Pada tahun 1874 Aceh berhasil ditaklukkan Belanda di bawah kepemimpinan Van Swieten. Tentara-tentara kolonial Belanda mulai memasuki kuta Raja dan kawasan Istana Sultan Aceh. Saat tiba di sana mereka terkejut karena menjumpai begitu banyak makam mewah keluarga kerajaan Aceh Darussalam yang telah memerintah kesultanan Aceh Darussalam selama 350 tahun. Perkuburan itu terletak di sebelah sungai Krueng Daroy yang melintasi kawasan Istana kerajaan.

Kini perkuburan tersebut masih boleh dilihat dan dikenal dengan sebutan makam Kandang XII. Kandang IX ialah kompleks pemakaman raja-raja Aceh terawal yang terletak di Asrama Keraton sekitar 500 meter dari masjid Baiturrahman. Komplek makam tersebut merupakan yang terawal dari dinasti raja-raja yang pernah berkuasa di Aceh. Disana terdapat 12 buah makam, salah satu di antaranya telah dikenal pasti sebagai makam Ali Mughayat Syah bertharikh 1530 M. Beliau merupakan sosok pertama yang mendirikan kerajaan Aceh Darussalam. Namun tidak banyak masyarakat Aceh yang mengetahui makam-makam ini padahal di sanalah bukti penting pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Masyarakat Aceh cenderung tidak tertarik terhadap benda-benda mati peninggalan sejarah apalagi nisan. Mereka menganggap nisan kuno ialah benda yang menakutkan, di sana merupakan tempat bersarangnya hantu sehingga jarang di kunjungi kecuali hanya makam-makam yang dianggap keramat.

Baca : Gunongan Bagunan Peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam

Makam-makam di Komplek Kandang XII tersusun sangat rapi sejajar dalam satu baris.  Seluruhnya beratap luas dengan kerangka dari besi. Pemugaran ini baru dilakukan tahun 1978, saat itu banyak sejarawan Aceh yang peduli terhadap benda-benda peninggalan sejarah. Pada tahun 1900an ada sebuah gambar yang di ambil oleh tentara kolonial Belanda, Komplek makam ini terlihat tidak mempunyai atap serta terdapat sebuah pohon besar di samping makam-makam tersebut. Kebanyakan makam di sini dalam keadaan cukup baik kecuali hanya dua buah yang sudah rusak dan hanya meninggalkan dasarnya. Bentuk nisan memiliki banyak persamaan yaitu berbentuk persegi empat sama sisi.

Sebahagian nisan-nisan langsung tertanam di tanah namun sebahagian lainnya terpasang pada Jirat dengan menggunakan ukiran kaligrafi yang bernilai seni tinggi. Setiap nisan tingginya mencapai satu meter dengan ukiran hiasan yang sangat menarik. Pada tahu 1874 seorang peneliti Eropa Frederick Tierre memberikan keterangan bahwa nisan nomor delapan ialah Sultan Ala Al-ddin Riayat Syah, nisan ini dilukis dengan menggunakan lapisan perunggu (KITLV Leiden). Dari catatan tersebut kemungkinan nisan nomor delapan bukan satu-satunya yang dilapisi dengan perunggu tapi hampir semua nisan ada lubang-lubang kecil  yang boleh jadi digunakan sebagai tempat memasang logam perunggu atau tembaga. Banyak yang meyakini penjajah Belanda telah mencongkel serta mengambil perunggu tersebut.

Makam Kandang XII sekarang
Makam Kandang XII sekarang

Pada tahun-tahun berikutnya setelah dinasti pertama kerajaan Aceh memerintah, campuran batu dan logam perunggu masih digunakan dalam pembuatan nisan Aceh. Bahkan batu Aceh dibuat lebih mewah lagi yakni menggunakan emas dan suasa. Buktinya ketika Peter Davis mengunjungi Aceh pada tahun 1599, Sultan Aceh Ala Al-ddin Riayat Syah memerintahkan menterinya untuk dibuatkan batu nisan seberat “sekurang-kurangnya seribu paun emas” untuk dipasangkan pada kuburnya sendiri.  Bukti lainnya ialah sepucuk surat Iskandar Muda kepada raja Inggris Jacues, di sana tertulis Sultan Iskandar muda telah memiliki makam yang terbuat dari emas (Denis Lombard, 1967 :167).

