Keadaan Sumber Sejarah di Aceh

Sumber sejarah khususnya yang Islam seperti mesjid kuno, makam, naskah, bangunan tua dan benda-benda sejarah lainnya merupakan objek yang cukup banyak dijumpai di Aceh. Kehadirannya adalah berhubungan dengan perjalanan panjang dari suatu masa kejayaan beberapa kerajaan di Aceh seperti Kerajaan Lamuri, Perlak, Pedir, Samudra Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Bersamaan dengan perjalanan waktu yang terus berputar, maka jejak sejarahpun turut bergulir mengikutinya. Bermacam perubahan berlaku yang memang tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu peninggalan sejarah sebagai hasil aktivitas manusia yang sangat berguna sebagai sumber akan mengalami  suatu tantangan. Manusia sebagai makhluk yang menyejarah  mempunyai tanggungjawab untuk menyelamatkan peninggalan tersebut.

[clickToTweet tweet=”Keadaan sumber sejarah di Aceh sekarang ini sangat menyedihkan” quote=”Keadaan sumber sejarah di Aceh sekarang ini sangat menyedihkan, selain banyak yang hilang karena berbagai faktor, sisanya tidak terurus dengan baik. Sumber sejarah di Aceh mengalami kehancuran oleh berbagai sebab, baik disengaja maupun tidak. Cukup banyak mesjid kuno yang dibangun pada masa kejayaan Islam dihancurkan, lalu diganti atau dibangun mesjid baru. Makam dengan berbagai jenis tipe nisan kubur warisan abad ke-13 hingga akhir Kerajaan Aceh Darussalam abad ke-19 banyak yang hancur dan terbengkalai, sebagian dijadikan batu pengasah.”]

Demikian juga Aceh yang dikenal sebagai gudang naskah di Nusantara, kini sangat sukar untuk mendapatkannya. Apalagi ketika musibah tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004, kebanyakan naskah kuno di Aceh telah lenyap ditelan bersamanya. Demikian juga benda-benda warisan lainnya banyak yang rusak bahkan hilang tidak tahu ke mana perginya.

Banyak persoalan yang menyebabkan sumber sejarah di Aceh tidak terurus dengan baik, disamping karena kurangnya perhatian pemerintah, juga pemahaman dan kesadaran masyarakat masih rendah. Terlepas dari persoalan tersebut, yang penting bagaimana upaya penyelamatan sumber sejarah di Aceh sehingga bisa dimanfaatkan untuk penulisan sejarah. Dengan demikian banyak orang akan mengerti dan memahami pentingnya peninggalan sejarah sehingga bisa mengungkap berbagai peristiwa masa lalu.

Sumber sejarah yang didapat dari warisan sejarah sekarang ini merupakan wujud peristiwa silam yang sekaligus dapat dijadikan sebagai alat yang mengandung pesan dari rekaman masa lalu. Sumber sejarah  baik yang bersifat material ataupun non material. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan memiliki hubungan yang amat erat. Sifat-sifat itulah yang menentukan nilai budaya bangsa yang hidup pada zamannya dan diwariskan pada generasi berikutnya. Warisan semacam ini merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting maknanya bagi pemahaman suatu peristiwa sejarah yang bisa dijadikan sebagai sumber primer dan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Oleh karena itu, perlu dilindungi dan diselamatkan demi memupuk kesadaran jatidiri sebuah bangsa.

Guna mewujudkan upaya penyelamatan sebuah sumber sejarah diperlukan adanya kesadaran sejarah yang dimiliki oleh manusia. Kesadaran manusia untuk mencari jejak masa lampau melalui warisan yang ada merupakan bagian dari kesadaran yang menerangkan bahwa yang lampau itu tidaklah sama dengan yang sekarang, hal ini bisa terjadi karena faktor waktu yang berbeda. Sesungguhnya masa sekarang merupakan perpanjangan dari masa lampau. Tidak ada masa lampau, maka tidak ada masa sekarang. Pandangan semacam ini sering difahami sebagai kesadaran waktu yang akan berkembang menjadi kesadaran sejarah. Oleh karena itu, semakin tinggi kesadaran manusia akan sejarahnya, maka semakin cenderung untuk menjaga dan memelihara warisan yang ada.

Manusia baik secara perorangan maupun kelompok pada dasarnya memiliki tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan dan memelihara sumber sejarah yang ada. Namun demikian karena tingkat kesadaran sejarah masing-masing berbeda, maka sering tanggung jawab ini terabaikan. Bagi seorang penulis sejarah, mengumpulkan sumber merupakan langkah pertama yang harus dilakukan, sehingga ia harus melacak keberadaannya. Oleh karena itu seorang sejarawan sangat berkepentingan menyelamatkan sumber sejarah yang masih berserakan. Kemudian untuk membenahi kejadian-kejadian masa lampau melalui analisis benda-benda warisan kuno yang masih dijumpai secara utuh ataupun pecahan-pecahan, penulis sejarah harus menjalin kerjasama terutama dengan bidang ilmu arkeologi dan lembaga yang menangani peninggalan sejarah dan kepurbakalaan.

Hingga sekarang ini peninggalan sejarah Aceh yang dapat dijadikan sebagai sumber sejarah lokal  baru sebagian kecil yang terpelihara, selebihnya proses pengrusakan dan pemusnahan berjalan terus bahkan ada yang rusak dan musnah sebelum diselidiki dan didokumentasikan. Hancurnya sumber sejarah selain disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan lain-lain, juga kerusakan terjadi karena tangan manusia seumpama penggalian liar, pencurian, penyelundupan barang-barang antik ke luar negeri dan lain-lain.

Lahirnya Undang-undang No.11 tahun 2010 yang mengatur masalah Cagar Budaya merupakan satu upaya perlindungan dan pemeliharaan yang dilakukan pemerintah. Dalam Undang-undang No.11 tahun 2010 pasal 1 yang dimaksud dengan  Cagar Budaya adalah” warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan / atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan / atau kebudayaan melalui proses penetapan”.

Oleh karena luasnya cakupan makna Cagar Budaya sebagaimana tercantum dalam pasal 1 UU No.11 tahun 2010, maka semua hal tersebut dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai sumber sejarah baik yang bersifat lokal maupun nasional. Untuk daerah Aceh, banyak sekali cagar budaya yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penulisan, dan pembelajaran sejarah di sekolah baik yang mewakili masa Prasejarah, Klasik (Hindu Budha), Islam, Kolonial ataupun masa Kemerdekaan.

 

Note: Artikel diatas merupakan bagian dari makalah “Menumbuhkembangkan Penulisan  Sejarah  Aceh  dalam Bingkai Sejarah Nasional”, disampaikan pada Workshop Kesejarahan yang diadakan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Aceh, di Banda Aceh, 25 Agustus 2015.

 

About The Author

Related Posts