Presiden Jokowi telah resmi menetapkan Keumalahayati sebagai Pahlawan Nasional. Pemberian gelar tersebut berlangsung di Istana Negara pada tanggal 9 November 2017. Keumalahayati dikenal sebagai Laksamana perempuan pertama di Dunia. Selain itu dalam sebuah pertempuran di Laut Aceh ia diyakini berhasil membunuh penjelajah pertama Belanda ke Nusantara yaitu Cornelis de Houtman serta menawan adiknya Federic de Houtman. Bagaimana peristiwa tersebut terjadi? Mungkin hal ini menarik untuk diceritakan kembali.

Pada tahun 1592 M Cornelis de Houtman dikirim ke Lisboa (Portugal) oleh pedagang Amsterdam untuk mengetahui informasi mengenai pulau rempah-rempah yang terletak di timur jauh. Setelah pulang dari Lisboa De Houtman memastikan bahwa Banten merupakan wilayah yang paling tepat untuk membeli rempah-rempah. Pada 27 Juni 1596 MĀ ekspedisi de Houtman tiba diĀ Banten dengan membawa 249 awak kapal, mereka disambut baik oleh raja Banten dan pribumi di sana. Tapi setelah beberapa tabiat kasar yang ditunjukkan awak kapal Belanda sultan Banten dengan Portugis mengusir mereka. Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya ke Madura hingga terlibat sebuah pertempuran dengan seorang pangeran di sana. Mereka hanya menyisakan 87 orang yang berhasil kembali ke Amsterdam. Pada tahun-tahun berikutnya sudah banyak kapal-kapal Belanda yang berlayar ke Nusantara, mereka semakin lama makin berani melayari Samudera di Asia karena telah memperoleh untung banyak. Keberanian dua saudara Ferederick dan Cornelis De Houtman yang memegang urusan perniagaan, telah memperoleh pengalaman-pengalaman yang membawa kemajuan ekspansinya. Belanda saat itu ingin mendirikan kantornya di Aceh karena mereka mengetahui Aceh saat itu merupakan sebuah kerajaan yang mengendalikan perdagangan di Nusantara dan bermusuhan dengan Portugis di Malaka. Ikatan para pedagang Belanda sudah bersepakat menjalin hubungan baik dengan Aceh, mereka menawarkan persenjataan ataupun barter agar diperbolehkan berdagang di Aceh.

Pada tanggal 23 Maret 1598 M, berangkatlah dari negeri Belanda 2 buah kapal de Leeuwen dan de Leewin dengan 225 anak buahnya yang dikepalai Cornelis De Houtman (abang beradik) menuju Aceh melewati Tanjung Harapan, Madagaskar (Afrika Timur), menyusuri sepanjang pesisir Teluk Persia, Teluk Malabar (India Selatan) sampai ke Sailan dan dari sana terus mengarungi samudera besar dan akhirnya pada tanggal 1 Juli 1599 berlabuh di pelabuhan Aceh. Belanda yang tiba di Pelabuhan Aceh menghadap Syah Bandar dan memberikan semua laporan dari De Houtman. Syah Bandar kemudian membawa de Houtman menghadap Sultan Al-Mukammil. Sultan menerima De Houtman bersaudara dengan sangat baik bahkan sultan menyuruh memotong kerbau untuk acara makan-makan pasukan Belanda. Sultan dengan senang hati memberikan izin boleh berniaga dan membeli Lada, selain itu diberikan pula tanah tempat mereka menyimpan barang di Darat. Peristiwa itu diketahui oleh seorang penerjemah Sultan orang Portugis bernama Afonso Vicentia, ia tidak senang melihat sultan membolehkan Belanda berniaga di Aceh sehingga ia menghasut saudagar Aceh untuk tidak menjual lada kepada Belanda. Saat itu Portugis yang lebih dulu datang ke Nusantara tidak senang dengan kehadiran Belanda sehingga sering terjadi peperangan antara keduanya.

