LAMURI DALAM CATATAN LAKSAMANA CHENG HO

Berbicara mengenai kerajaan Islam yang pertama muncul di Nusantara tidak terlepas kaitannya dengan studi masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara. Keberadaannya didukung dengan bukti batu nisan kubur yang menunjukkan raja pertama adalah Malik as-Saleh yang wafat pada bulan Ramadhan 696 H atau sekitar 1297 M, selain itu juga ada sumber tertulis lainnya yaitu Hikayat Raja-raja Pasai dan catatan penjelajah asing yang pernah singgah di Pasai. Namun jauh sebelum Samudera Pasai tampil sebagai sebuah kerajaan Islam, komunitas-komunitas pedagang muslim terlebih dahulu sudah datang dan singgah di beberapa daerah. Salah satu daerah yang menjadi tempat persinggahan adalah wilayah Lamreh yang dahulu dikenal dengan sebutan Lamuri (Ahmad Zaki, 2016: 3-4).
LAKSAMANA CHENG HO

Berbagai bangsa asing telah mencatat akan keberadaan Lamuri yang terletak di perairan dan jalur perdagangan internasional di Selat Melaka, diantaranya ialah penjelajah dari negeri tirai bambu yang menyebut negeri ini dengan nama Lambri. Penjelajah paling terkenal dari timur yaitu Laksamana Cheng Ho (Sam Po Kong) selalu mengunjungi Lamuri dari ketujuh kali perjalanannya. Cheng Ho menyebutkan bila bertolak dari Kerajaan Samudera Pasai menuju ke arah barat, kapal akan sampai di Kerajaan Lambri (Lamuri), dengan lama perjalanan 3 hari 3 malam jika keadaan angin baik. Di pantai Lambri terdapat lebih dari seribu kepala keluarga. Baik sang raja maupun rakyatnya muslim. Di sebelah barat dan utaranya menghadap laut yang luas. Di sebelah selatannya adalah gunung. Sebelah timurnya berbatasan dengan Kerajaan Lide. Tempat kediaman sang raja seperti gedung, dibangun dengan kayu besar kira-kira 4 Zhang (± 12 m) tingginya. Bagian bawah dijadikan kandang ternak. Bagian atasnya sangat bersih dan dipakai sebagai tempat orang makan dan tidur. Rumah rakyat berukuran kecil, bentuknya sama dengan yang ada di Kerajaan Samudra Pasai. Orang Lambri sangat sederhana hidupnya.

Bahan pokok di Kerajaan Lambri serba sedikit, seperti ternak sapi, kerbau, kambing dan unggas, maupun sayur-rnayur dan beras. Tapi harga ikan dan udang di sana amat murah. Di pasar dipakai uang kepengan. Bukit-bukit menghasilkan bahan wangi-wangian dan terdapat badak. Di dalam laut yang terletak di sebelah barat pulau itu tak lain ialah laut Lamuri. Melihat gunung di pulau tadi kapal-kapal yang berlayar dari sebelah barat akan menurunkan layarnya dan berlabuh. Di pantai pulau itu kedalaman air kira-kira 2 Zhang (± 6 m) di mana terdapat sejenis pohon laut. Dari pohon inilah orang mendapat karang untuk dijual. Pohon laut yang besar kira-kira 2-3 chi (± m) tingginya. Pada akarnya terdapat sebatang akar induk sebesar ibu jari, berwarna sehitam tinta dan selicin giok. Karang bunganya dapat dipakai sebagai perhiasan topi dan sebagainya.

Baca Juga : Sejarah Desa Lamreh Bukti Keberadaan Kejaraan Lamuri 

Cheng Ho juga mencatat di pulau We terdapat 20-30 kepala keluarga. Mereka masing- masing mengaku dirinya sebagai raja. Bila ditanya namanya, tidak lain jawabnya dari “Aku raja”. Kondisi ini lucu dalam pandangan Cheng Ho. Cheng Ho menyebutkan Pulau We berada di bawah kekuasaan Kerajaan Lambri. Demikianlah menurut catatan Ma Huan pada abad ke-15 M.

Kerajaan/kawasan di Asia Tenggara yang dikunjungi Cheng Ho selama 7 kali pelayarannya

NoTahun PelayaranKerajaan/kawasan di Asia Tenggara yang dikunjungi
11405-1407Campa, Malaka, Jawa, Samudera Pasai, Lamri, Palembang
21407-1409Campa, Malaka, Siam, Borneo, Jawa, Lamri
31409-1411Campa, Malaka, Jawa, Samudera Pasai, Lambri
41413-1415Campa, Malaka, Pahang, Kelantan, Jawa, Palembang, Nukur, Lamri, Aru
51417-1419Campa, Malaka, Sulu, Pahang, Jawa, Palembang, Samudera Pasai, Lamri
61421-1422Campa,Siam, Malaka, Samudera Pasai, Lamri, Aru
71431-1433Campa, Malaka, Siam, Jawa, Palembang, Samudera Pasai, Lide, Nakur, Aru, Lamri

Sumber: Kong Yuanzhi, 2005

Itulah catatan Laksamana Cheng Ho mengenai negeri Lambri (Lamuri). || Dikutip dari  buku Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, karangan Prof. Kong Yuanzi.

Baca Juga : Lamuri mahkota yang terlupakan

About The Author

Related Posts