Beberapa minggu terakhir kita di kejutkan dengan keberadaan suku manteu di Aceh. Menurut Muhammad Said, Suku mante ialah suku Asli Aceh namun mereka sudah terpinggirkan karena masuk golongan imingran dari Indo China yaitu bangsa Melayu Muda atau Deutro Melayu. Menurut beberapa sejarawan suku manteu mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Mante (Manteu, Bahasa Aceh) ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia belakang.  Siapa sebenarnya suku Mante (Manteu, Bahasa Aceh)? Bagaimana sebenarnya Asal Mula Orang Aceh?

jejak suku mante
foto ilustrasi suku mante

Nenek moyang orang Aceh dulunya berasal dari keturunan Indo Cina khususnya Champa atau lebih dikenal dengan nama Kamboja. Hal ini sudah dibuktikan oleh G.K Nieman 1891 M melalui sebuah penelitian ia mendapati  ratusan kosa kata bahasa Kamboja yang terdapat dalam kamus bahasa Aceh.  Pengaruh bahasa Kamboja terhadap bangsa Aceh berhubungan erat dengan perpindahan penduduk masa Prasejarah. Sejak Zaman Neolitik Aceh menjadi wilayah penting dalam upaya perpindahan bangsa dari Asia dan ekspansi budaya India. Awal mula kedatangan penduduk di Aceh berasal dari Indo China sekitar tahun 2500-1500 tahun sebelum masehi. Mereka dikenal dengan nama suku Melayu Tua (Proto Melayu) dengan kebudayaan yang masih sederhana namun mereka sudah mulai bercocok tanam, berburu ikan dan sudah menetap di gua-gua yang dekat dengan aliran sungai. Kemudian dilanjutkan dengan kedatangan bangsa Melayu Muda (Daustero Melayu) pada tahun 300 sebelum masehi. Mereka sudah memiliki teknologi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa Melayu Tua. Ditandai dengan kacerdasan yang sudah dimilikinya tarutama dalam pangetahuan membuat alat-alat dari bahan logam (tambaga maupun besi). Salah satu panemuan yang cukup berkesan adalah barupa ganderang tembaga (kattladrums) yang digunakan untuk sesuatu  upacara. Dengan kemampuan itu Asia Tenggara memasuki zaman kebudayaan tembaga atau labih di idantitaskan  kapada nama kebudayaan Dong Son. Bangsa melayu Muda juga sudah mampu membuat irigasi untuk pengairan sawah, beternak, bertenun dan sudah mulai mengenal dengan alat musik. Dalam bidang pelayaran bangsa melayu muda pada tahun 1 masehi sudah mampu membuat kapal untuk melintasi lautan yang luas dengan menguasai ilmu perbintangan. Namun mereka masih dengan kepercayaan animisme yaitu masih percaya kepada benda-benda yang memiliki kekuatan ghaib.

Dalam sistem pemerintahan bangsa melayu muda yang mendiami tanah Aceh sudah hidup berkelompok dan mulai membangun kampung atau desa seperti yang ada sekarang. mereka ini saling bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pada akhirnya sejumlah kampung akan membentuk mukim dan sagi sampai terbentuk sebuah kerajaan. Hal yang paling mendasar terbentuknya sebuah kesatuan yang begitu rupa hanyalah karena desakan ekonomi dan jaminan bebasnya perdagangan. Namun faktor kegotoroyongan antar sesama tidaklah dapat dihilangkan dari nenek moyang orang Aceh masa Purbakala. Sehingga menjadikan Aceh sebagai sebuah bangsa yang memiliki identitas dan kebuadayaan yang sempurna. Bangsa melayu muda (Deustro Melayu) inilah yang dimaksud sebagai bangsa paling awal Aceh dan bertahan sampai sekarang.  Mereka terus berdatangan daripada Semenanjung Malaysia, Indochina serta Kamboja.

