NAMA Syi’ah itu pada awal mulanya berarti golongan, firqah dalam bahasa Arab. Tetapi telah ada pada permulaan Islam nama ini terutama digunakan untuk suatu golongan yang tertentu, yaitu golongan yang sepaham dan membela Ali bin Abi Thalib, khalifah yang keempat, suami dari anak junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w., bernama Fatimah, karena ia anak pamannya Abu Thalib, saudaranya ayahnya.

Dalam masa salaf, zaman Nabi dan sahabatnya, perkataan ini belum digunakan orang, tetapi untuk itu dipakai perkataan Ahlil Bait atau Alawi atau Bani Ali atau Ba Alawi.

Orang-orang Syi’ah itu, artinya orang-orang yang masuk golongan Saidina A l i , mempercayai bahwa Saidina A l i itulah orang yang berhak menjadi pengganti Nabi sesudah wafatnya, begitu pula khalifahan itu turun-menurun dari padanya, sebagai orang yang berhak menjadi Imam, yaitu kepala masyarakat kaum muslimin, karena mereka itulah, yang juga dinamakan Ahlil Bait, yang lebih mengetahui dan lebih dekat serta lebih meyakini akan ajaran Nabi Muhammad.

Uraian yang panjang lebar tentang segala sesuatu mengenai Syi’ah, sudah diuraikan uraikan dalam karangan H. ABOEBAKAR ATJEH, “Syi’ah, rasionalisme dalam Islam”, (Semarang, 1972), dan kitab “Al-Ja’fari, Mashaf Ahlil Bait”. Disana di uraikan lengkap mengenai sejarah terjadi dan pertumbuhannya, perkembangan aliran dan mashafnya mengenai tafsir, ilmu hadist, ilmu fiqh, tarikh tasyriq, bermacam-macam aliran Syi’ah, seperti Isyna Asysar Imamiyah, Zaidiyah, Isma’

iliyah, Jabaliyah, dll. Imam-Imam dan sejarah perjuangannya, ulama-ulama dan pengarang-pengarang, penyiaran kitab-kitabnya, yang bersifat agama dan ilmu pengetahuan, jasa-jasanya dalam penyiaran dan perkembangan Islam seluruh dunia.

Beberapa kejadian sesudah wafat Nabi, seperti bangkit kembali Bani Umayah dan Bani Abbas, dengan kerajaan-kerajaannya, yang kemudian, juga bercekcokan dengan keturunan Ali bin Abi Thalib, pembunuhan atas diri khalifah Usman, yang dituduhkan secara palsu oleh Yazid bin Mu’awiyah, kepada Ali dll. menyebabkan pada akhirnya keluarga-keluarga Ahlil Bait ini, mengungsi kedaerah Persia dan India, Cina, Asia Tengah, Afrika dan Nusantara yang dapat menampung mereka, dan menyelamatkannya.

Hal ini terutama sesudah terjadi pembunuhan atas diri Sayidina Hasan dgn racun, dan Sayidina Husain dalam peperangan di Karbala. Sayidina A l i sendiri dalam th. 40 H. (661 M) dibunuh oleh salah seorang fanatik, Ibn Muijam, dari golongan Khawarij, dan sesudah gugur pula anaknya dalam pertempuran yang dahsat dimedan peperangan Karbala pada th. 61 H. (680 M), sebagai putra Mahkota yang melawan Yazid dari Bani Umayah, maka makin bertambah tambahlah hebatnya perkembangan golongan Syi’ah ini, yang meluap kesebelah timur, terutama Persia dan India, dan Asia Tengah serta Afrika Utara. Sebenarnya hubungan Iran-Indonesia telah berlangsung lama dan selalu baik. Dalam buku „Al-Islam Fi Indonesia” karangan Dzya Shahab dan Haji Abdullah b. Nuh, yang diterbitkan “Badan Penerbit Saudi Arabia” Jeddah, dikisahkan bahwa pelayaran laut ke Asia Tenggara dan Asia Timur lama dikuasai oleh orang Persia bersama Arab. Hubungan teluk Persia dengan Indonesia lalu lintas kuat. Banyak kota-kota di Indonesia diambil oleh orang Persia dan Arab. Juga dinukil dari buku Al-Damashky, yang mengatakan dalam bukunya „Nakhbat-al-Dahr” bahwa arus perpindahan Muslimin ke Indonesia, meningkat pada zaman bani Umayah, yang dikenal karena kezalimannya.

