Pada tahun 2011 saya tiba di Kutaraja (Banda Aceh). Saat itu, Saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa Uin Ar-Araniry pada jurusan Syariah. Hari-hari pertama di Banda Aceh saya dibawa berkeliling kota Banda Aceh oleh abang saya Fakhrurrazi. Ia sudah lebih awal menginjakkan kakinya di pusat ibu kota kerajaan Aceh Darussalam. Salah satu situs yang saya kunjungi saat itu ialah taman sari Gunongan. Gunongan ini terletak di pusat kota Banda Aceh, tepatnya berada di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh. Bangunan ini merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Aceh Darussalam yang masih utuh dan bisa kita lihat sampai saat ini. Sebuah kebanggan bagi saya bisa melihat jejak kejayaan Aceh dahulu. Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Gunongan ini didirikan khusus untuk permaisurinya yang diboyong dari Johor. Penaklukkan Johor terjadi pada tahun 1615 dengan kekuatan ekpedisi Aceh 20.000 tentara. Gunongan berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan. Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Disebelah Gunongan terdapat Kandang Baginda. Bangunan kandang ini merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makam Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda dan istri Sultanah Tajul Alam saifiatuddin (1641-1670). Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 cm dan lebar 18 m. Buku Bustanussalatin menceritakan nisan Sultan Iskandar Tsani dibuat dengan upacara yang sangat mewah bahkan didilapisi dengan emas. Namun ketika saya sampai disana tidak ada tanda-tanda kemewahan. Mungkin penjajah Belanda telah mengusiknya.

[Total: 1    Average: 5/5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here