“Dunia nan kau sandang-sandang.

Manakan dapat ke bukit rentang.

Angan-anganmu terlalu panjang.

Manakan dapat segera memandang.”

Begitulah bunyi sebuah petikan syair dari Hamzah Fansuri. Kini nama Hamzah Fansuri begitu terkenal di Semenanjung Malaysia bahkan seorang sejarawan Islam Malaysia Prof. Dr. Syed Nuqaib Al-Attas pernah berkata di hadapan sarjana kampus Darussalam tahun 1970an, “Hamzah Fansuri adalah pujangga Melayu terbesar dalam abad 17 Masehi, penyair sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu. Hamzah Fansuri adalah “Jalaluddin Rumi”-nya Kepulauan Nusantara ia dikenal hingga keseluruhan Nusantara lewat syair-syairnya yang indah”. Lalu, siapa sebenarnya Hamzah Fansuri? Mengapa ia tidak disebutkan dalam Bustanussalatin atau hikayat raja-raja Aceh? Hal ini mungkin menarik untuk dibincangkan. Menurut beberapa sejarawan beliau diyakini hidup pada masa Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H atau 1589-1604 M.) Hamzah Fansuri dikenal sebagai seorang penyair pribumi yang lahir di Barus. Ia mempunyai seorang saudara bernama Ali Fansuri dikemudian hari melahirkan seorang ulama besar pula bernama Abdurrauf As-Singkili (1615-1693).

“Hamzah Fansuri adalah pujangga Melayu terbesar dalam abad 17 Masehi, penyair sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu. Hamzah Fansuri adalah “Jalaluddin Rumi”-nya Kepulauan Nusantara ia dikenal hingga keseluruhan Nusantara lewat syair-syairnya yang indah”.

Hamzah Fansuri dikenal sebagai seorang ulama sufi dan merupakan orang pertama yang membuat Syair dalam Bahasa Melayu. Beliau sudah berkelana jauh mencari Ilmu ke berbagai negeri. Dalam syair-syairnya disebutkan ia memperoleh pengetahuan yang luas dari berbagai negeri yang ia kunjungi seperti Persia, Palestina, India, Madinah, Jawa, Semenanjung Melayu bahkan ia pernah belajar di Blang Peuria sebuah Dayah terkenal di Aceh Utara sejak kerajaan Samudera Pasai.  Selain itu, ia juga mampu mengusai bahasa Arab, bahasa Urdu dan bahasa Parsia sehingga membantunya memahami dan menghayati tasawuf dan filsafat Ibnu Arabi, Al Hallaj, Al Bistami, Maghribi, Syah Nikmatullah, Dalmi, Abdullah Jilli, Jalaluddin Rumi, Abdulqadir Jailani dan lain-lainnya. Pengembaraannya yang jauh ke negeri-negeri tersebut telah membuat Hamzah Fansuri mempunyai cakrawala yang sejauh ufuk langit, sehingga beliau menjadi seorang pengarang yang handal (Hasyimi, 1976).

Dalam Filsafat Ketuhanan, Hamzah Fansuri menganut aliran “Wahdatul Wujud”, dan sebagai seorang Penyair Sufi beliau menjadi pengikut dan pemuka Thariqat Qadiriyah. Hamzah Fansuri diyakini meninggal pada tahun 1607 M. Ajarannya Wahdatu Wujud dilanjutkan oleh muridnya Syamsuddin As-Sumatrani yang hidup pada masa Sultan Iskandar Muda. Muridnya meninggal Melaka saat Penyerangan terakhir Melaka oleh Iskandar Muda (1930). Orang pertama yang menentang ajaran Wahdatul Wujud ialah Nuruddin Ar-Raniry, ia merupakan seorang Ulama yang berasal dari Gujarat, India. Ia dijadikan Mufty kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Iskandar Tsani (Hadi,1976). Beliau berhasil mempengaruhi Sulthan Iskandar Tsani dan Tajul Alam Saifiatuddin untuk mengharamkan ajaran Wahdatul Wujud di Aceh dan membakar semua karya dua sufi tersebut. Kini hanya tinggal beberapa saja karya Hamzah Fansuri yang berhasil diselamatkan murid-murid beliau seperti Syair burung unggas, Syair Dagang, Syair Perahu, Syair si burung pipit, Syair si burung pungguk, dan Syair sidang fakir. Apakah syair-syair ini benar sesat? Silahkan dibaca sendiri. Semoga bermanfaat.

Baca jugapenulis tafsir al-Quran Pertama di Nusantara

[Total: 1    Average: 5/5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here