Pada hari Sabtu 11 Mei 2013 saya dan beberapa mahasiswa sejarah berkunjung ke rumah Abdullah Makam yang terletak di Gampong Limoe masjid Indra Puri, Aceh Besar. Masyarakat sekitar sering memanggilnya Chik Lah. Beliau merupakan satu-satunya mantan tentara Heiho dan DI/TII yang masih hidup di Aceh saat itu. Tentara Heiho ialah sebuah pasukan yang dibentuk pada tahun 1943 oleh tentara Jepang di Indonesia pada masa perang dunia ke II. Sekitar pukul 14:00 WIB kami berangkat dari Darussalam, Banda Aceh menuju ke kediaman beliau. Cuaca hari itu agak mendung disertai hujan ringan namun akhirnya kami pun tiba di tempat tujuan. Setibanya kami di rumah beliau kami disambut dengan baik oleh keluarganya. Chiek Lah masih terlihat sehat walaupun usianya sudah menginjak 89 tahun saat itu. Kami menjelaskan tujuan kami datang ialah untuk bersilaturahmi dan ingin mengetahui sejarah perjuangan beliau saat menjadi tentara Heiho. Beliau mulai bercerita tentang dirinya dan awal mula pendaratan Jepang di Aceh.

Abdullah Makam lahir pada tahun 1925 ia hanya mengenyam pendidikan SR (sekolah rakyat) Seulimuem, Aceh Besar. Beliau menghabiskan waktu remaja di Gampong limoe dengan kawan-kawan sebaya. Pada tahun 1942 Jepang mendarat di Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan Jepang ke Aceh disambut baik oleh para kaum ulama Aceh yang tergabung dalam Persatuan Ulama seluru Aceh (PUSA). Bahkan untuk mengusir Belanda di Aceh mereka mengirim utusan untuk menjemput tentara jepang di Pulau Pinang, Malaysia.  Tentara Jepang masuk ke kota Banda Aceh dengan mengendarai sepada. Mereka menyerang markas Belanda yang terletak di bukit Seulimuem, Aceh Besar. Saat itu terjadi pertempuran selama 14 hari antara Belanda dan Jepang. Pada akhirnya pertempuran tersebut dimenangkan Jepang sehingga mereka berhasil merebut benteng Seulimum dari Belanda. Pengusiran Belanda di Aceh berlanjut hingga ke beberapa wilayah Aceh lainnya.

Setelah Aceh dikuasai Jepang, Pada tahun 1943 mereka merekrut pemuda-pemuda Aceh untuk membantu tentara Jepang dalam perang Pasifik. Saat itulah awal mula keterlibatan Chiek Lah dalam militer. Beliau menjadi salah satu pemuda yang dipaksa untuk bergabung dalam tentara Heiho.  Beliau dibawa ke Seulimum, Aceh Besar untuk mengikuti tes kesehatan serta mengikuti beberapa latihan dasar militer di Kompi Seulimum, Aceh Besar. Setelah mengikuti berbagai macam latihan beliau dan beberapa kawan lainnya ditempatkan di bukit Seulimuen, Aceh Besar untuk menjaga gudang senjata dan tempat penyimpanan bahan makanan tentara Jepang. Selain itu ia juga pernah ditempatkan di Kompi Ulee Lheeu, Banda Aceh sebagai penembak pesawat Sekutu yang melintas. “Kami pernah menembak sebuah pesawat tentara sekutu dan jatuh di Pulau  Breuh. Kami berhasil menangkap tiga awak kapal berkebangsaan Inggris yang masih selamat dan membawanya ke Banda Aceh. Kemudian  tawanan tersebut di pertontonkan kepada masyarakat Aceh.” Beberapa kawan beliau ada juga yang ditugaskan untuk membantu tentara Jepang dalam perang pasifik di Srilanka. Mereka kemungkinan sudah meninggal dalam perang pasifik tersebut. Beliau sangat bersyukur karena tidak terlibat dalam perang Pasifik. Padahal ia dan beberapa tentara Heiho lainnya sudah dipersiapkan untuk berangkat ke kelumbu ( Srilanka) tetapi nasib baik masih berpihak padanya. Saat itu jepang lebih awal takluk kepada sekutu akibat bom atom yang dijatuhkan di kota Hirosima dan Nagasaki.

“Kami pernah menembak sebuah pesawat tentara sekutu dan jatuh di Pulau  Breuh. Kami berhasil menangkap tiga awak kapal berkebangsaan Inggris yang masih selamat dan membawanya ke Banda Aceh. Kemudian  tawanan tersebut di pertontonkan kepada masyarakat Aceh.”