Namun berbeda dengan bangsa Melayu Tua yang lebih awal masuk ke Aceh. Mereka harus menyingkir ke pedalaman mahupun berbaur dengan melayu muda kerana kalah dalam segi pengetahuan kebudayaan. Salah satu bagian daripada bangsa melayu tua ialah Suku Mante (Manteu, Bahasa Aceh) selain Mante (Manteu, Bahasa Aceh), runpun lainnya ialah suku Lanun, Sakai Djakun, Semang, Senui yang terdapat di beberapa bahagian wilayah di Nusantara seperti Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Bangsa melayu tua pada zaman prasejarah masih hidup dengan kebudayaan yang sangat sederhana. Mereka masih berpindah-pindah (nomaden), biasanya mereka hidup didalam gua yang dekat dengan aliran sungai agar mudah dalam berburu serta dekat dengan sumber air. Mereka masih hidup dengan kebudayaan yang sangat sederhana namun terus belajar sehingga menghasilkan kebudayaan yang sempurna. Berdasarkan ciri-ciri dan beberapa referensi yang didapati maka dapat diduga bahwa manusia yang di jumpai di hutan Aceh Timur tersebut ialah suku Mante (Manteu, Bahasa Aceh) yaitu bagian daripada Bangsa Melayu Tua salah satu daripada suku asli Aceh. Sama halnya dengan suku Asli yang terdapat di Semenanjung Malaysia seperti Proto- Malay, Senoi, dan Negrit. Mereka tidak ingin berbaur dengan masyarakat luar. Kita bisa membayangkan bagaimana kemajuan hasil kebudayaan mereka dengan membandingkan Indonesia sebelum kemerdekaan dengan Indonesia sekarang. Sangat banyak terjadi perubahan daripada alat yang digunakan dulu hingga sekarang. Boleh dikatakan bahwa kita hidup di zaman yang Modern mungkin nenek moyang kita tidak pernah berfikir adanya peralatan Elektronik seperti yang kita gunakan sekarang.

Ada beberapa bukti arkeologis sehingga dapat diyakini bahwa bangsa melayu tua hidup di gua-gua yaitu ditemukan Kapak Genggam atau Alat Repeh di semenanjung Malaysia. Artifak ini digunakan oleh manusia Prasejarah untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Sementara di Aceh tinggalan Arkeologis zaman prasejarah berupa tinggalan artifak bukit Kerang yang terdapat di Aceh Tamiang. Timbunan kerang ini telah berusia hampir 6080 tahun dan merupakan sampah dapur purba (kjoken mondinger), diduga migrasi manusia bangsa melayu tua dan melayu muda pernah singgah di tempat ini dan membentuk sebuah komunitas perkampungan. Tumpukan kerang sisa makanan manusia Prasejarah terdapat di sepanjang pantai Aceh Tamiang. Bukit kerang ini menjadi bukti penting keberadaan manusia Prasejarah di Aceh. Terkait jejak Mante (Manteu, Bahasa Aceh) di Aceh mesti ada penelitian lanjutan sehingga masyarakat mengetahui adanya suku Mante (Manteu, Bahasa Aceh) di Hutan Aceh. Sehingga terhindar dari gangguan pemburu dan masyarakat. Karena Aceh merupakan sebuah wilayah yang memiliki sejarah yang panjang. Serta banyak tinggalan Artifak yang mempunyai nilai yang tinggi untuk mengungkapkan Indentitas Bangsa Aceh. Sehingga memudahkan para peneliti untuk mengkaji asal usul Bangsa Aceh. Akhirnya kita hanya bisa berharap pada pemerintah agar suku paling awal yang mendiami Aceh ini di lindungi dan tidak di usik oleh masyarakat.

Referensi

Said, H. M. (1985). Aceh Sepanjang Abad Jilid Pertama Cetakan Kedua, PT. Percetakan dan Penerbitan Waspada, Medan.

Tjandrasasmita, U. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Kepustakaan Populer Gramedia

Zainuddin, H.M. (1961). Tarikh Atjeh dan Nusantara, Jilid I. Medan: Pustaka Iskandar Muda, irst print.

[Total: 5    Average: 5/5]