan tersebut digunakan dengan baik oleh Habibie sehingga beliau berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk melanjutkan studi ke Jerman. Ketertarikannya kepada dunia kedirgantaraan membuatnya memilih masuk Universitas Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH), Jerman. Disana beliau bekerja keras untuk belajar sehingga mendapatkan predikat Cumloude dengan gelar Diplom Ingenier. Selanjutnya beliau bekerja di sebuah perusahaan penerbangan di Humburg, Jerman sekaligus melanjutkan studi Doctoral pada Univesitas yang sama sehingga Habibie berhasil memperoleh gelar Doktor Ingenier.

Pesawat N250 pertama mengudara di langit Jawa barat
Pesawat N250 pertama mengudara di langit Jawa barat

Setelah lama menetap di Jerman, Habibie telah menemukan banyak penemuan baru dalam dunia penerbangan yang diakui oleh dunia International. Beberapa penemuan beliau antara lain ialah Habibie mencetuskan rumus untuk menghitung keretakan atau crack progression on random. Rumus temuan Habibie ini ia namakan “Faktor Habibie”. Rumus temuan Habibie ini dapat menghitung crack progression sampai skala atom material kontruksi pesawat terbang. Sehingga Habibie dijuluki “Mr. Crack”. Selain itu ia juga telah berhasil membuat beberapa rancangan pesawat seperti Airbus A300, Pesawat Angkut Militer Transall C-160, Hansa Jet 320 dan Pesawat N250. Pesawat N250 adalah pesawat rancangan Habibie yang paling terkenal di Indonesia era 90 an.

Sesuai dengan janjinya pada Soekarno, Habibi Pulang ke Indonesia untuk membangun negeri. Memiliki segudang pengalaman yang didapatkan di Jerman beliau memberanikan diri untuk membangun PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) bekerja sama dengan pemerintah Indonesia. Pada tahun 1976 beliau bersama Nurtanio sebagai direktur utama mulai mengembangkan pesawat dengan merekrut lulusan terbaik luar negeri untuk bekerja di sana. Pada tahun 1995 pesawat pertama buatan Habibie selesai dan siap diterbangkan di Bandara Husein Sastra negara, Bandung, Jawa Barat. Saat uji coba pertama banyak pengamat yang meyakini pesawat ini tidak akan bisa terbang bahkan akan jatuh saat lepas landas. Saat itu Soeharto dan ribuan masyarakat sudah memadati Bandara Husein Sastra negara, Bandung, Jawa Barat dengan rasa cemas dan bahagia. Ternyata setelah lepas landas pesawat N250 terbang dengan sempurna diiringi dengan tepuk tangan yang meriah dari masyarakat dan pejabat-pejabat negara. Soeharto dan beberapa pejabat memberikan ucapan selamat kepada Habibie namun dengan ucapan yang merendah Habibie berkata “Ini bukan karya saya tapi karya insinyur-insinyur terbaik Indonesia”

“Ini bukan karya saya tapi karya insinyur-insinyur terbaik Indonesia”

Setelah uji coba awal berhasil dilakukan pesawat N250 hanya membutuhkan sertifikasi dari beberapa negara agar bisa diproduksi masal di Indonesia dan layak beroperasi di beberapa negara. Faktor tersebut merupakan awal mula pesawat N250 terhenti karena biaya penerbangan di luar negeri saat itu sangat tinggi sehingga membuat proses sertifikasi ini sedikit sulit dilakukan. Sebenarnya N250 saat itu sudah diterbangkan di beberapa negara termasuk di Norwegia yang merupakan negara yang beriklim dingin. Namun jam terbang N250 masih belum cukup untuk mendapatkan sertifikasi dari pihak pemberi izin penerbangan. Pada tahun 1998 terjadilah bencana besar yang bernama krisis moneter yang mengakibatkan krisis Finansial sehingga negara Indonesia harus meminjamkan uang kepada IMF (International Monetery Fund). Kala itu salah satu syarat yang diajukan IMF kepada Indonesia ialah menghentikan subsidi dari pemerintah untuk IPTN. Soeharto saat itu sebagai presiden tentunya lebih memilih menyelamatkan negara daripada menyelamatkan pesawat N250 sehingga tamatlah riwayat pesawat N250 karya anak negeri. PT IPTN tidak memiliki biaya untuk melanjutkan proses sertifikasi pesawat N250 ke berbagai negara. Bahkan saat itu, terjadinya pemecatan besar-besaran terhadap karyawan IPTN dari 48.000 pekerja hanya meninggalkan 4000 pekerja. Mereka yang sudah dipecat di IPTN memilih bekerja di luar negeri pada perusahaan penerbangan di luar negeri seperti Iran, Qatar dan Jerman.  Ditangan terampil merekalah lahir temuan-temuan baru yang menyempurnakan pesawat baik yang bermesin Boeing maupun Airbus yang diproduksi perusahaan luar negeri.

Habibie tidak pernah lupa kegagalan N250 dan pemecatan para karyawan IPTN.  Beliau juga ikut bertanggungjawab terhadap perginya ilmuan-ilmuan hebat ke luar negeri akibat pemecatan itu. Mereka yang bekerja dengan Habibie saat itu ialah putra putri terbaik yang kuliah S1 hingga S3 diluar negeri sehingga sangat mudah bagi mereka mendapatkan pekerjaan diluar negeri dengan gaji yang besar.

Lantas sekarang Habibie masih memiliki impian besar untuk mewujudkan niatnya agar Indonesia mempunyai pesawat sendiri dan mampu bersaing dengan industri negera lain. Bersama anaknya Dr. Ilham Habibie sedang merintis sebuah pesawat baru yang diberi nama R80. Melalui PT Ragio Aviasi Industri pesawat R80 sedang dalam proses pembuatan. Semoga pesawat ini berhasil mengudara dan dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke sebagaimana impian Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie. Wallahualam. Semoga bermanfaat.

[Total: 3    Average: 4.7/5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here