Setelah jepang menyerah dari sekutu pada tahun 1945 panglima kompi saat itu meminta kepada semua mantan tentara Heiho kembali mengangkat senjata untuk berperang melawan pasukan Teuku Daud Cumbok yang sudah menguasai kota Sigli. Sebagaimana yang kita ketahui perang cumbok pecah antara kalangan ulama (teungku) para pendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) melawan kubu Uleebalang (teuku) yang lebih memilih kekuasaan Belanda. Perang Cumbok dimulai 2 Desember 1945 dan baru berakhir pada 16 Januari 1946. Chiek lah menjelaskan pasukannya saat itu membawa 150 pucuk senjata dan 3 meriam yang diambil dari markas Jepang yang sudah ditinggalkan. Perang cumbok awalnya dimenangkan oleh kaum Bangsawan. Ketika mereka tiba di Sigli mereka sudah disambut pasukan Daud Cumbok. Pertempuran berlangsung berhari-hari dan begitu hebat namun akhirnya pasukan Daud Beureueh dapat memukul mundur Teuku Daud Cumbok serta pengikutnya di Kota Bakti. Satu hal yang menarik dalam pertempuran itu, strategi memakai kain putih yang diikatkan di kepala oleh Pasukan Daud Bereueh juga dilakukan oleh pasukan Teuku Daud Cumbok sehingga hampir tidak diketahui yang mana kawan dan lawan dalam pertempuran tersebut.

Setelah berakhirnya perang Cumbok, Chiek Lah kembali dipanggil Daud Beureueh untuk mengusir Belanda dalam pertempuran Medan Area. Pertempuran medan Area terjadi pada tahun tahun 1946. Di bawah komando Daud Beureueh beliau berangkat ke medan untuk memerangi tentara sekutu (NICA) yang ingin masuk ke Aceh. Saat itu Aceh merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang belum di kuasai sekutu. Aceh masih menjadi wilayah yang ditakuti Belanda mungkin karena pengalaman perang yang sangat pahit yang berlangsung selama 60 tahun di Aceh. Pertempuran medan Area sangat membekas dalam perjuangannya beliau, lebih kurang selama 8 bulan bertahan dalam pertempuran dengan makanan seadanya. Pasukannya membuat kurok-kurok atau sejenis lubang berbentuk persegi yang di timbun dengan tanah di atasnya kemudian ditanami dengan berbagai macam tanaman seperti singkong, pepaya dan sebagainya. Fungsinya sama seperti bungker yaitu untuk berlindung dari serangan pesawat tempur tentara sekutu. Pertempuran Medan Area terhenti sejenak karena pihak sekutu dan Indonesia (Sukarno) membuat perjanjian yang di prakarsai oleh Komisi Tiga Negara (KTN). Perjanjian tersebut melahirkan perjanjian garis reformasi dan berlakunya gencatan senjata antara kedua belah pihak (Indonesia dan Belanda). Namun perjanjian tersebut hanya berlangsung satu bulan, tentara sekutu menyerang kembali pada bulan Ramadhan sehingga banyak kawan-kawan beliau yang gugur dalam pertempuran tersebut. Akhirnya pasukan Aceh harus menarik pasukan untuk mundur dari Medan Area. Chiek lah dan beberapa pasukan lainnya yang selamat harus berjalan kaki untuk bisa pulang ke Aceh melintasi hutan Takengon hingga tiba di Aceh Besar. perjalanan tersebut membutuhkan waktu lebih kurang sebulan lamanya.

Pada tahun 1953 Tgk Daud Bereu’eh membentuk tentara Islam Indonesia atau yang lebih dikenal DI/TII karena kecewa terhadap Soekarno. Saat itu Sukarno berjanji kepada Daud Beureueh untuk menjadikan Aceh sebagai sebuah wilayah otonomi yang boleh mengatur wilayahnya sendiri sesuai syariat Islam. Pada tanggal 14 Agustus 1950 Muhammad Hatta datang ke Aceh untuk menjelaskan bahwa Syariat Islam tidak sesuai dengan NKRI saat itu Daud Beureueh murka dan menyatakan Maka dengan ini, atas nama seluruh rakyat Aceh, saya serahkan mandat sepenuhnya kepada Bung Hatta untuk membubarkan Provinsi otonomi Aceh kapan saja, bahkan malam ini juga! Tetapi jika itu terjadi, kami akan membangun negara dengan cara kami sendiri!” 

Bahkan saat itu Soekarno meleburkan Provinsi Aceh ke dalam Sumatera Utara, hal inilah yang menyebabkan Daud Beureueh membentuk tentara Islam. Chiek Lah saat itu bergabung dalam tentara Islam Indonesia di bawah komando Daud Beureueh. Perlawanan Chik lah dan Daud Beureueh saat itu sangat lemah karena mereka tidak mempunyai perlengkapan berperang sehingga dapat diatasi dengan cepat oleh Soekarno. Chiek lah terlebih dahulu menyerah karena sudah tidak sanggup lagi berperang, berbeda halnya dengan  Dau Bereueh yang tetap melanjutkan perang gerilya di hutan, namun pada akhirnya Kolonel Muhammad Yasin dapat membujuk Daud Beureueh untuk menyerah. Setelah menyerah, Chiek Lah pensiun sebagai tentara pejuang kemerdekaan dan kembali melanjutkan hidup bersama keluarga di Gampong Limoe, Mesjid Indra Puri, Aceh Besar dengan tunjangan pensiun seadanya. Pada tahun 2016 saya mendapat kabar duka beliau sudah meninggal. Semoga arwah beliau ditempatkan bersama para syuhada. amin. Semoga bermanfaat.

[Total: 4    Average: 4/5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here