Hal tersebut tentunya untuk menunjukkan kehebatan Kerajaan Aceh kepada raja Inggris dan Portugis. Perkembangan pembuatan makam dari tembaga kepada emas pada masa Sultan Iskandar Muda telah menunjukkan kehebatan dan kemewahan kesenian Aceh pada paruh pertama abad ke 17 M. Perkembangan tersebut sangat jelas disebutkan dalam Bustanusslatin karangan Sheikh Nuruddin Ar-Raniry yang mengisahkan upacara pemakaman Sultan Iskandar Tsani tahun 1641 M.

Berikut kutipannya “Tatkala tujuh hari lamanya paduka marhum Dar-Assalam sudah mangkat, maka paduka seri Sultan Tajul Alam Safiatuddin Syah berdaulat zil Allah fil alam pun memberi titah kepada penghulu Sida Ngadap bergelar Raja Udahna Lela “Panggilkan kita kejuruan Batu, Raja Indera Busana ! Maka raja Indera busana datang. Maka sabda yang mulia “kamu perbuat daku raja nisyan marhum Dar-Salam tujuh persegi, demikianlah diperbuatnya! Bahwa kehendak hatiku yang belumlah diperbuat raja-raja yang terdahulu kala. Maka diperbuatlah raja nisyan itu dengan kesudahan pengetahuannya, tiada lagi berslahan seperti sabda yang mulia itu. Maka sabda Hadarat yang mulia kepada kejuruan pandai emas dan kejuruan pandai suasa “Kamu salup raja nisyan itu dengan emas berpermata, jangan bersalahan dengan pahat batu itu dan tatahkan dengan ratna mutu manikam! Maka beberapa daripada permata yang besar-besar harganya daripada jenis pudi, dan yakut dan pirusm dan zanrud dan baiduri dan intan dan manikam yang tiada terhargakan dikenakan pada raja Nisyan itu. Maka Raja setia, dan Raja Indera segera dan seri segera dan segala pandai emas bekerjalah seperti sabda yang maha mulia.

Catatan tersebut membuktikan nisan Raja Aceh memang dilapisi dengan perunggu, emas, maupun suasa. Bahkan Snouck Hurgronje (1908) menyatakan nisan Aceh dibuat di Gampong Pandee atau kota Banda Aceh sekarang. Disana masih terdapat beberapa orang pandai emas dan pemahat batu nisan hingga akhir abad ke 19 M. Oleh demikian, makam raja-raja Aceh dan pembesar kerajaan Aceh bukan hanya sekedar batu penanda kubur namun di sana menyimpan bukti peradaban Aceh dahulu. Ragam hias dan pahatan epigrafi yang dilapisi dengan emas telah mendedahkan peradaban nenek moyang bangsa Aceh yang sudah begitu maju.

Nisan Aceh merupakan salah satu peninggalan kerajaan Aceh kepada generasi penerus. Mereka seakan tahu jika peradaban Kerajaan Aceh kelak akan hancur sehingga mereka menulis dibatu nisan sebagai bukti sejarah bagi anak cucunya kelak. Selain itu, Nisan Aceh merupakan benda yang sangat berharga bukan hanya sekarang tapi dari dulu sudah sangat dihargai oleh sultan-sultan Aceh. Maka sudah sepatutnya kita menjaga bersama dari tangan-tangan jahil yang ingin merusaknya. Tidak mustahil semua kebudayaan Aceh akan musnah jika kita tidak menjaganya. Wallahualam, Semoga bermanfaat.

[Total: 1    Average: 5/5]