Armada Turki Dalam Pasukan Aceh Saat Menyerang Portugis Di Selat Malaka

Hubungan diplomatik Aceh dengan Turki telah berlangsung sejak lama, yaitu sejak era Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Turki Usmani. Dalam catat sejarah tercatat bahwa hubungan Kerajaan Aceh dengan Turki Usmani lebih besar pada bidang militer. Awal hubungan ini terjalin karena munculnya Portugis di Selat Malaka yang ingin menguasai seluruh perdagangan di wilayah tersebut dan menjadikan daerah sekitarnya sebagai jajahannya. Keberhasilan Portugis menguasai Melaka pada tahun 1511 M telah membawa suasana baru bagi penduduk di sana, terutama dalam bidang politik, ekonomi dan agama. Namun demikian, kedudukan Portugis di Melaka sering mendapatkan serangan dari sejumlah kerajaan Islam di sekitarnya, terutama Kerajaan Aceh Darussalam yang sangat merasa terganggu dengan keberadaan Portugis. Kesultanan Aceh tidak hanya menurunkan armana perang kerajaannya untuk menyerang Portugis, namun juga bekerja sama dengan Kerajaan Islam lainnya di Nusantara. Selain itu, Kerajaan Aceh juga menjalin kerja sama dengan kerajaan Islam besar dunia kala itu, yaitu Kerajaan Turki Usmani.

Kapal Aceh Mengepung Melaka pada abad ke-16

Ilustrasi Kapal Aceh Mengepung Melaka pada abad ke-16

Sebagaimana diketahui Kedudukan Selat Malaka sangatlah strategis. Selat Malaka merupakan satu-satunya jalur lalulintas yang menghubungkan dunia Barat dengan dunia Timur. Bagi mereka yang menggunakan transportasi laut, baik dari arah belahan dunia Timur maupun sebaliknya pasti melalui Selat Malaka. Daerah yang terletak di kawasan perairan selat Malaka banyak dikunjungi oleh pendatang dari belahan dunia lain seperti Cina, India, Afrika, dan Timur Tengah. Nama Selat Malaka semakin masyhur ketika dilewati dan tercatat dalam buku catatan penjelajah-penjelajah besar dunia, seperti Marcopolo, Ibnu Batutah, dan Laksamana Cheng Ho. Oleh karenanya ia memegang peran penting dalam pelayaran serta perniagaan dunia.

Baca Juga : LAMURI DALAM CATATAN LAKSAMANA CHENG HO

Baiqhttp://historynusantara.com/lamuri-dalam-catatan-laksamana-cheng-ho/uni Hasbi (2014) menyatakan bantuan Kerajaan Turki Usmani secara tidak resmi pertama sekali diberikan kepada Kerajaan Aceh diperkirakan tahun 1540 M sebagaimana yang di catat oleh Pinto.  Bantuan tentara Turki dianggap sangat efektif oleh sultan Aceh, hingga kemudian di masa selanjutnya Aceh memohon bantuan tentara kepada Turki usmani. Sultan Turki Usmani yang diperintah oleh Sultan Sulayman menanggapai permintaan sultan Aceh dengan hanya mengirim seorang pegawai istana dan delapan ahli meriam. Keberadaan para utusan ini tercatat dalam surat Sultan Al-Kahhar pada ekspedisi yang kedua, yaitu tahun 1566 M.

Pada tanggal 21 September 1561 Sultan Selim II mengeluarkan dekrit sultan (Nisan-I Hümâyun). Dekrit sultan tersebut berisi tentang pemberian bantuan kepada Kerajaan Aceh, yaitu 15 galley dan 2 galleeon bersama perlengkapan lainnya kepada Aceh di bawah pimpinan Kurtoglu Hizir Reis. Selanjutnya pada tanggal 27 September 1567 Sultan Selim II juga mengeluarkan surat perintah kepada gubernur Mesir mengenai pengiriman beberapa ahli ke Aceh, diantaranya ialah pandai kayu (dülger), pandai besi (demirci), ahli dempul (nakkaş) dan lainnya. Perintah lainnya juga dikirimkan pada tanggal 22 januari 1568 M, yaitu mengenai penambahan 4 buah galley untuk dikirimkan ke Kerajaan Aceh. Sehingga total bantuan kapal yang dikrim oleh Sultan Turki Usmani ke Kerajaan Aceh ialah 19 galley dan 2 galleon, namun tidak semua kapal tersebut sampai ke Aceh karena ada sebagain yang dialaihkan untuk menghentikan pemberontakan di Yaman. Diperkirakan hanya satu atau dua saja kapal yang sampai ke Aceh, karena saat Kerajaan Aceh menyerang Melaka pada tahun 1568 pasukan Aceh terdiri 15 ribu pasukan, 400 pasukan elit Usmani dan 20 meriam perunggu (Baiquni, 2014: 76).

Tercatat dalam abad ke-16 M di dunia telah lahir lima kerajaan Islam besar dengan kemajuan peradabannya, yaitu kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara, kerajaan Islam Turki Usmani di Asia Kecil, kerajaan Islam Isfahan dan Agra di Anak Benua India, dan kerajaan Islam Aceh Darussalam di Asia Tenggara. Sudah sepatutnya antar kerajaan Islam dengan penduduknya muslim –seperti Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kerajaan Turki Usmani– saling membantu, terutama jika ada bangsa asing non-muslim yang mengganggu keamanan dan ketentraman wilayahnya. Meskipun jarak keduanya sangat jauh, Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kerajaan Turki Usmani mampu menjalin hubungan yang erat dan baik.

[Total: 2    Average: 5/5]

About The Author

Related Posts