Media International BBC tanggal 17 November 2017, memberitakan kondisi suku asli Orang Rimba yang tinggal di hutan hujan Sumatera, Jambi, Indonesia sangat memprihatinkan. Orang Rimba terancam punah di sana, bahkan negara Indonesia telah memaksa mereka untuk meninggalkan kebudayaan lama dan memeluk agama baru. Siapa sebenarnya Orang Rimba? Bagaimana kondisinya sekarang? Mungkin itu menarik untuk dibincangkan.

Orang Rimba ialah salah satu suku asli yang tinggal di hutan hujan Sumatera, Provinsi Jambi, Indonesia dengan perkiraan jumlah populasi mereka sekitar 200.000 orang. Namun jumlah tersebut semakin berkurang. Mereka masih hidup dengan cara berpindah-pindah (nomaden) untuk kelangsungan hidupnya dengan berburu binatang dan mencari buah-buahan di hutan.  Mereka masih menganggap hasil hutan adalah milik bersama. Agama mereka ialah animisme atau mempercayai kepada roh leluhur yang suci. Di dalam hutan, mereka terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang dipimpin oleh seorang yang digelari tumenggung.

Menurut beberapa sumber Orang Rimba berasal dari orang Maalau yang sesat, mereka lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Sumber lainnya menyebutkan mereka berasal dari wilayah Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Pendapat Ini diperkuat dengan bukti bahwa adat suku Orang Rimba mempunyai kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem kekeluargaan matrilineal.

Orang Rimba
Orang Rimba Orang

Masyarakat sekitar lebih sering menyebut mereka suku anak dalam atau suku yang masih terbelakang. Selain itu, ada juga yang menyebutkan mereka dengan istilah suku Kubu yang berarti sangat kotor, menjijikkan, primitif dan sampah. Sedangkan mereka sendiri menamakan diri mereka Orang Rimba. Orang Rimba diperkirakan sudah hidup ratusan tahun dalam hutan hujan Sumatera. Namun mereka semakin tersingkir sejak Indonesia membuka perkebunan sawit di sana.

Sejak Indonesia merdeka Orang Rimba memang tidak diakui oleh negara Indonesia karena mereka tidak memeluk agama dan tidak memiliki identitas. Pada tahun 1980an presiden Soeharto melalui program transmigrasi telah mengirimkan suku Jawa ke berbagai wilayah di Sumatera salah satunya ialah Provinsi Jambi. Pemerintah memberikan tanah bagi orang Jawa serta membuka lahan perkebunan sawit di sana. Sejak itu, wilayah luas hutan secara tradisional rumah bagi Orang Rimba, Soeharto telah menyerahkan wilayah tersebut kepada perusahaan kelapa sawit, karet dan kertas tanpa kompensasi kepada suku-suku asli.

Program transmigrasi telah membawa pendatang dari Jawa untuk tinggal dan menetap di sana. Pemerintah Indonesia saat itu tidak melihat orang rimba sebagai warga negara bahkan sebagai manusia sekalipun. Saat itulah awal mula tersingkirnya orang rimba di hutan hujan Sumatera, Jambi, Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir orang asli semakin terdesak di hutan hujan Sumatera yang merupakan tempat mereka tinggal. Puluhan hektar hutan setiap tahunnya dibakar perusahaan untuk perluasan perkebunan sawit. Tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk mencari makanan. Pembakaran hutan secara besar-besaran oleh perusahaan sawit telah menyebabkan kematian bagi mereka karena disebabkan oleh pencemaran udara sehingga mereka menderita masalah pernapasan.

Perkebunan kelapa sawit baru telah meningkat dengan laju antara 300.000 dan 500.000 hektar per tahun selama 10 tahun terakhir. Dalam 30 tahun yang lalu, lebih dari setengah hutan Sumatera ini telah menghilang, digantikan oleh perkebunan kelapa sawit monokultur.

Menurut salah satu hasil wawancara para peneliti sosial dengan salah satu keluarga suku orang asli bernama Sigungang, mereka masih mencoba bertahan hidup di hutan dengan mencoba berburu babi liar namun usahanya kadang sia-sia. Ia menyatakan “jika kita tidak bisa menemukan apa-apa, kita terpaksa untuk makan buah kelapa sawit dan Itu membuat kepala kita berputar”

Sumber makanan Orang Rimba
Sumber makanan Orang Rimba

Untuk sekarang mereka sangat susah mendapatkan makanan di dalam hutan. Selain itu sungai di hutan perkebunan tercemar dengan pestisida dan keluarganya semakin bermasalah setelah meminum air tersebut. Padahal dari dulu mereka sangat menjaga sungai. Mereka menghormati dewa mata air sehingga mereka tidak buang air besar ke dalam sungai namun sekarang air sungai tidak bisa digunakan lagi.

Mereka banyak yang dipaksa untuk masuk Islam ataupun Kristen. Tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk bertahan hidup selain mengikuti keinginan dari negara. sehingga beberapa di antara mereka terpaksa meninggalkan kepercayaan lama mereka dan masuk agama Islam maupun Kristen. Banyak dari mereka memilih Islam sebagai agama baru.

Pemerintah Indonesia pada tahun 2016 menteri sosial Khofifah menyebutkan “Tidak ada hutan bagi mereka untuk berburu, air mereka memancing dan minum sudah tercemar, dan begitu juga udara, Jadi kita memberi mereka rumah, desa-desa untuk tinggal di sana.”

Pemerintah bekerja sama dengan perusahaan perkebunan telah membangun sejumlah perumahan untuk Orang Rimba. Pada Tahun 2016, Presiden Joko Widodo mengumumkan telah membuat perumahan baru dan memberikan beberapa lahan untuk mereka, setelah pertemuan dengan para pemimpin suku.

Namun usaha pemerintah mengalami kegagalan karena banyak perumahan yang telah dibangun ditinggalkan mereka begitu saja. Orang Rimba yang tinggal di dalamnya hanya sebentar dan kembali ke dalam hutan yang tersisa.

Salah satu orang tertua suku orang rimba mengatakan “Apa yang kami inginkan adalah bagi mereka untuk berhenti membakar hutan kami. Kami tidak ingin rumah seperti orang luar, kami merasa damai dan bahagia di hutan, saya orang dari hutan”.

Kehidupan Orang Rimba
Kehidupan Orang Rimba

Sebahagian dari mereka memilih masuk Islam sehingga mereka dapat melakukan perjalanan dan berjuang untuk mencoba dan melindungi hutan keluarganya. Mereka mencoba untuk mendaftarkan hutan sebagai tanah leluhur karena telah ada putusan pengadilan 2013 yang menyatakan masyarakat adat memiliki hak atas hutan mereka yang telah mereka tinggali selama berabad-abad. Namun ada satu hal yang mereka takutkan yaitu kebudayaan dan cara hidup mereka akan musnah selamanya. Semoga bermanfaat.

[Total: 2    Average: 5/5]