Dalam perjalanannya Kerajaan Aceh Darussalam telah mengalami pasang surut. Sejak pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah sampai kepada ratu Tajul Alam Safiatuddin (1511-1675) telah mengalami masa gemilang dengan wilayah kekuasaannya hingga ke semenanjung Malaysia. Sementara sejak zaman Ratu Nurul Alam Naqiatuddin merupakan zaman kemunduran bagi Kerajaan Aceh. Perang saudara demi memperebutkan kekuasaan menjadi faktor utama yang menyebabkan kemunduran tersebut. Kerajaan Aceh benar-benar runtuh setelah Belanda berhasil menangkap raja terakhir Sultan Muhammad Daud Syah tahun 1904.

Sejak pertama berdiri Kerajaan Aceh Darussalam telah menetapkan Islam sebagai dasar negara. Sementara Qanun Meukuta Alam Al-Asyi menjadi undang-undangnya. Begitu pula terhadap kedudukan wanita dalam Kerajaan Aceh Darussalam, disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan Al Qur-an dan Sunnah. Pada tahun 1641 M Sultan Iskandar Tsani mangkat tanpa meninggalkan ahli waris. Maka Qadhi Malikul Adil Sheikh Nuruddin Ar-Raniry membuat musyawarah dengan para pembesar kerajaan untuk menobatkan siapa yang berhak menjadi Sultan Aceh. Setelah lama bermusyawarah maka ditetapkanlah sang permaisuri sekaligus anak almarhum Sultan Iskandar Muda menjadi Sultanah Aceh. Putri Safiah diangkat menjadi ratu pertama Kerajaan Aceh Darussalam dengan gelar Sultanah Tajul Alama Safiatuddin Johan berdaulat. Hal ini dilaksanakan setelah keluar fatwa para Ulama Aceh yang membolehkan seorang perempuan menjadi Raja asal memenuhi syarat-syarat keagamaan, akhlak dan ilmu pengetahuannya. Namun ada juga beberapa kalangan ulama Aceh yang menolaknya karena menganggap perempuan tidak boleh dijadikan pemimpin.

Ratu Tajul Alam Safiatuddin merupakan putri Sultan Iskandar Muda dengan istrinya Putri Sani yang bergelar Putri Sendi Ratna Indera. Beliau anak dari Maharaja Lela Daeng Mansur atau dikenal dengan nama Tengku Chik Direubee. Sejak kecil Ratu Safiatuddin sudah belajar ilmu agama pada ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansury, Seri Faqih Zainul Abidin Ibnu Daim Mansur, Syekh Kamaluddin, Syekh Alaiddin Ahmad, Syekh Muhyiddin Ali, Syekh Taqiuddin Hasan, dan Syekh Saifuddin Abdulkahhar. Oleh sebab itu saat remaja Safiatuddin telah menguasai dengan baik  beberapa bahasa seperti bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. beliau juga memahami ilmu-ilmu fiqh (hukum Islam) dengan segala cabang-cabangnya termasuk fihud-dauli (hukum-tatanegara), sejarah. mantik, falsafah, tasawuf, sastra dan lain-lain. Kedekatannya dengan ulama-ulama besar yang berasal dari negeri lain membuatnya semakin suka mendalami ilmu pengetahuan sehingga beliau menyukai syair dan mengarang.

Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh
Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh

Selama menjadi Ratu (1641 -1675 M) sangat banyak kesan yang telah dilakukan sang ratu. Beliau telah menaikkan derajat perempuan Aceh dengan melahirkan undang-undang baru. Salah satunya ialah membolehkan kaum perempuan masuk dalam parlemen penyusun undang-undang. Saat itu jumlah perempuan yang masuk dalam parlemen mencapai 23 orang dari total 70 orang. Beliau juga telah membuat sebuah undang-undang bagi setiap orang tua diharuskan membangun rumah untuk anak perempuannya. Kemudian suami harus tinggal di rumah istri sehingga jika nanti terjadi kegaduhan dalam rumah tangga maka suami yang harus keluar dari rumah. Adat istiadat ini masih diamalkan hingga sekarang di Aceh khususnya Aceh Besar dan Aceh Pidie.

Hal yang paling menarik masa pemerintahan Ratu Safiatuddin ialah beliau berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan. Boleh dikatakan masa pemerintahan Safiatuddin merupakan zaman gemilang perkembangan ilmu pengetahuan di Nusantara. Pada zaman ini telah banyak dikarang kitab-kitab ilmu pengetahuan dalam berbagai-bidang, terutama dalam bidang hukum, tasauwuf dan filsafat, sejarah dan kesusasteraan, baik dalam bahasa Melayu ataupun dalam bahasa Aceh dan Arab. Beliau juga telah memajukan Aceh menjadi sebuah kerajaan yang melahirkan para tokoh-tokoh agamawan yang hebat. Mereka di antaranya ialah Abdurrauf As-Singkili, Syamsyuddin As Sumatrani, Syekh Burhanuddin, Syekh Ismail bin Abdulah, Syekh Muhammad bin Syekh Jalaluddin, Syekh Muhammad Daud Baba Rumy, Teungku Syekh Seumatang, Syekh Abbas Kuta Karang dan lain-lain.