Ibn Batuta, pelancong Marokko diabad ke 13 (787 H) menyatakan bahwa ketika mengunjungi Samudra dan Pasai dia banyak bertemu dengan Muslimin dan orang-orang Persia. Terdapat ulama besar Abdullah Shah Muhammad bin Shaikh Taher (wafat 787 H).

Pada zaman Malik al-Kamil terdapat Qadhi (hakim) Al-Sharief Amir Sayyid Al-Shirazi. Sedangkan dizaman Al-Malik al-Zahir, terdapat ulama besar Tajuddin Al-Isphahani dan banyak lagi yang nama mereka terukir dalam nisan-nisan diatas kuburnya masing-masing”.

Ibn Batuta berkata pula bahwa wakil Laksamana di Samudra-Pasai adalah seorang Persia bernama Behruz.

Terdapat sebuah desa di Samudra kubur dari Hisauddin yang wafat pada tahun 1420 M. Menurut Sir Richard Winsted, kuburannya sangat menarik karena terukir beberapa shair dari Sa’di, pujangga Iran yang dikubur di Shiraz, a.1. berbunyi :

[clickToTweet tweet=”‘„Ribuan tahun akan datang dan pergi diatas kubur kita melintasi Selama itu air mengalir ” quote=”‘„Ribuan tahun akan datang dan pergi diatas kubur kita melintasi Selama itu air mengalir dan angin Saba mengembus dan waktu hidup segera terputus Mengapa melintasi kubur orang dengan jalan angkuh lantang ?'”]

 

Disamping itu kita juga lihat berbagai nama raja-raja di Indonesia memakai gelar-gelar yang dipakai juga di Iran. Berbagai adat istiadat di Jawa, Sumatra dan Sulawesi banyak persamaannya dengan yang ada di Iran. Kebiasaan-kebiasaan tidak menikahkan atau merayakan pesta-pesta pada bulan Suro, mirip dengan kebiasaan Iran. Demikian pula kisah bubur merah bubur putih dan cerita-cerita yatim, mempunyai latar belakang yang sama.

Prof. Husein Jayadiningrat almarhum, banyak mengadakan penelitian mengenai hubungan kebudayaan Iran-Indonesia, dimana kemudian Prof. Husein Jayadiningrat mengatakan banyak pengaruh Iran dalam bahasa Indonesia.

Dalam aliran Sufi di Indonesia banyak masuk pengaruh Tasauf Persia seperti pengaruh Junaid, Hallaj, Jalaluddin al Rumi, Shams al-Tebrisi. Belum lagi pengaruh Al-Gazali yang demikian popuier di Indonesia. Cerita-cerita Iskandar Zulkarnaen, Kisah Am’r Hamzah,Kisah Yusuf dan Zulaikha, Mu’jizat-mu’jizat para Nabi sangat terkenal dikawasan ini berasal dari literatuur Iran.

Di daerah ini aliran Syi’ah dianut, dan bersama dengan orang-orang Persia dan India ulama-ulama dan pemimpin-pemimpin Syi’ah itu pergi ke Nusantara untuk menyiarkan agama Islam menurut pahamnya, sambil melanjutkan perdagangan dengan Timur Jauh, yang sudah terjadi sejak dahulu, Lihat. karangan H. ABOEBAKAR ATJEH “Sejarah Al-Qur’an” (Surabaya-Malang, 1956. eet. ke-IV).

Keturunan dari Sayidina Hasan biasa sehari-hari dinamakan Syarif, dari Sayidina Husain disebut Syayid, keturunan wanita masing-masing dinamakan Syarifah dan Syayidah. Perlu dicatat disini, bahwa hijrah dari pada keturunan Ahlil Bait ini, banyak ke Mesir, dan dari sana kedaerah-daerah Islam yang lain, sebagaimana banyak yang hijrah ke Persia dan India, yang kemudian kedaerah Islam yang lain.

Coba pembaca perhatikan sebuah kitab yang diterbitkan oleh “Al-Majlisul A’la Lisy-Syu’unil Islamiyah” di Cairo, yang bernama “Ahlul Bait fi Misr”, karangan Ust. Abdul Hafid Faragli (Cairo Desember 1974 M).

Akan diposting artikel selanjutnya di postingan berikutnya….

[Total: 1    Average: 5/5]