Masjid Baiturrahaman saat ini menjadi kebanggaan rakyat Aceh. Mesjid Baiturrahman menyimpan sejarah panjang kerajaan Aceh Darussalam dan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Masjid Baiturrahaman juga pernah menjadi pusat menimba ilmu pengetahuan Sains dan agama dibawah Universitas Baiturrahaman saat Aceh dipimpin Iskandar Muda (1607). Banyak orang-orang yang ingin mempelajari Islam memilih belajar di Baiturrahman. Saat itu bisa dikatakan Baiturrahman sekaliber dengan masjidil Haram di Mekkah. Masjid ini juga telah melahirkan para tokoh agama yang terkenal seperti Hamzah Fansuri, Abdurrauf As-singkili, dan Syahmsuddin As-Sumatrani. Mereka sangat disegani para ulama Arab dan dikenal di seluruh Asia Tenggara dengan karya-karyanya yang mengagumkan.

Pada tahun 1873 semua berubah. Ia, saat itu belanda menyatakan perang dengan Aceh dan melakukan agresi pertama pada  tepat pada tanggal 5 April 1873 dibawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler. Belanda mendarat di Pante Ceureumen, saat itu ia membawa 3.198 tentara dan 168 di antaranya adalah para perwira. Walaupun sudah berupaya mengalahkan pasukan kerajaan Aceh namun pihak Belanda kalah dan harus meninggalkan Aceh segara karena jenderal Kohler meninggal terkena tembakan sniper pejuang Aceh di hadapan Mesjid Baiturrahman.

Mesjid Baiturrahman Kebanggaan Rakyat Aceh
Mesjid Baiturrahman Kebanggaan Rakyat Aceh

Pada tanggal 10 April 1873 M, Belanda yang sudah malu dengan dunia internasional karena kekalahan pertama kembali melakukan agresi kedua yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten. Belanda membawa prajurit dua kali lebih banyak dari sebelumnya. Penyerangan kali ini berhasil, Masjid Baiturrahman yang menjadi benteng pertahanan kesultanan Aceh di bakar habis. Peristiwa ini menyebabkan murkanya para pejuang Aceh termasuk Tjut Nyak Dhien, ia bersumpah akan melawan penjajah belanda dan berkata “Wahai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu! Masjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala! Tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak kafir Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Melihat perlawanan rakyat Aceh semakin hebat, pada tahun 9 Oktober 1879 M gubernur militer Belanda saat itu membangun kembali masjid Baiturrahman sebagai bentuk permintaan maaf. Namun semangat pejuang Aceh melawan Belanda tetap tidak bisa dibendung hingga Belanda harus meninggalkan Aceh karena masuknya Jepang pada tahun 1942. Mesjid ini telah direnovasi sebanyak 5 kali. pertama pada tahun 1935, 1975, 1981, 1993 dan terakhir 2016. Kini masjid ini sudah memiliki 7 kubah dan 12 payung yang menyerupai payung yang dipasang di Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

Mesjid Baiturrahman terbaru 2017Mesjid Baiturrahman terbaru 2017 (foto : tribunnews.com)

[Total: 1    Average: 5/5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here