Gampong Pande adalah salah satu desa yang ada di Banda Aceh. Sekilas tidak terlihat apa-apa di sana, namun bagi sejarawan Kampung Pande menyimpan begitu banyak cerita. Katanya di sinilah awal mula kerajaan Aceh Darussalam bermula. Gampong Pande menyimpan begitu banyak artefak dan benda peninggalan sejarah seperti Piring, Cawan Kuno, keramik, Ciling, nisan berukir, bahkan mata uang emas kuno juga ditemukan di sana. Pada penghujung tahun 2013 warga Banda Aceh dikejutkan dengan temuan ratusan keping koin emas dirham yang digunakan kerajaan Aceh Darussalam. Saat itu warga berbondong-bondong mencari koin peninggalan kerajaan Aceh di dalam lumpur, Kampung Pande. Mengapa begitu banyak benda-benda bersejarah di sana? Apa sebenarnya yang berlaku di Gampong Pande? Mungkin ini menarik untuk diceritakan kembali.

nisan kerajaan aceh darussalam di komplek makam tuan di kandang Kampung Pande
nisan kerajaan aceh darussalam di komplek makam tuan di kandang Kampung Pande

Gampong Pande merupakan salah satu desa tertua yang terletak di pesisir kota Banda Aceh. Daerah tersebut pusat berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa kerajaan Aceh Darussalam Kampung Pande telah dijadikan sebagai tempat perindustrian (Industry State). Mengenai perindustrian pada masa Kerajaan Aceh Darussalam telah banyak diceritakan para penjelajah Eropa yang pernah singgah di Aceh. Saat itu Aceh tidak hanya mengembangkan industri rumah tangga namun di sana juga telah berkembang industri besar seperti Industri pembuatan Kapal Layar, Industri pembuatan alat Perang, industri pemahat batu berukir, dan industri tempahan emas dan sebagainya.

Gampong Pande Pusat Perindustrian Kerajaan Aceh

Ahli- ahli dalam bidang Industri di Aceh saat itu dinamakan “Pande” yang berarti orang pandai. Para ahli ini dibagi ke dalam beberapa kelompok seperti Pande Meuh (Pandai Emas) Pande Beuso (pandai besi), Pande Kayee (pandai kayu) Pande Batu (pandai batu) dan Pande Kapai (pandai kapal) mereka semua ditempatkan oleh sultan di Gampong Pande. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang raja yang diangkat langsung oleh Sultan dengan gelar yang berbeda-beda.

Dalam Bustanussalatin Ratu Tajul Alam Safiatuddin pernah memanggil raja Indera Busana pimpinan pemahat batu, beliau diperintahkan mengukir batu nisan marhum suaminya Sultan Iskandar Tsani, begini perintah yang mulia ratu Safiatuddin “Tatkala tujuh hari lamanya paduka marhum Dar-Assalam sudah mangkat, maka paduka seri Sultan Tajul Alam Saifiatuddin Syah berdaulad zil Allah fil alam pun memberi titah kepada penghulu Sida Ngadap bergelar Raja Udahna Lela “Panggilkan kita kejuruan Batu, Raja Indera Busana ! Maka raja Indera busana datang. Maka sabda yang mulia “kamu perbuat daku raja nisyan marhum Dar-Salam tujuh persegi, demikianlah diperbuatnya! Bahawa kehendak hatiku yang belumlah diperbuat raja-raja yang terdahulu kala. Maka diperbuatlah raja nisyan itu dengan kesudahan pengetahuannya, tiada lagi berslahan seperti seperti sabda yang mulia itu. Maka sabda Hadarat yang mulia kepada kejuruan pandai emas dan kejuruan pandai suasa “Kamu salup raja Nisyan itu dengan emas berpermata, jangan bersalahan dengan pahat batu itu dan tatahkan dengan ratna mutu manikam! Maka beberapa daripada permata yang besar-besar harganya daripada jenis pudi, dan yakut dan pirusmdan zanrud dan baiduri dan intan dan manikam yang tiada terhargakan dikenakan pada raja nisyan itu. Maka Raja setia, dan Raja Indera segera dan seri segera dan segala pandai emas bekerjalah seperti sabda yang maha mulia”.

Dari catatan di atas maka diketahui Aceh dulunya merupakan sebuah negeri yang kaya, buktinya nisan saja dilapisi dengan emas dan permata. John Anderson seorang penjelajah Eropa pada tahun 1823 M mencatat dalam bukunya berjudul Acheen ia menulis, orang Aceh bukan hanya mahir dalam pelayaran namun mereka juga dikenal pembuat kapal dari hasil industrinya sendiri. Mereka telah berhasil membuat kapal dagang maupun kapal perang yang amat besar. Pekerjaan itu dilaksanakan di pusat industri Kampung Pande. Sementara itu para pandai besi mampu membuat segala jenis barang dari besi termasuk barang-barang besar seperti pisau, keris, ujung tombak dan senjata-senjata lainnya. Agustin De Beaulieu yang tiba di Aceh tahun 1621 M menyatakan sangat sulit rasanya menemukan barang-barang seperti itu dengan kualitas lebih baik ditempat lain. di sana ada juga para pelebur artileri yang melebur berbagai macam peralatan dari tembaga seperti lilin, lampu dan mangkuk. Mereka juga berpengalaman dalam menggunakan mesin bubut untuk memotong tembaga dan kayu. Saat itu, Sultan Iskandar Muda sendiri mempunyai tiga ratus pandai besi yang di tempatkan di Gampong Pande.

Aceh saat itu juga memproduksi bahan-bahan pakaian dari kapas, bahkan dari sutera sehingga kain sutera Aceh sangat Indah dan mahal. Anderson mengakui industri sutera Aceh sangat terkenal dan maju sehingga kain sutera Aceh tidak hanya dipakai dalam negeri namun telah di ekspor ke berbagai negeri. Selain itu pertambangan emas, tambang minyak tanah dan permata juga telah dibuka semenjak awal berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Begitu hebatnya Aceh dimasa lampau dengan pusat Industrinya di Kampung Pande, lalu bagaimana kondisi Kampung Pande sekarang??? Wallahualam, semoga bermanfaat.

[Total: 4    Average: 5/5]