Perempuan Pejuang dalam Lintasan Sejarah Aceh

Isteri sultan Muhammad Daud Syah yang bernama Pocut cot Murong.

Isteri sultan Muhammad Daud Syah yang bernama Pocut cot Murong.

Sebagai daerah yang pernah dikuasai oleh bangsa asing, Indonesia memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Sebelum terbentuknya negara kebangsaan, di wilayah Indonesia sekarang pernah berdiri beberapa buah kerajaan yang memiliki kedaulatan dan wilayah pemerintahan masing-masing. Setiap kerajaan mempunyai corak dan sistem pemerintahan sendiri. Pada awalnya berdiri kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha, kemudian muncul kerajaan-kerajaan Islam. Dua kerajaan bercorak Hindu -Budha yang besar di Indonesia adalah kerajaan Sriwijaya di Sumatera (berakhir abad ke-13 M), dan kerajaan Majapahit di Jawa (berakhir abad ke-15 M). Selain itu ada juga kerajaan di nusantara yang tidak banyak disebutkan dalam sejarah Indonesia seperti Kerajaan Lamuri di Aceh, yang kemudian berubah menjadi kerajaan Islam. Setelah itu muncul beberapa kerajaan Islam seperti kerajaan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam.

pòtjoet Awan istri Teukoe Panglima Polim di Sigli

pòtjoet Awan istri Teukoe Panglima Polim di Sigli

Dalam perkembangannya setiap kerajaan mengalami pasang surut sesuai dengan kondisi masanya. Adakalanya sebuah kerajaan diperintah oleh raja yang adil sehingga membawa kemakmuran, adakalanya diperintah oleh raja yang zalim sehingga membawa kesengsaraan bagi rakyatnya. Selain raja laki-laki, tidak jarang sebuah kerajaan juga dipimpin seorang raja perempuan. Sejarah mencatat nama Ratu Shima (674 M ) di Kerajaan Kalingga Pantai Utara Jawa Tengah  sebagai raja yang adil dan tegas. Di Aceh tercatat nama-nama raja perempuan yang berhasil memimpin dengan baik, seperti Ratu Nur Ilah di Samudra Pasai yang mangkat pada tahun 1380 M dan Ratu Nahrisyah  yang mangkat pada tahun 1428 M, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah (1641-1675), Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin  Syah (1676-1678), Sultanah Inayat Zakiyatuddin Syah (1678-1688), dan Sultanah Kamalat Ziatuddin Syah (1688-1699).  Semua sultanah ini memerintah di kerajaan Aceh darussalam setelah mangkatnya Sultan Iskandar Muda sebagai raja yang agung.

Pòtjoet Di Rambong (kanan) dalam penjara di Koetaradja

Pòtjoet Di Rambong (kanan) dalam penjara di Koetaradja

Keadaan terus berubah, perubahan zaman tak bisa dibendung, ketika banyak kerajaan di Indonesia mengalami kehancuran karena berhadapan dengan penguasa asing yang menjajah semua negeri, timbullah perlawanan dimana-mana. Dalam perlawanan terhadap penjajah terutama ketika masa kolonialis Belanda, di berbagai daerah muncul pahlawan. Selain pahlawan dari pihak laki-laki, juga muncul pahlawan perempuan yang dengan berbagai kekuatan mempertahankan negara, sebut saja misalnya R.A. Kartini di Jawa yang berhasil mengangkat derajat kaum wanita, dan Dewi Sartika di daerah Sunda. Demikian juga perempuan di daerah lain turut berjasa dalam berjuang mengusir penjajah, terutama di  Aceh yang terkenal sebagai basis perlawanan terhadap penjajah.

Pocut Baren, ulama wanita dan panglima perang yang terkenal gigih melawan penjajahan Belanda. Ia uleebalang daerah Gume, Aceh Barat.

Pocut Baren, ulama wanita dan panglima perang yang terkenal gigih melawan penjajahan Belanda. Ia uleebalang daerah Gume, Aceh Barat.

Kehadiran kaum perempuan di Aceh dalam membela negara sebenarnya bukan hanya terjadi pada saat kolonialis Belanda, tetapi juga jauh sebelumnya pada masa Portugis ingin berkuasa di perairan Selat Malaka, pahlawan Aceh sudah mulai turut berperang, andil perempuan Aceh dalam mempertahankan negara cukuplah besar, misalnya Laksamana Keumalahayati dengan pasukan Inong Balei merupakan sosok pejuang yang sangat ditakuti musuh. Dalam mengusir penjajah Belanda di Aceh, silih berganti para pahlawan maju ke medan perang, di antaranya Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia secara gigih dan perkasa berjuang mempertahankan agama dan negara dari penjajahan. Mereka berjuang tanpa pamrih sampai nyawa sekalipun rela dikorbankan. Banyak pejuang perempuan yang syahid, dan ada juga yang ditawan musuh lalu dibuang ke daerah lain yang terisolasi. Para syuhada telah berjuang secara ikhlas dan mereka telah mewariskan nilai-nilai perjuangan bagi generasi berikutnya.

Writen By : Dr. Husaini Ibrahim, MA

About The Author

Related Posts