Salah satu kitab yang dikarang pada masa pemerintahan Ratu Tajul Alam Safiatuddin yang terkenal hingga sekarang ialah Risalah Masailal Muhtadin li Ikhwanil Muhtadi. Pengarang kitab ini, yaitu Syekh Daud bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali Ar Rumy, yang lebih dikenal dengan nama Teungku Chik Dileupeu Baba Daud, turunan seorang Ulama yang datang dari Turki Usmaniyah (Syekh Agha Ah Ar-Rumy). Beliau merupakan murid dari Syekh Abdurrauf Syiah kuala. Bersama-sama Syekh Abdurrauf beliau membangun dan memimpin Pusat Pendidikan Tinggi Islam yang bernama Dayah Manyang Leupeu di Ujung Penayong, Banda Aceh, salah satu pusat pendidikan yang telah banyak melahirkan ulama-ulama besar, di samping Jamiah Baiturrahman.

Bahkan Sheikh Nuruddin Ar-Raniry dalam bukunya Bustanussalati menulis kehebatan dan kecintaan Sultanah Safiatuddin kepada ilmu pengetahuan “Bandar Aceh Darussalam masa itu (masa pemerintahan Ratu Safiatuddin) terlalu makmur, dan makanan pun sangat murah, dan segala manusia pun dalam kesentosaan dan mengikut segala barang sabdanya. Dan ialah yang adil pada segala barang hukumnya, dan tawakal pada segala barang pekerjaannya, dan sabar pada segala barang halnya, lagi mengerasi segala yang durhaka. Dan ialah habitat pada segala kelakuannya, dan bijaksana pada segala barang perkataannya, dan lagi halim perangainya, dan pengasih akan segala rakyatnya, dan lagi syafaat akan segala fakir dan miskin.”

Selain itu Sebuah naskah kuno Aceh berjudul Hikayat Putroe Gumbak Meuh diyakini sebagai kisah asmara Ratu Safiatuddin dengan Iskandar Tsani. Dalam hikayat tersebut dikisahkan secara terperinci perjalanan hidup Safiatuddin (Putroe Gumbak Meuh) dalam mencari jodoh hingga akhirnya menikah dengan Iskandar Tsani (Lila Banggguna). Bahkan begitu cintanya ratu kepada suaminya sehingga membuat bangunan Kandang Meuh (Tempat Pemakaman) yang terletak di samping Gunongan (Bangunan bermain Putri Pahang). Bahkan ratu membuat kenduri besar pada upacara adat Pula Batee (upacara pembubuhan batu nisan) yang dikisahkan dengan jelas dalam Bustanussalatin. Sejarawan Aceh Zainuddin mengungkapkan “Ratu Safiatuddin merupakan sosok yang menyukai syair dan mengarang. Beliau berguru kepada Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniry. Bukan itu sahaja beliau juga sosok yang membantu perbelanjaan Abdurrauf as-Singkili dalam memperdalam pengetahuan ke India, Mekkah, Malaysia, Kudus dan Baghdad”.

Baca Juga : Gunongan Bagunan Peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam

Dalam zaman pemerintahan Ratu Tajul Alam Safiatuddin kekuasaan politik, ekonomi dan militer kerajaan Aceh semakin menurun tetapi perkembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan seni budaya semakin maju dan meningkat. Beberapa wilayah kekuasaan Aceh di semenanjung Malaysia berhasil di ambil alih Belanda. Angkatan perang Aceh semakin melemah sedangkan Belanda sudah semakin canggih sehingga diplomasi merupakan cara satu-satunya yang harus dilakukan Ratu. Walaupun militernya melemah kerajaan Aceh di bawah pemerintahan Ratu tetap disegani oleh Belanda dan Inggris.

Belanda pernah berusaha agar kuasai Aceh lumpuh dan diharapnya supaya Aceh berada dalam pengaruh kerajaan Johor. Oleh sebab itu disuruhlah Sultan Johor Sulthan Abdul Djalil Riayat Syah III meminang Ratu Safiatuddin. Pada tanggal yang sudah ditentukan para pembesar dari Johor yang disertai oleh seorang Nyonya Belanda datang ke Aceh untuk meminang ratu Safiatuddin. Beberapa orang Besar Aceh telah lebih dahulu menyetujui pertunangan ratu Safiatuddin dengan Raja Johor. Namun kaum yang ada di Aceh yang dikenal Tok Batee, Ija Sandang, Aneuk Sukee dan Kaum Lhee Retoih sepakat untuk menolak perkawinan Raja Johor dengan Ratu Aceh. Mereka menaruh dendam dan sadar atas segala kesalahan dan pengkhianatan Raja Johor terhadap Raja Aceh pada masa lalu semenjak Sultan Mansyur Syah sampai Sultan Iskandar Muda telah dikhianati. Karena penolakan ini utusan-utusan dari Johor pulang dengan tangan hampa. Akhirnya, Sultanah Safiatuddin mangkat pada 23 Oktober 1675 yang kemudian dilanjutkan oleh anak angkatnya Naqiatuddin dengan gelar Sri Sultan Nurul Alama Naqiatuddin Syah. Wallahualam, Semoga Bermanfaat.

[Total: 2    Average: 5/5]