Lamuri Mahkota yang Terlupakan

pemandangan lamreh

Lamuri, adalah sebuah kerajaan kuno yang pernah ada di wilayah Aceh,  kini namanya menjadi Lamreh, sebuah desa yang berada dalam Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar. Dalam lintasan sejarah Lamreh yang dikenal dengan sebutan Lamuri menjadi lirikan bangsa besar dunia seperti bangsa Arab, India, dan Cina. Diantara orang Arab yang pernah singgah di  wilayah ini ialah Ibnu Khordadhbeh (844-848 M), Sulaiman (955 M), Mas’udi (943 M) dan Buzurgbin Syahriar (955 M). Sedangkan dalam catatan bangsa cina, Lamuri dicatat oleh Chau-Yu-Kwa dalam bukunya Chu Fan-Shi yang terbit tahun 1225 M, serta tercatat dalam buku tahunan Dinasti Ming (1405 M). Penjelajah Barat juga mencatat keberadaan Lamuri, yaitu dalam catatan penjelajh Italia, Marcopolo (1292) (zakaria ahmad: 2009).

Penjelajah paling terkenal dari timur yaitu Laksamana Cheng Ho (Sam Po Kong) pernah mengunjungi Lamuri. Dr. Husaini Ibrahim, Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Unsyiah menyatakan bahwa khusus ke kerajan Lamuri, dari tujuh kali perjalana Cheng Ho ketujuh-tujuhnya dia menyinggahi negeri ini. Cheng Ho mencatat bahwa Lamuri merupakan kawasan yang cocok untuk perdagangan dan pernah menyebutkan bahwa disini terdapat paling kurang seribu kepala keluarga dengan masyarakat yang hidup aman dan mayoritas penduduknya beragama Islam. Masyarakatnya tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari kayu/papan dan ada tempat-tempat istirahat, pengajian serta ada tempat untuk peternakan. Maka tidak mengherankan jika adanya pecahan benda-benda hasil kebudayaan masa lalu yang dijumpai bukit Lamreh, oleh karenanya ia memiliki nilai penting bagi perkembangan sejarah Aceh khususnya serta  indonesia umumnya.

Nama Lamreh mencuat ketika direncanakannya pembangunan lapangan golf internasional oleh salah seorang pengusaha luar di kawasan ini.  Rencana pembangunan ini menimbulkan  berbagai tanggapan dalam masyarakat. Satu pihak menginginkan agar dibangunnya lapangan golf guna pengembangan ekonomi masyarakat, pihak lainnya menganggap lokasi tersebut memiliki nilai yang sangat penting bagi sejarah Aceh, oleh beberapa ahli sejarah dan arkeologi bukit Lamreh merupakan salah satu kota pelabuhan kuno dalam jaringan perdagangan internasional pada masa  kerajaan Lamuri dan merupakan cikal bakal terbentuknya kerajaan Aceh Darussalam.

Batu Nisan Lamuri

 

Sejarah panjang kerajaan Lamuri telah meninggalkan bukti berupa bekas bangunan pertahanan (benteng), keramik dan batu nisan kuno di kawasan bukit Lamreh. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, peninggalan-peninggalan tersebut mewakili periode abad ke-11 M hingga 16 M.

[clickToTweet tweet=”Sejarah kerajaan Lamuri tlah meninggalkan bukti benteng, keramik, batu nisan kuno di Lamreh. ” quote=”Sejarah kerajaan Lamuri telah meninggalkan bukti berupa bangunan pertahanan, keramik, batu nisan kuno di bukit Lamreh. Hasil penelitian, peninggalan tersebut mewakili abad ke-11 M hingga 16 M.”]

Diantara bekas benteng pertahanan yang terletak di kawasan bukit Lamreh ialah Benteng Inoeng Balee atau sering disebut juga dengan Benteng Malahayati. Benteng tersebut berada 1 km dari jalan raya Krung Raya-Laweung, posisinya tepat di tepi jurang dengan pantai yang sangat indah dibawahnya. Benteng ini merupakan bangunan pertahanan yang dibangun di era kerajaan Aceh Darussalam. Tak banyak yang mengetahui dibalik semak belukar bukit Lamreh terdapat jejak tinggalan kejayaan Kerajaan Aceh. Selain Benteng Inong Balee, di kawasan bukit Lamreh juga ada Benteng Kuta Lubok, terletak di sebelah Timur teluk Krung Lubok dan berada  tepat di bibir Pantai selat Malaka.

Adapun sebaran batu nisan raja-raja Lamuri berada dalam beberapa kelompok yang tersebar di lahan warga di perbukitan Lamreh dengan luas mencapai 200 Ha, namun keberadaan batu nisan yang ada di lokasi ini terancam punah, baik itu karena faktor alam maupun ulah tangan manusia.  Perlu dilakukannya penyelamatan agar jejak-jejak sejarah Aceh tetap lestari hingga masa mendatang. Mengingat wilayah Lamreh memiliki nilai penting bagi perkembangan sejarah Aceh,  maka sudah sepatutnyalah tinggalan budaya tersebut dilestarikan dan dimanfaatkan semaksimal mungkin seperti amanat UU No. 11 Tahun 2010.

Dilihat dari kacamata geografi, letak bukit Lamreh sangatlah strategis untuk pengembangan objek wisata, sebagai sebuah kawasan  yang berbatasan dengan Selat Malaka lautan Lamreh sangatlah indah. Banyak masyarakat lokal bahkan mancanegara tertarik untuk berwisata ke sana. Baru-baru ini, beberapa tempat di Lamreh telah menjadi destinasi objek wisata baru, seperti pantai benteng inoeng balee, tebing dan pantai ujung kelindu, serta bukit Soeharto. Tujuan para wisatawan sangatlah beragam, ada yang hanya sekedar menikmati keindahan alam, bahkan  ada dari mereka yang ber-camping serta bermalam di sana.

Bukit Lamreh berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan objek wisata sejarah dan budaya maupun objek wisata alam baharinya. Namun potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan baik bila tidak dibarengi dengan fasilitas dan infrastruktur yang memadai, maka karenanya butuh perhatian khusus agar bukit Lamreh menjadi objek wisata unggulan. Kita harapkan pemerintah berperan aktif dalam kegiatan pengembangan di sektor pariwisata khususnya wisata sejarah dan budaya yang masih sangat minim sentuhan dan dukungan dari pemerintah. Semoga!!!.

 

Write by: Oleh: Ahmad zaki Husaini*

*Tim Peneliti Melacak Jejak Kerajaan Kuno Lamuri.

e-mail: ahmadzaki567@gmail.com

Dimuat dalam Rubrik Historia, “Majalah Librisyiana, edisi 2 | Januari 2016.

 

About The Author

Related Posts