PENINGGALAN SEJARAH DAN KESADARAN SEJARAH DI ACEH, SUATU TANTANGAN MASA DEPAN

Historynusantara.com Sebagai peninggalan sejarah seumpama mesjid kuno, makam, naskah dan bangunan lama merupakan benda-benda yang cukup banyak di Aceh. Kehadirannya adalah tidak terlepas dari perjalanan yang panjang suatu masa kejayaan beberapa kerajaan yang ada di Aceh seperti Kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Seiring dengan perjalanan waktu yang terus berputar, maka sejarahpun turut bergulir meninggalkan jejak-jejaknya. Berbagai perubahan terjadi yang memang tidak bisa dielakkan. Berkaitan dengan hasil sejarah, manusia sebagai makhluk yang menyejarah dihadapkan pada suatu tantangan menyelamatkan peninggalan sejarah atau membiarkan saja mengikuti arus sesuai dengan perkembangan zaman. Berbagai peninggalan sejarah yang ada di Aceh mengalami
kehancuran oleh berbagai faktor baik disengaja ataupun tidak. Cukup banyak mesjid kuno yang dibangun pada abd ke-17 dihancurkan lalu diganti atau dibangun mesjid yang baru. Makam dengan berbagai jenis tipe nisan kubur mulai abad ke-13 hingga akhir Kerajaan Aceh abad ke-19banyak terbengkalai, sebagian dijadikan batu pengasah oleh masyarakat setempat.
Demikian juga Aceh yang dikenal sebagai gudang naskah di Nusantara,kini sangat sulit untuk mendapatkannya apalagi ketika tsunami yang melanda Aceh tanggal 26 Desember 2004 kebanyakan naskah kuno di Aceh telah lenyap ditelan bersamanya. Bukan itu saja contoh lain adalah bangunan-bangunan bersejarah seperti Balai Teuku Umar, Rumah tempat tinggal C.Snouck Hurgonje dan Hotel Aceh yang memiliki nilai sejarah semuanya sudah tidak ada lagi.
Bangunan sudah berubah menjadi toko atau bentuk lainnya. Dari contoh di atas apakah ini suatu pertanda bahwa kesadaran sejarah orang Aceh sangat tipis atau ada faktor lain yang memungkinkan hal ini terjadi, seperti kurangnya komitmen pemerintah terhadap peninggalan sejarah di Aceh atau pengetahuan masyarakat tentang peninggalan sejarah amat dangkal. Mungkin juga faktor sanksi hukum yang tidak pernah diperlakukan bagi orang-orang yang merusak benda cagar budaya atau alasan lain seperti konflik Aceh yang berlarut-larut sehingga penanganan masalah peninggalan sejarah di Aceh terabaikan.
Peninggalan sejarah di Aceh tersebar di berbagai kawasan dalam beberapa kabupaten yang ada, namun diantaranya yang paling banyak dan berfariasi adalah terdapat dalam kawasan Kota Banda Aceh. Hal ini bisa dimaklumi karena Banda Aceh merupakan ibukota dari Kerajaan Aceh Darussalam yang pernah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda abad ke-17 lalu. Sebagai pusat kerajaan, segala aktivitas berlangsung di Banda Aceh. Oleh karena itu banyak peninggalan sejarah dijumpai di sana.
Peninggalan sejarah di Banda Aceh bukan hanya berasal dari masa kejayaan Islam saja, namun peninggalan masa kolonialpun banyak dijumpai di sana, akan tetapi jumlahnya tidak sebanyak peninggalan masa Islam. Banda Aceh sebagai ibukota dan pusat pemerintahan tetap berlangsung hingga masa kolonial bahkan sampai sekarang ini.
Oleh karena banyaknya peninggalan sejarah masa Islam di Kota Banda Aceh, maka pembahasan dalam tulisan ini dibatasi dalam kawasan tersebut dengan fokus utama adalah masalah nisan kubur sebagai peninggalan sejarah yang tidak bergerak. Kawasan ini merupakan pintu gerbang dan cerminan bagi daerah-daerah lain di Aceh.
Kemudian khusus mengenai mesjid sebagai peninggalan sejarah yang banyak terdapat di Aceh, di samping dipilih mesjid kuno yang ada di Kota Banda Aceh, juga akan dijelaskan beberapa mesjid yang ada di Kabupaten Aceh Besar yang memiliki nilai historis yang tinggi. Aceh Besar merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh, dan daerah ini memiliki ciri pemerintahan tersendiri pada masa kekuasaan Sulthanah (Raja Wanita) di Aceh. Mengenai peninggalan sejarah lainnya yang ada di Aceh sedikit banyaknya akan disinggung juga.

Dikutip dari Jurnal
O l e h: Drs.Husaini Ibrahim,MA

About The Author

Related Posts