Pada suatu hari awak kapal Belanda ingin membeli pisang di dalam pekan yang dijual oleh seorang perempuan Aceh. Mereka menanyakan harga pisang dengan menunjuknya dengan kaki. Mereka tidak tahu bahwa cara itu sangat tidak sopan bagi orang Aceh. Maka orang Belanda tersebut ditempeleng oleh orang Aceh dan terjadi perkelahian di pasar yang kemudian didamaikan oleh Syahbandar Pekan. Orang Portugis merasa senang melihat insiden itu, ditambah lagi dengan membuat beberapa intimidasi supaya orang Aceh benci kepada orang-orang Belanda.

Pada suatu hari Sultan memanggil De Houtman menghadap Sultan ke istana. Sultan Meminta de Houtman untuk menyewakan kapalnya yang digunakan untuk mengantar tentara Aceh, meriam dan alat-alat perang lainya ke Johor sebagai persiapan menyerang Malaka. Permintaan itu diterima baik De Houtman dengan membuat sebuah surat perjanjian. Perjanjian tersebut ternyata diketahui oleh Portugis yang baru pindah dari Goa (India), seorang penerjemah Sultan Affoso Vicente memberikan saran agar membatalkan perjanjian dengan Belanda, Aceh cukup menjalin hubungan dengan Portugis. Meskipun dipengaruhi oleh Affoso Vicente (Duta Portugis) Sultan tetap pada pendirian dan ketetapannya yang telah diatur dengan Belanda.

Pada tanggal 11 September 1599, Sultan Alaaddin Riajat Syah Al mukammil menetapkan hari berangkat ekspedisi ke Johor. Sultan perintahkan supaya hari itu diadakan perjamuan makan kepada perwira-perwira yang akan berangkat dan kepada anak buah kapal Belanda disuruh antarkan makanan yang dimasak untuk dimakan dalam kapal Belanda. Perintah itu dituruti oleh Syahbandar dan Sekretaris Sultan. Sesampai dikapal dilihat oleh Syahbandar dan Sekretaris Sultan, orang-orang Belanda dalam kapal sudah mabuk dan muntah-muntah. Mereka menuduh dalam makanan telah ditaruh racun dan banyak anak kapal yang sudah jatuh pingsan. Hal itu mengherankan Syahbandar sementara itu perahu-perahu yang mengangkut tentara Aceh ke kapal disangka mereka ingin menyerang Belanda. Sehingga Belanda mulai menyerang Sekretaris Sultan hingga terluka dan Seorang Panglima saudara dari Sultan tewas.

Mendengar berita pertempuran itu Laksamana Keumalahayati memimpin pasukannya untuk menyerang kapal Belanda. Di atas kapal terjadi pertempuran dahsyat sehingga menewaskan Cornelis de Houtman ditangan Keumalahayati dan sekitar 95 orang Belanda lainnya tewas. Beberapa orang belanda yang selamat ditawan, termasuk Federic de Houtman saudaranya Cornelis The Houtman. Setelah sultan menganalisis peristiwa tersebut dengan menghadirkan beberapa orang saksi termasuk juru masak karena ada kemungkinan makanan telah dibubuhkan biji ganja ke dalamnya sehingga mereka mabuk. Tidak hanya itu, Sultan juga memanggil tentara Belanda yang ditawan termasuk Federik untuk memberi kesaksian. Setelah memeriksa semua maka sultan berkesimpulan bahwa peristiwa tersebut merupakan ulah Portugis yang tidak senang terhadap Belanda, sehingga Sultan memecat Penerjemah Portugis kesayangannya Affoso Vicente dan sejak saat itu Sultan Aceh tidak lagi percaya kepada Portugis. Wallahualam. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Perempuan Pejuang dalam Lintasan Sejarah Aceh

[Total: 1    Average: 5/5]